Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 September 2010

Jalan Cepat Cegah Kanker

Rabu, 1 September 2010 | 11:33 WIB

shutterstock

Kompas.com - Anda tidak perlu menjadi atlet atau berolahraga habis-habisan setiap hari untuk menghindari kanker. Melakukan jalan cepat atau brisk walk 45 menit setiap hari efektif untuk mencegah kanker payudara dan kanker usus.

Para pakar dari The World Cancer Research Fund menegaskan, seluruh aktivitas fisik dengan intensitas sedang, seperti kegiatan jalan cepat, yang mampu meningkatkan detak jantung efektif untuk mencegah penyakit kanker.

Menurut para ahli, yang tak kalah penting adalah total waktu dalam melakukan kegiatan fisik. Dengan kata lain, kita bebas menentukan berbagai kegiatan fisik selama dilakukan minimal 45 menit. Karena itu Anda boleh menggabungkan kegiatan berjalan kaki, bersepeda, berenang, menari, yang digabungkan dengan aktivitas berkebun atau membersihkan rumah.

"Makin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan aktif secara fisik sangat penting untuk mencegah kanker. Kendati begitu, Anda tidak perlu datang ke pusat kebugaran setiap hari. Kita bisa mengurangi risiko kanker dengan melakukan perubahan kecil dan sederhana, seperti melakukan jalan cepat setiap hari," kata Dr.Rachel Thompson, dari World Cancer Research Fund.

Penulis: AN | Editor: Lusia Kus Anna | Sumber :BBC

Senin, 01 Februari 2010

Suchao: Hatur Nuhun Bobotoh

Tadi pagi pukul 8, Suchao Nuchnum telah meninggalkan Bandung untuk kemudian pukul setengah satu nanti terbang dari cengkareng menuju negaranya, Thailand, dengan menggunakan pesawat Thai Airways. Perjalanan Indonesia – Thailand akan menghabisakan waktu sekitar tiga setengah jam.

Ia mengaku tadi malam diajak Ronggo keliling bandung dan makan sampai malam. Namun sampai subuh ia masih tidak dapat tidur di kamarnya.

“Saya baru dapat tidur jam setengah lima karena memikirkan kepulangan ini, saya senang akan kembali bertemu keluarga, namun juga saya sedih meninggalkan semua orang disini. Bobotoh Persib adalah yang terbaik, para pemain Persib juga semuanya baik-baik, official, Haji Umuh, juga pak Hasan dan bu Linda. Saya akan mengingat semuanya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Pada sela-sela perbincangan dengan wartawan, ia mengungkapkan sedikit rahasia tentang kepulangannya ke Thailand. “Saya akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 18 Februari depan dengan seorang gadis berusia 23 tahun yang mempunyai nama panggilan Sunny,” kata pria yang sempat salah menyebutkan angka dua menjadi satu ini.

Suchao pun mengharapkan tahun depan, ia bisa diijinkan klub dan manajernya disana untuk bisa kembali membela Persib Bandung pada jeda kompetisi lokal dengan status pinjaman dari klubnya. Bulan lalu, ia ditransfer dari TOT FC ke Buriram PEA FC dan telah menandatangani kontrak selama 3 tahun dengan klub barunya ini tanpa mau menyebutkan nilai kontraknya.

Tak lupa, ia pun membawa banyak cinderamata yang dibelinya sendiri ataupun oleh-oleh dari kerabat dan bobotoh, seperti wayang cepot, angklung, baju batik, dan yang hampir tertinggal adalah poster dirinya berukuran besar.

Beberapa official lalu mengantarkannya ke Jakarta, juga ikut Satoshi Otomo, pengganti Suchao, yang hari ini akan mengikuti tes fisik yang diwajibkan oleh PSSI selain menguruskan keperluan administrasi lainnya.


Berfoto dahulu bersama official


Meninggalkan bandung


Kesayangan bobotoh


Tahun depan balik lagi yah...


Bawa banyak oleh-oleh


Last good bye


Satoshi Otomo juga ikut tapi hanya sampai Jakarta

http://simamaung.com/2010/01/29/suchao-hatur-nuhun-bobotoh/

Rabu, 28 Mei 2008

'Austria Jawara Budaya, Bukan Sepakbola'

Kris Fathoni W - detikSport
Rabu, 28/05/2008 11:28 WIB



(ist)


Wina - Keikutsertaan Austria di Piala Eropa 2008 tak terlalu disarati ekspektasi penduduk lokal, karena menilai negaranya memang sudah dari sononya tak jago sepakbola. Beda halnya kalau bicara budaya.

Wina, ibukota Austria, terkenal dengan arsitekturnya yang bergaya bangunan berciri kerajaan, museum seni kelas dunia dan musik klasiknya yang sangat mendunia. Untuk urusan budaya, mereka bisa dibilang salah satu yang terkemuka di dunia.

Hal itu kontras dengan kemampuan Austria dalam urusan sepak-menyepak bola. Dengan rangking 101 dunia di peringkat FIFA, Alexander Manninger cs tak terlalu bikin gentar partisipan Euro 2008 yang segera akan dihelat Juni mendatang.

Sepakbola di Austria bahkan juga masih kalah prestisenya dibandingkan cabang olahraga-olahraga lain yang biasa dilakukan saat salju menggunung di negara tersebut. "Kami bukan negara sepakbola, kami negara olahraga musim dingin," tutur seorang pemilik toko di pusat kota Wina, Dariusz Hoefer (47 tahun), kepada Reuters, Rabu (28/5/2008).

Seorang mahasiswa Christian Hofstadler (21) menambahkan kalau warga Austria di Wina memang tak terlampau berharap banyak pada tim sepakbolanya. Alhasil, demam Piala Eropa 2008 pun sampai saat ini dinilainya tak juga berjangkit.

"Saya tak kenal seorang pun yang peduli tentang Euro 2008. Saya pikir yang harus disalahkan adalah timnas Austria karena secara sejarah mereka sangatlah lemah," tukas dia.

Soal sepakbola mereka boleh terlihat tak terlalu antusias, tapi beda kalau soal budaya. Meski sudah pasrah dengan raihan timnasnya, mereka yakin bisa bikin penggila bola dari mancanegara terkesan lewat pamer budaya.

"Kami sudah jadi juara budaya di Eropa. Mari kita sebut Swiss sebagai runner-up," lugas seorang penulis Reinhard Prenn seraya tersenyum lebar.

Austria dan Swiss adalah tuan rumah Piala Eropa yang akan berlangsung dari 7-29 Juni mendatang.

( krs / din )

Sabtu, 24 Mei 2008

Bonus Emas Olimpiade Rp 1 M

JAKARTA, (PR).-
Peraih medali emas Olimpade Beijing 2008 kembali akan mendapat bonus Rp 1 miliar, sedangkan untuk peraih perak dan perunggu, masih belum ditentukan berapa jumlah bonusnya. Disediakannya bonus tersebut diungkapkan Menegpora Adhyaksa Dault dan Ketua Umum KONI dan KOI, Rita Subowo, di depan para atlet yang akan berlaga di Olimpade Beijing, di Jakarta, Kamis (22/5).

"Sudah ada kesediaan dari Bapak Surya Darmadi, salah satu tim komunitas olah raga dari masyarakat yang akan memberikan bonus sebesar Rp 1 miliar bagi atlet peraih medali emas pertama Olimpiade," ujar Rita.

Khawatir akan ada kecemburuan dari atlet lainnya yang meraih medali emas kedua bagi Indonesia, Adhyaksa menambahkan, pemerintah akan memberikan bonus yang sama bagi peraih medali emas berikutnya.

"Jika untuk peraih medali emas pertama sudah ada yang menyiapkan, untuk emas berikutnya pemerintah akan menyiapkan bonus dengan jumlah yang sama. Jadi, semua atlet peraih medali emas akan menerima bonus Rp 1 miliar," ujar Adhyaksa.

Sementara untuk peraih medali perak dan perunggu, Adhyaksa juga telah menyiapkan bonus. "Untuk peraih perak dan perunggu pun sudah pasti akan mendapat bonus. Saat ini, masih belum ditentukan berapa jumlah besaran bonus untuk mereka," ujarnya.

Menghadapi Olimpiade nanti, Indonesia akan mengirimkan 23 atlet dari enam cabang olah raga, yaitu bulu tangkis 11 atlet, angkat besi (5), panahan (2), renang (2), atletik (2), dan layar (1).

Adhyaksa mengharapkan, tradisi meraih medali emas sejak Olimipade Barcelona 1992 bisa dipertahankan. "Meski hanya dengan kekuatan 23 atlet, target meraih medali emas harus bisa tercapai," ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Rita Subowo, kontingen Indonesia harus bisa mempertahankan tradisi meraih medali emas. "Kita akan berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia dengan meraih medali emas di olimpiade. Bonus yang telah disiapkan tersebut merupakan sebuah dorongan besar untuk mendukung para atlet berprestasi," katanya.

Rencananya para atlet ini akan berangkat ke Beijing, 27 Juli mendatang, sedangkan pembukaan Olimpiade dilakukan 8 Agustus. "Kami butuh waktu agak lama di sana untuk aklimatisasi cuaca di sana dan menyesuaikan dengan alat angkat besi yang berbeda. Ini sangat diperlukan bagi para atlet agar mereka nantinya terbiasa," ujar Manajer Angkat Besi, Syarizaldi Cut Ali. (A-105)***