Tampilkan postingan dengan label Khas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2010

Riuh Rendah Tarawih Hari Pertama di Masjid Nabawi

Kamis, 12 Agustus 2010, 21:23 WIB
Tommy Tamtomo/Republika
Masjid Nabawi

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH--Tak lama usai diumumkannya 1 Ramadhan 1431 H yang jatuh pada 11 Agustus 2010, Masjid Nabawi di Madinah diserbu jamaah yang ingin melaksanakan shalat tarawih berjamaah yang pertama di bulan Ramadhan tahun ini. Berangkat dari hal itu, pemerintah Arab Saudi berencana untuk memperbaiki fasilitas dan kualitas dari layanan.

Muhammad Al-Bejawi, Direktur dari Kementerian Haji Arab Sauid di Madinah mengatakan pihaknya berjanji akan terus memobilisasi pelayanan jamaah yang datang ke masjid Nabawi. "Kami telah memberikan pelatihan kepada staf guna memperbaiki standar pelayanan," ungkapnya seperti dikuti dari lama Saudi Gazzette, Kamis, (11/8).

Sebagai informasi, dari data statistik terakhir, semenjak awal musim umrah hinngga rabu kemarin, jumlah jamaah yang datang mencapai 525.567 jiwa dengan jumlah penerbangan 2.564 atau 56 penerbangan dalam sehari. Abdul Fatah Bin Muhammad Atta, Director of Madina Airport mengatakan perbaikan bandara telah dilakukan sehingga dapat terhindar dari keramaian.

Red: irf
Rep: Agung Sasongko

Pameungpeuk, Pantai Sepi di Jawa Barat

GarutOnline.com

"Pantai Pameungpeuk, di mana ya?" Begitu pertanyaan yang kemudian menjadi awal cerita panjang bersama rekan-rekan saya beberapa waktu lalu, saat mengajak mereka untuk melakukan perjalanan menuju Pantai Pameungpeuk.

Berbeda dengan pantai-pantai lainnya di Jawa Barat yang lebih terkenal dan ramai, Pameungpeuk hanya berupa kota kecil di selatan Garut dan bisa menjadi alternatif menarik untuk berpetualang. Apabila masih ada tersisa pantai versi 1980-an yang masih sepi dan asri maka salah satunya adalah pantai ini.

Untuk mencapai Pantai Pameungpeuk, pertama kita harus menuju Kota Garut. Terdapat dua jalur bus dari Jakarta menuju Garut, yaitu dengan melalui tol Cipularang dan Ciawi (Bogor). Perkiraan waktu perjalanan menuju Garut adalah sekitar enam jam dari Jakarta.

Saya, yang mendapatkan info dari teman lain bahwa angkutan tersedia 24 jam dan berniat melakukan perjalanan malam, harus rela menunggu sambil menahan dingin dari pukul 1.00 WIB sampai 5.30 WIB di Ciawi.

Menurut calo, jam terakhir bis berangkat adalah pukul 23.00 WIB, sedangkan yang paling awal adalah pukul 5.30 WIB, sudah berubah dari jadwal 24 jam dikarenakan pembatasan armada bis.

Sampai terminal bus Garut siang hari, perjalanan diteruskan dengan minibus atau Elf. Jarak sepanjang 87 kilometer dapat ditempuh selama 3,5-4 jam melewati jalan pegunungan, perkebunan karet, teh, dan hamparan padi. Jalan yang berkelok-kelok diselingi udara sejuk pegunungan dan pemandangan yang sangat indah membuat sulit rasanya menutup mata selama perjalanan.

Daerah ini dikelilingi Gunung Guntur, Galunggung, Papandayan, dan Cikuray sehingga selama perjalanan kita bisa menebak-nebak Gunung manakah yang tampak di kejauhan.

Kendaraan akan mengantar kita sampai Pantai Santolo atau Pantai Sayangheulang, dua objek wisata utama di Pameungpeuk.

Terdapat banyak penginapan di sini, dari kelas low budget sampai high end, dari sewa kamar sampai pondokan, dan dimulai dengan biaya terendah Rp 30.000/kamar (1 kasur, dan tikar).

Kami sendiri memutuskan untuk mendirikan tenda di pinggir warung di tepi pantai dengan meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik. Cukup dengan berbelanja dan biaya kamar mandi, pengeluaran kami yang berprinsip low budget dapat diturunkan lagi.

Masakan ikan,udang, cumi bakar disediakan oleh warung-warung sederhana sepanjang pantai. Silakan juga mencoba dan menikmati masakan mata lembu, yaitu sejenis siput laut yang merupakan masakan khas Pameungpeuk.

Rasanya gurih dengan tekstur agak kenyal, dan dapat dimasak dengan beberapa pilihan bumbu. Saru kilogram mata lembu plus masak dibandrol dengan harga Rp 20.000.

Apabila pengunjung menginginkan ikan, cumi, udang, atau lobster segar silakan mengunjungi pasar sekaligus pelelangan ikan di Pantai Santolo pada pagi hari. Pemilik warung bersedia membakar, dengan biaya tambahan sebesar Rp 15.000 tanpa tambahan nasi.

**

Dari Pantai Santolo menuju Pantai Sayangheulang (2 km), kami singgah di Pulau Santolo, yang terpisah dari pantainya oleh sungai dan pasang laut. Menyeberang dengan perahu menuju Pulau Santolo membutuhkan biaya sekitar Rp 2.000/orang.

Pulau seluas 40 hektare ini sudah dilengkapi fasilitas wisata sederhana. Di sini kami sempat beristirahat dan membakar cumi segar yang sudah kami beli di Tempat Pelelangan Ikan Santolo sebelumnya.

Pemilik warung tidak berkeberatan meminjamkan tungku masaknya kepada kami, dan sebagai tambahan, pondokan di tepi pantai dapat dipakai pengunjung untuk bersantai dan mencicipi makanan. "Hmm… cumi bakar kami terasa lebih manis". Ikan segar katanya memang terasa lebih manis.

Untuk petualang yang ingin menginap di pulau, penginapan sederhana sebenarnya tersedia di pulau ini, hanya ada sedikit permasalahan air segar dan kelistrikan, sehingga sebaiknya sebelum malam tiba persediaan dan peralatan dilengkapi terlebih dahulu.

Kehidupan laut yang dapat dijumpai di sekitar pulau cukup menarik, apalagi bila membawa anak-anak. Dengan mudah kita dapat menjumpai biota laut seperti ikan, udang yang berseliweran di antara karang.

Keanekaragaman hayati yang terkandung juga meliputi jenis kerang, siput, coelenterata sampai lamun (rumput laut) dan ganggang laut. Snorkling dimungkinkan di bagian-bagian tertentu, hanya peralatan sebaiknya dibawa sendiri. Ingatlah juga untuk memakai sandal jepit saat berjalan-jalan di daerah karang.

Pantai Santolo juga identik sebagai lokasi surfing. Di arah barat, yang tidak terlindung Pulau dan karang ombak setinggi 2-3 meter bergulung membentuk 3-4 lapisan. Pada bulan April sampai Juni, daerah ini dikunjungi turis-turis asing untuk berselancar. Sepertinya berita dari mulut ke mulut antarpara peselancar mengundang mereka datang.

Apabila dilanjutkan, kira-kira 9 kilometer arah barat Pameungpeuk kita juga dapat belajar melihat kehidupan sehari-hari nelayan di Cikelet. Pantai Cijayana yang disukai sebagai lokasi berenang serta Pantai Rancabuaya terletak lebih jauh ke barat.

Objek lain yang dapat dikunjungi adalah hutan Leuweung Sancang, 35 kilometer ke arah timur dari Pameungpeuk. Tempat ini dahulu dipercaya sebagai pusat dari kerajaan Sunda kuno, dan penuh dengan mistis. Pengunjung dapat mencapainya dengan bis ke Milimeru, dan melanjutkannya dengan ojek menuju lokasi.

Terdapat trek di dalam hutan yang dapat dijalani para petualang untuk menjumpai banteng dan owa, hewan khas daerah ini. Izin didapatkan lewat Kantor PHKA di Pameungpeuk ataupun di gerbang masuk lokasi.

Rasanya untuk lokasi yang masih bisa dijangkau dari Jakarta dan Bandung, Pantai Pameungpeuk yang sepi sangat berharga untuk dikunjungi. Pantai cantik ini menyajikan kehidupan pantai, laut dan hutan dalam satu paket perjalanan yang berbeda dari pantai-pantai lainnya di Jawa Barat. (Indra N. Hatasura )***

Pikiran Rakyat

Kamis, 04 Februari 2010

Martabak Sarang Semut

Beda Rasa Beda Tepung
Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Setiap jenis martabak dari yang manis hingga yang asin di Martabak Sarang Semut memiliki bahan dasar yang berbeda terutama dari penggunaan tepung.

Menurut Merawati Lim, pemilik Martabak Sarang Semut, produk ini merupakan franchise dari Jakarta. Semua bahan bakunya diracik khusus kecuali untuk bahan topping.

"Tepungnya beda. Kita punya tiga tepung khusus yaitu untuk martabak manis, martabak asin dan martabak brownies," ujar Merawati yang akrab disapa Mei ini.

Menurut Mei, racikan tepung khusus inilah yang membuat martabak jadi berongga saat dimasak. Saat diadon, tepung dicampur dengan air, telur, margarin cair, dan sirup khusus untuk penguat rasa martabak.

Adonan dimasukan dalam loyang mini berdiameter 10 sentimeter. Saat kondisi setengah matang masukan topping lalu bakar kembali hingga matang. Setelah matang dibubuhkan kembali topping.

Selain bisa makan di tempat, konsumen juga bisa take away. Karena menurut Mei kebanyakan konsumen saat ini memilih untuk take away.
(ema/tya)

Kamis, 05 Juni 2008

Cihampelas Yang Harus Tetap Khas


KOMPAS/ADITYA FITRIANTO
Ruang berjalan kaki dan pertunjukan di CiWalk: strategi menghidupkan suasana.





KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Bangunan depan Cihampelas Walk, Bandung. Walaupun terletak di Cihampelas, pengunjung merasa tidak berada di tempat tersebut.





Serombongan gadis muda yang tengah berwisata duduk berderet di kedai makanan di Jalan Banda, Kota Bandung. Seorang di antaranya berambut panjang. "Yuk jalan-jalan ke Cihampelas. Masak, liburan di Bandung enggak ke Cihampelas," ujar si rambut panjang riang sambil beranjak memberikan ajakan.

Kota Bandung sangat identik dengan Kawasan Cihampelas. Berdasarkan legenda, sebutan Cihampelas berasal dari nama kolam pemandian yang terletak di sisi jalan kecil Cihampelas, yaitu Jalan Taman Hewan. Kata Cihampelas konon berasal dari nama pohon Hampelas yang pada saat pembuatan kolam tahun 1904 banyak tumbuh di sekitar kolam.

Pencitraan Cihampelas sebagai pusat perbelanjaan busana mulai berlangsung sejak 28 tahun lalu. Pada tahun 1980, Kawasan pertokoan Cihampelas terkenal dengan produk khasnya , yaitu pakaian berbahan kain denim atau sering disebut jeans.

Kekhasan Cihampelas dengan jeans mulai melegenda bersamaan dengan ramainya Kawasan Cibaduyut sebagai sentra produksi sepatu. Kekhususan dua tempat ini dengan produknya jeans dan sepatu menjadikan sejumlah wisatawan kurang merasa afdol jika belum bertandang.

Seiring berkembangnya sejumlah factory outlet atau FO pada tahun 2000 yang banyak menawarkan pakaian jadi sisa ekspor, kawasan pertokoan Cihampelas ikut menghanyutkan diri dengan menamai diri menjadi FO. Waktu itu, keramaian jalanan Cihampelas sempat terpecah karena banyaknya FO yang bertebaran di penjuru Kota Bandung.

Setelah FO bermunculan, pertokoan Cihampelas mulai beralih dari fokus pakaian jeans ke jenis pakaian lain, entah celana, jaket, kemeja, topi, hingga tas. "Kami mulai melengkapi diri," kata General Manajer Korek Api Jeans Group, Soenyali Soly, Selasa (4/6) di Bandung.

Untuk mendongkrak minat pengunjung, PT korek Api Guna Mandiri yang mengelola 16 buah toko di sepanjang Jalan Cihampelas memilih trik menempelkan nama-nama tokoh komik legendaris. Personifikasi tokoh-tokoh komik legendaris luar negeri tersebut bahkan diekspose secara berlebih dalam bentuk patung-patung raksasa, entah itu Batman, Superman, Spiderman, Tarzan, Cat Woman hingga yang terbaru Ironman.

"Kami memang sengaja memilih nama-nama tokoh yang abadi dan menampilkannya secara mencolok agar pengunjung terkesan. Jika produk kami ditampilkan begitu saja, mungkin dagangan kami tak ada bedanya dengan toko-toko lainnya," ungkap Soly.

Menangkap prospek bisnis di Kawasan Cihampelas, Tahun 2004, PT Karya Abadi Samarga akhirnya membangun mal berciri open air concept dengan nama Cihampelas Walk atau Ciwalk. Pusat perbelanjaan yang dibangun di atas bekas pabrik daging PT Mantrus pada era penjajahan Belanda tersebut berusaha menampilkan diri sebagai mal yang asri.Tak heran, beberapa pohon berukuran besar tetap dibiarkan berdiri kokoh di sekitar kawasan mal dan bahkan ditambah dengan sejumlah pohon baru sebagai peneduh.

"Konsep Ciwalk disesuaikan dengan situasi Kota Bandung yang sejuk dan asri. Wisatawan entah dari Jakarta atau daerah lain barangkali sudah terbiasa berkunjung ke mal. Karena itu, mal Ciwalk menawarkan suasana yang Bandung banget," kata General Manajer Ciwalk Chairiah.

Sebagai mal berkonsep terbuka, pengunjung dapat bebas berjalan-jalan menikmati suasana dan menghirup udara segar sembari berbelanja. Bermacam-macam restoran ditampilkan dengan kursi pengunjung berada di luar ruangan. Sementara, pengunjung yang tak berbelanja pun dapat duduk santai di kursi-kursi pelataran mal.

Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati bermacam-macam hiburan, seperti billiar, karaoke, bioskop, hingga talent box dimana orang bisa bernyanyi sepuas mungkin kemudian merekam sendiri suara dan aksinya dalam bentuk kepingan compact disk.

Kehadiran Ciwalk semakin menambah ke gairahan Kawasan Cihampelas. Di hari biasa, sekitar 3.000 mobil singgah di Ciwalk dan bahkan pada akhir pekan 7.000 mobil silih berganti memasuki mal tersebut. Tak heran, jalanan di sepanjang Cihampelas selalu dipadati kendaraan bermotor.

Karena potensi bisnis wisata yang menjanjikan, Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Kawasan Cihampelas menjadi salah satu bagian dari lima kawasan revitalisasi wisata. Empat kawasan wisata Kota Bandung lainnya adalah Cibaduyut dengan produ k sepatunya, Suci dengan produk kaos, Cigondewah dengan produk kain, dan Binong Jati dengan produks rajut.

Wiwin Fitriani, seorang wisatawan domestik asal Tangerang mengaku kerepotan ketika harus jalan dan menyeberang Jalan Cihampelas. "Mau jalan aja sulitnya minta ampun. Semua jalan habis dipakai mobil , sepeda motor, parkir, dan kaki lima," keluhnya.

Menurut Wiwin, Cihampelas telah banyak berubah dengan padatnya kendaraan bermotor , rusakknya jalan, serta udara yang mulai panas. Produk-produk yang ditawarkan di Cihampelas sebenarnya ada juga di tempat lain, seperti Tanah Abang dan Mangg a Dua. Bahkan, kadang barang-barang di sana jauh lebih bagus dan murah. Tetapi, orang banyak memilih tempat ini karena suasananya. Jadi, agar tetap mengesankan, Cihampelas harus tetap mempertahankan kekhasannya, tambahnya. (A01)