Tampilkan postingan dengan label Citizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Citizen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Peringatan Hari Kartini: "Fashion Show", Memasak, Merias

Kediri

Penulis : Kontributor Kediri, M Agus Fauzul Hakim | Sabtu, 20 April 2013 | 12:50 WIB

 
Kompas.com/ M. Agus Fauzul Hakim
Para wanita pegawai negeri sipil di lingkup Pemkot Kediri, Jawa Timur, memperingati Hari Kartini dengan beberapa kegiatan, diantaranya fashion show, Sabtu (20/4/2013).  



KEDIRI, KOMPAS.com - Peringatan Hari Kartini, selalu diisi dengan berbagai gebyar kegiatan yang berulang setiap tahunnya. Seperti yang dilakukan oleh para perempuan pegawai negeri sipil maupun anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga di Pemerintahan Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/4/2013).

Ada empat kegiatan yang digelar, yaitu lomba menyajikan masakan, lomba baca puisi, lomba fashion show, serta lomba merias wajah dengan mata tertutup. Kegiatan yang berlangsung di Balai Kota Kediri di Jalan Basuki Rahmad itu juga diwarnai dengan nuansa batik dari pakaian yang mereka kenakan.

"Untuk melatih kreativitas. Di sini kita juga bisa melihat bagaimana ibu-ibu mampu merias dengan mata tertutup," kata Dahlia, ketua tim penggerak PKK.

Wali Kota Kediri, Samsul Azhar mengatakan, pihaknya sengaja menggelar bermacam kegiatan itu untuk menggelorakan semangat Kartini dalam kehidupan para perempuan di lingkup pemerintahannya. Semangat Kartini, menurutnya, harus terus dijaga untuk membentuk dinamisasi kehidupan.

"Dengan semangat Kartini, ibu-ibu itu akan terberdayakan," kata Wali Kota berlatar belakang profesi dokter ini.

Wali Kota menambahkan, mengacu semangat Kartini itu seharusnya membuat para wanita lebih kreatif lagi agar mampu mengangkat derajatnya. Dengan begitu, menurutnya tidak ada lagi kaum hawa yang mencari nafkah di negeri orang.

"Kartini-kartini Indonesia tidak perlu ke luar negeri karena di Indonesia ini masih banyak yang perlu dilakukan," imbuhnya.

Kegiatan yang diawali dengan upacara bersama itu diikuti oleh para perempuan dari satuan-satuan kerja hingga tingkat kelurahan.

Editor : Farid Assifa

Menang Lotre Rp 670 M, Membangun Rumah Hijau ala Teletubbies





LONDON, (PRLM).- Pasangan muda dari Nottinghamshire Inggris yang memenangkan lotre sebesar 45 juta pounds atau Rp 670 miliar akan membangun rumah hijau yang dilengkapi air terjun.

Matt dan Cassey Tophan dari Stapleford mendapatkan lotre Februari tahun lalu. Mereka mengatakan akan menggunakan dana itu untuk "rumah impian."

Rumah ramah lingkungan seharga 5 juta pound (Rp 74,5 miliar) dan disebut Serenity (Ketenangan) akan dibangun di satu tempat di Nottinghamshire.

Komplek rumah antara lain terdiri dari garasi 10 mobil yang dikelilingi air terjun, kolam renang berbentuk gua serta kebun raya dan bioskop kedap suara.

Dalam jumpa pers tahun lalu, Topham (24) mengatakan, "Saya sering mengecat rumah-rumah besar dan sering bermimpi apa rasanya punya rumah besar."

Topham bekerja sebagai dekorator dan tukang cat.

Usulan pembangunan rumah mencakup bangunan empat sayap dengan panel surya.
Arsitek di balik pembangunan ini menggambarkan rumah delapan kamar itu sebagai "rumah abad ke-21 dan merupakan tempat peristirahatan tersembunyi" dengan penggunaan energi sangat rendah.

Izin pembangunan rumah telah diajukan ke pemerintah setempat hari Kamis (19/4/13) dan diperkirakan akan dikaji pertengahan tahun ini. (bbc/A_88)***

Sabtu, 13 April 2013

Balon Walikota Ridwan Serahkan Gerobak Perpustakaan

Untuk Cerdaskan Warga



ADE BAYU INDRA/"PRLM"
ANGGOTA DPR RI Rachel Maryam mendampingi Ridwan Kamil membaca buku bersama anak-anak, pada acara Pencanangan Gerakan Gerobak Perpustakaan, di Gang Lumbung IV, Jln. Caringin, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Kamis (11/4). Gerobak perpustakaan yang rencananya akan disebar ke beberapa tempat itu, merupakan salah satu cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.*
 
 
BANDUNG, (PRLM).- Bakal Calon Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyerahkan sebuah gerobak buku kepada untuk warga Gang Lumbung 04, RT 03, RW 05 Kelurahan dan Kecamatan Babakan Ciparay, Kamis (11/4/13). Diharapkan adanya gerobak buku tersebut bisa mendorong anak-anak dan warga untuk gemar membaca buku.

Dengan mengenakan kemeja batik, Ridwan Kamil beserta anggota DPR RI dari Partai Gerindra, Rachel Maryam mendorong gerobak buku menuju lapang kecil di Gang sempit tersebut. Keduanya disambut warga beserta anak-anak kecil yang telah menungu. Penyerahan gerobak buku dilakukan oleh Ridwan kepada Wakil Ketua RW 05 Edi Kusnaedi.

Dalam sambutannya, Ridwan menyatakan pemberian gerobak buku tersebut menjadi salah satu mimpi dia untuk memberikan perpustakaan keliling bagi warga Kota Bandung. "Tiap kelurahan dan RW di Kota Bandung punya permasalahan berbeda. Ada yang banjir, ada juga yang tak memiliki tempat bermain untuk anak karena berada di pemukiman padat,"katanya.

Oleh sebab itu, karakter pemukiman Kota Bandung yang berupa gang sempit dengan akses kendaraan yang sulit masuk memerlukan solusi kreatif. "Ini merupakan solusi kecil bagi warga Kota Bandung. Gerobak buku pun hasil karya komunitas kreatif Kota Bandung,"ujar Ridwan.

Menurutnya, jika upaya menumbuhkan minat baca dan membagi pengetahuan melalui gerobak buku berhasil, pembagian gerobak buku lain akan dilakukan di sejumlah tempat di Kota Bandung. "Kita akan lakukan yang sama kepada tempat lain. Saya akan berikan gerobak buku di Ujung berung dan bak sampah di Pajajaran,"ujarnya.

Dikatakan Ridwan, pada prinsipnya, perpustakaan dan teknologi yang mesti mendatangi warga di pemukiman padat. "Kalau ada rezekinya, gerobak buku ini bisa dilengkapi internet,"katanya. (A-201/A-26)**
 

Bangkitkan Lagi Dunia Komik Indonesia!

Retro MAN 50 Tahun Berkarya

 
Penulis: Alsadad Rudi | Jumat, 12 April 2013 | 21:09 WIB 
 
 
Alsadad Rudi
Mansyur Daman saat pembukaan acara pameran Retro MAN 50 Tahun Berkarya di Bentara Budaya Jakarta pada Kamis (11/4/2013) malam yang merupakan acara untuk memperingati 50 tahun berkaryanya Mansyur di dunia komik Indonesia  


JAKARTA, KOMPAS.com - Gencarnya serbuan komik-komik asing di Indonesia, terutama komik-komik dari Jepang dan Amerika Serikat, dapat dijadikan acuan untuk membangkitkan lagi dunia komik indonesia yang mulai lesu sejak era 1990-an.
Kemampuan anak negeri dalam menghasilkan karya-karya terbaik tidak bisa dianggap sebelah mata, terlebih ditunjang dengan kecanggihan teknologi saat ini yang semakin mempermudah para komikus.

Namun harus diakui, untuk dapat membangkitkan lagi dunia komik Indonesia, diperlukan dukungan penuh dari pemerintah. Hal itu sangat vital jika kita ingin melihat kembali komik-komik karya anak negeri berjaya di negeri sendiri.

Demikian dikatakan Mansyur Daman (67), komikus senior Indonesia seusai pembukaan acara pameran Retro MAN 50 Tahun Berkarya yang merupakan acara untuk memperingati 50 tahun berkaryanya MAN di dunia komik Indonesia. MAN adalah inisial dari Mansyur Daman.

"Kemampuan gambar dan menghasilkan ide cerita anak Indonesia tidak kalah. Zaman sekarang telah diberi segala kemudahan dan semakin banyak referensi. Teknologi cetak juga sangat membantu. Zaman saya dulu, hasil cetak lebih jelek dari aslinya, tetapi sekarang sudah terbalik," kata Mansyur di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (11/4/2013) malam.

"Di negara maju, komikus mendapat apresiasi dan di sana sudah jadi sebuah industri. Kalau dari segi karya saya pikir tidak ada bedanya. Di Amerika banyak komikus yg kualitas menggambarnya di bawah komikus indonesia," ujar Mansyur.

Mansyur juga mengomentari adanya pemahaman sebagian masyarakat Indonesia yang menyatakan bahwa dunia komik hanya untuk anak-anak. Mansyur mengharapkan cara pandang yang seperti itu segera hilang jika ingin melihat komik-komik Indonesia berjaya kembali.

Menurut Mansyur, pola pikir yang seperti itu memang tidak bisa serta-merta hilang dari masyarakat karena telah ada sejak lama. Dia bahkan sempat menceritakan pengalamannya saat pertama kali merintis karir sebagai seorang komikus. Saat itu, ayahnya sendiri bahkan tidak terlalu antusias saat hasil karyanya pertama diterbitkan.

"Dulu saya tidak dipahami oleh ayah saya. Dia bertanya, 'Kenapa kamu cuma menggambar terus setiap hari?' Pertama kali karya saya diterbitkan, saya sangat bangga karena untuk pertama kali hasil-hasil gambar saya dibukukan. Hasil karya itu saya bawa pulang, tetapi sampai di rumah saya bingung kepada siapa saya ingin lihatkan. Saya lihatkan ke bapak saya, dia cuma bilang, 'Oh, iya." Pdahal enggak dilihat," kata Mansyur.

"Banyak film-film besar di Holywood itu semuanya dari komik. Cerita komik saya dengan judul New World Order yang memuat teori konspirasi itu juga kan bukan cerita anak-anak," ujar Mansyur.

Pameran Retro MAN 50 Tahun Berkarya, yang dibuka pada Kamis (11/4/2013) malam, akan berlangsung sampai dengan Sabtu (20/4/2013). Acara yang dipusatkan di gedung Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan Nomor 17, Jakarta Pusat, ini memamerkan seluruh komik-komik karya MAN yang total berjumlah 83 judul selama 50 tahun kariernya di dunia komik Indonesia.

Acara tersebut diprakarsai oleh para pembaca setia komik-komik Mansyur Daman serta didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kompas Gramedia, Bentara Budaya Jakarta dan sejumlah sponsor lainnya.

"Selamat dan terima kasih tak terhingga kepada Pak MAN yang telah konsisten berkarya selama 50 tahun sehingga kita semua bisa menikmati dan akhirnya berkumpul di waktu, tempat dan acara yang baik ini," kata Ketua Panitia acara DR Iwan Gunawan saat memberikan kata sambutan.

Selain mengadakan pameran, selama 10 hari diadakannya acara juga akan diisi sejumlah kegiatan seperti diskusi, workshop, lomba, pemutaran sejumlah film yang pernah diangkat dari komik-komik karya Mansyur Daman, bazar, serta peluncuran komik-komik terbaru dari sang komikus senior ini.

Editor : Laksono Hari W

Taufik Ismail Pukau Mesir

Jumat, 12 April 2013 | 00:29 WIB

 
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Penyair Taufik Ismail 


KAIRO, KOMPAS.com--Penyair kesohor Indonesia Taufik Ismail tampil memukau peserta seminar internasional tentang kesusasteraan yang digelar di Ismailiyah, Kota Kembar Yogyakarta di Mesir.

Penyair yang digolongkan dalam Pujangga Baru Angkatan 1966 itu dalam seminar tersebut membacakan beberapa puisi hasil karyanya dalam bahasa Indonesia dan diiringi terjemahannya dalam bahasa Arab.

"Setelah saya membaca terjemahan puisi anda, sungguh jiwa Muhammad Iqbal dan Ahmad Shauqi bersemayam di puisi-puisi anda", kata Prof Abdurrahim El Kurdi sambil memeluk Taufiq setelah membacakan puisinya.

Prof El Kurdi merujuk pada pujangga kaliber Pakistan mendiang Muhammad Iqbal (1877-1938) dan pujangga Mesir Ahmad Shauqi (1868- 1932).

Iqbal dan Shauqi sangat kesohor di Negeri Seribu Menara itu karena syair-syair mereka dilantunkan penyanyi legendaris Mesir, Ummu Kalsum (1898-1975).

Prof El Kurdi, guru besar kesusastraan Arab di Universitas Terusan Suez, merupakan ketua panitia seminar internasional yang digelar di kampur universitas Terusan Suez di kota Ismailiyah pada Selasa (9/4).

Taufiq membacakan empat puisi yang membuat hening dalam ruangan seminar yang dihadiri sekitar 350 undangan, yaitu "Sajadah Panjang", "Celupkan Jarimu Lautan", "Mesir", "9 Pertanyaan Cucuk Untuk  Kakeknya", dan "Palestina, Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu".

Seminar internasional itu diselenggarakan oleh "Egyptian Institute for Narrative Studies berkerja sama dengan Fakultas Sastra Universitas Terusan Suez.

Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi didampingi Atase Pendidikan KBRI Kairo Dr Fahmy Lukman dan Atase Pendidikan KBRI Kairo yang baru saja mengakhiri masa tugasnya, Prof Dr Sangidu yang menjabat sejak 2009.

Taufiq diundang dalam seminar bertema "Metode Naratif dalam Karya Tulis Moderen" itu terkait dengan akan diterbitkannya buku kumpulan puisi Taufik Ismail versi bahasa Arab, kata Cecep Taufiurrohman, staf Atase Pendidikan KBRI Kairo yang juga kandidat doktor filsafat Islam pada Universitas Al Azhar, Mesir.

Buku berjudul "Debu di Atas Debu" atau versi Arabnya "Turab Fauqa Turab" itu dialih-bahasakan oleh Prof Dr Nabilah Lubis, mantan Dekan Fakultas Sastra Arab di IAIN, kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Buku kumpulan puisi Ismail Taufiq itu diterbitkan oleh Majelis Tinggi Kebudayaan Mesir bekerja sama dengan KBRI Kairo.

Setelah membacakan puisi, Taufiq disalami dan dipeluk beberapa peserta termasuk Prof Shalih Mathar, Ketua Jurusan Sastra Arab Universitas Terusan Suez.

"Puisi-puisi Taufiq Ismail sangat bernuansa religius dan sufistik, sebagai buah renungan dan pemahamannya terhadap makna-makna Al Quran," ujar Prof Mathar.

Sumber :ANT
Editor : Jodhi Yudono

Rabu, 10 April 2013

Virus H7N9 di Cina Sudah Renggut Sembilan Nyawa

Rabu, 10 April 2013, 12:17 WIB


Para dokter dan perawat menghadiri pelatihan perawatan terhadap infeksi virus H7N9 di sebuah rumah sakit di Hangzhou, Provinsi Zheijiang, 5 April 2013, di mana seorang pasien di rawat di sana.  


REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- Korban meninggal akibat flu burung jenis baru di Cina naik menjadi sembilan orang, kata media pemerintah yang juga mengutip pernyataan pihak berwenang Cina yang mengatakan vaksin untuk virus tersebut mesti tersedia dalam beberapa bulan ini.

Korban terakhir adalah seorang warga dari provinsi Anhui, lapor kantor berita Xinhua.

Virus H7N9, yang dipastikan menyerang manusia untuk pertama kali bulan lalu, sejauh ini sudah menulari 28 orang, seluruhnya di Cina timur, dan sembilan di antara mereka meninggal, demikian data dari Komisi Nasional Kesehatan dan Keluarga Berencana Cina yang disiarkan Xinhua.

Tambahan korban termasuk empat orang yang tertular, yaitu dua di Shanghai dan dua lagi di Provinsi Zhejiang dan salah satunya dalam keadaan kritis, tulis Xinhua.

Menurut Jurnal Keamanan Cina pada Rabu, vaksin untuk virus N7H9 sedang ditangani oleh Badan Pangan dan Obat-Obatan Cina, diharapkan pada paruh pertama tahun ini sudah bisa beredar di pasar.

Sumber utama penularan belum terungkap, meskipun hasil pemeriksaan contoh yang diambil dari sejumlah unggas di pasar positif menunjukkan keberadaan virus tersebut, dan hal itu tetap menjadi pusat perhatian untuk penyelidikan oleh pemerintah China dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Redaktur : Yudha Manggala P Putra
Sumber : Antara

Jumat, 05 April 2013

Reli Makan di Jalur Puncak

Jumat, 5 April 2013 | 15:18 WIB

 
KOMPAS/ANTONY LEE
Sarapan sambil melihat Sungai Ciliwung di Cimory Resto Riverside, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/3/2013).  



KABUT menyelimuti Rumah Makan Bumi Aki di Pacet, Cianjur, menjelang waktu makan siang, Rabu (27/3/2013). Hujan yang membasahi tanah membuat udara kian dingin. Dari dapur, aroma sate kambing yang sedang dibumbui di atas panggangan arang membuat perut kian keroncongan.

Pesanan sate kambing, gurami cobek, dan sup buntut spesial belum tersaji di meja. Kami coba menahan rasa lapar dengan menikmati suasana di sekeliling restoran. Di balik kabut, Gunung Gede yang perkasa bersembunyi menyisakan bayangan lanskap indah.

Rabu siang itu, Bumi Aki, rumah makan di tepi Jalan Raya Puncak, ramai pengunjung. Mereka makan dan bercakap-cakap dengan penuh semangat. Saat itulah, seorang laki-laki, sekitar 60 tahun, datang lalu memainkan seruling bambu sepanjang setengah meter. Dari seruling itu melantun nada-nada ”Jembatan Merah”, ”My Way”, bahkan lagu Mandarin romantis ”Yue Liang Dai”.

Seusai pria itu memainkan lagu keempat, makanan yang kami pesan tiba di meja. Tidak ada bau prengus dari kepulan asap sate kambing. Dagingnya lembut, rasanya gurih lagi sedap. Sup buntutnya istimewa, bumbunya terasa kuat, dagingnya lembut.

Gurami cobek tak kalah. Lumuran bumbunya membuat olahan ikan itu makin menggoda. Santapan itu jadi teman menikmati kesejukan udara yang cenderung dingin di Puncak.

Bumi Aki menjadi ”puncak” reli makan kami di jalur Puncak, siang itu. Restoran ini ibarat menjadi etape ketiga. Dua etape atau pemberhentian sebelumnya juga adalah tempat memanjakan lidah sekaligus mata. Reli menyusuri jalur Jakarta-Cisarua-Cianjur-Jakarta.

Susu segar

Sebenarnya sekitar pukul 08.00 merupakan perhentian pertama kami di jalur reli makan Puncak di Cimory Resto Riverside di Megamendung, Bogor. Lokasi ini pas untuk sarapan, sekaligus menjajal yogurt, dan susu murni. Menu andalan yang disarankan pramusaji ialah Spiral Kanzler Sausage dan Ring Kanzlers Sausage. Masakan bersosis itu memang layak dicoba.

Seperti namanya, spiral sosis berbentuk spiral, berbahan baku daging ayam, disajikan bersama salad, kentang goreng yang dipotong tebal-tebal, nachos atau potongan keripik, dan saus tomat. Sajian Ring Kanzlers Sausage agak berbeda. Diameter sosisnya lebih besar, berbahan baku daging sapi. Dua menu itu tidak terlalu mengenyangkan sehingga masih ada ruang untuk mengatur ”napas” dan rongga perut, salah satu tantangan reli makan.

Sesudah perut terisi dan lidah dimanja kelezatan rasa dan kesegaran minuman, luangkan waktu berjalan-jalan di trek di sisi Sungai Ciliwung. Dari balkon restoran, pengunjung disuguhi pemandangan pinggir kali berair jernih berbatu-batu besar menyembul dari dasar sungai.

Buat yang suka memotret atau dipotret, manfaatkanlah latar pagar besi, lentera, lantai trek dari papan, atau lanskap Sungai Ciliwung berpohon lebat nan tinggi. Jauh berbeda dengan suasana Ciliwung di Jakarta yang butek dan bau tidak sedap.

Dua jam menjelang makan siang, kami singgah di Perkebunan Teh Gunung Mas, Cisarua. Lalu lintas jalur Puncak lancar pada hari kerja sehingga perjalanan dari lokasi yang satu ke lokasi berikut berkisar 20-30 menit. Di sini mata dimanjakan oleh hijau hamparan pohon teh. Anda bisa meluangkan waktu memetik daun teh dan melihat pengolahannya.

Di kedai peristirahatan, kami menikmati teh hijau panas dengan perasan lemon segar pas untuk menghilangkan penat. Ah, masih ada ruang di perut untuk tahu kuning goreng dengan irisan cabai rawit hijau dan kecap sebagai sambalnya. Hmm..., selera makan mulai dibangkitkan sebelum makan ”besar” di Bumi Aki, sekitar 8 kilometer dari Gunung Mas menuju Cianjur.

Godaan pisang

Selepas makan siang di Bumi Aki, kami memutar kendaraan balik arah ke Bogor. Di Desa Tugu, Cisarua, kami singgah ke The Grand Hill Bistro. Di sinilah etape terakhir, lokasi untuk menikmati makanan penutup. Sudah ada jeda waktu sekitar satu jam sejak makan siang. Konon, kata orang, di tempat ini Anda bisa mendapatkan pemandangan terbaik di Puncak.

Dari kursi sofa dekat jendela, kami menikmati pemandangan lekuk Jalan Raya Puncak dan kebun di sepanjang area ini. Chocolate Lava, Banana Split (es krim vanili, stroberi, cokelat, dan potongan pisang), serta Grilled Banana (pisang panggang dengan taburan keju dan meses) layak dicoba.

Bersantailah menikmati makanan. Sempurnakan dengan minuman panas atau dingin. Teh, kopi, jus, silakan. Jangan lupa menyempatkan mampir ke pohon cemara bercabang dua di samping restoran yang dinamai ”Pohon Jodoh”.

Hari menjelang petang, saatnya kembali ke Ibu Kota mempersiapkan diri bekerja esok hari. Untuk makan empat orang di empat lokasi itu, biaya yang dikeluarkan Rp 725.000. Belum termasuk Rp 100.000-Rp 125.000 untuk tarif jalan tol dan bahan bakar minyak. (Anthony Lee/Ambrosius Harto Manumoyoso/Andy Riza Hidayat/*)
 
Sumber :Kompas Cetak
Editor :I Made Asdhiana

Rabu, 10 November 2010

With Slang and Reform Message, Obama Wows Indonesian Students

Rabu, 10 November 2010 | 14:40 WIB


AFP
A woman reaches through the crowd to shake hands with US President Barack Obama after he delivered a speech at the University of Indonesia in Jakarta on November 10, 2010. Obama said Muslim-majority Indonesias national philosophy of unity bewteen people of different faiths and ethnic backgrounds is an inspiration to the world.



JAKARTA, KOMPAS.com - U.S. President Barack Obama was given a rock star’s welcome at one of Indonesia’s biggest universities on Wednesday, where he charmed an audience with speech laced with local lingo and a message of reform.

The speech concludes a nostalgic visit to Indonesia, where Obama spent four years as a young boy, and the president spoke warmly of his childhood memories of the world’s most populous Muslim country.

“Assalamu’alaikum. Salam sejahtera,” Obama began, an Indonesian salutation meaning ’Peace be upon you, prosperous greetings’, which drew whoops of approval from a crowd clearly impressed by his surprisingly good accent and delivery.

The 6,000 students, staff and officials that crammed into the university’s stiffling graduation hall listening intently to his speech, bursting into rapturous applause each he spoke Indonesian or mentioned famous Jakarta landmarks such as Sarinah mall.

“Pulang kampung, nih,” he added, a slang phrase meaning “I’ve come home to the village”, prompting laughs and applause. “Indonesia is part of me,” he added in Indonesian.

After warming up his crowd with descriptions of the Jakarta of his youth — of friendly street vendors selling satay, of flying kites, and of chasing dragonflies in rice paddy fields — Obama dove into more serious topics like religion and democracy.

He evoked the memory of university students who protested peacefully for the overthrow of former dictator President Suharto, ushering in an era of democratic reform.

“Frayed relations"

He praised majority Muslim Indonesia’s relative religious harmony and promised the U.S. would work harder to find repair the “frayed relations” between the U.S. and the Islamic world. “I thought he was fantastic, especially what he said about religious harmony,” one impressed student, Triamy Verdita, told Reuters after the speech.

“I think it was good when he said many Americans don’t know about Indonesia and he called for many Americans to come and study here,” she said. Other students complained that a poor sound system made it difficult to hear clearly and that they had been forced to line up since dawn.

“Also, only invited students could hear him speak and most of the students were made to go home today and yesterday,” said Imaddudin Abdullah, an international relations student who was among those selected to attend.

“I thought what he said about democracy was very good but from what I can see, the goals of the reform era still haven’t been achieved in Indonesia.

Not everyone is prosperous, there’s no economic democracy,” he said. “Look at the corruption all around.”

Graft remains rife in Indonesia, where it’s common to be asked for bribes by everyone from traffic police to judges. Judging by the loud applause and cheers, however, it appeared that the majority of students were very impressed both with Obama’s delivery and his message.

“He still knows about Indonesia, he still remembers the Indonesian language, he even remembered the name of a mall,” said Choky Ramadhan, a law student.

“His speech was too short. It was like watching a music concert,” he said. “We were left wanting more.”

Editor: Jimmy Hitipeuw | Sumber : reuters

Album Taylor Swift Tembus Satu Juta Kopi

Kamis, 4 November 2010 09:40 WIB

Jumat, 20 Agustus 2010

Kang Ibing Meninggal Dunia

Laporan wartawan KOMPAS Cornelius Helmy Herlambang
Kamis, 19 Agustus 2010 | 21:40 WIB


KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Kang Ibing.

BANDUNG, KOMPAS.com — Seniman Kang Ibing meninggal dunia di Rumah Sakit Al Islam Bandung, Kamis (19/8/2010) sekitar pukul 21.00. Seniman legendaris Jawa Barat yang terkenal dengan perannya sebagai Kabayan ini meninggal karena sakit.

Editor: Tri Wahono

***




"Engke Peuting Urang Balik"

ISTRI almarhum pelawak Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata alias Kang Ibing, Nieke (kiri) menangis di samping menantunya, di dalam ambulans yang membawa jenazah suaminya dari ruang jenazah RS Al Islam, Jln. Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis (19/8) malam.* ADE BAYU INDRA/"PR"



"ENGKE peuting urang balik (Nanti malam saya pulang)," begitu kata Kang Ibing yang sore itu, Kamis (19/8) berada di Sumedang, menjawab telefon sahabatnya Aom Kusman. Akan tetapi, ternyata kalimat itu bermakna lain. Kang Ibing malam itu pukul 20.45 WIB "pulang" dalam arti yang sebenarnya, pulang ke hadirat Illahi.

"Saya benar-benar tidak mengira dia balik dalam arti yang sebenarnya. Saya baru selesai tarawih ketika ditelefon, saya hampir tidak ketemu. Kami janji bertemu malam ini," tutur Aom Kusman, dengan suara tertahan.

Berita wafatnya komedian Sunda Kang Ibing (Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata) membuat kaget sejumlah seniman-budayawan Sunda. Mereka merasa kehilangan seorang sosok komedian yang sulit dicari gantinya, seorang komedian multitalenta. Tak hanya dalam melontarkan heureuy-nya (lelucon) yang khas cerdas, tetapi juga minat dan kemampuannya dalam dan kuat pada berbagai seni tradisi Sunda. Dari mulai kawih, sastra, sampai menjadi seorang mubalig.

"Heureuy-nya di luar dugaan dan tidak sekadar heureuy, tetapi juga kritis penuh sindiran tanpa orang merasa tersinggung," ujar Aom Kusman.

Dalam pandangan Aom Kusman yang telah mengenal Kang Ibing semasa di Daya Mahasiswa Sunda (Damas) tahun 1968 atau ketika keduanya berduet di Radio Mara tahun 1970-an, Kang Ibing memiliki talenta yang lengkap sebagai seorang seniman. Hal yang juga disebutkan oleh budayawan Dana Setia dan pengamat film Eddy D. Iskandar. Menurut Eddy, Kang Ibing memiliki multitalenta seperti Bing Slamet, menyanyi, melawak, akting.

"Tetapi, lebih dari itu Kang Ibing adalah seorang penulis karya sastra. Inilah kelebihan almarhum. Bahkan, sastrawan Rustandi Kartakusumah pernah menyebut Kang Ibing sebagai Anton Chekov Indonesia," ujar Eddy D. Iskandar, penulis skenario film "Kabayan Saba Kota" yang dibintangi Kang Ibing.

"Dialah satu-satunya pelawak Sunda yang bisa tampil sendiri. Dia tak pernah kehabisan ide dalam melontarkan joke-joke-nya. Tak ada yang bisa seperti Kang Ibing. Sebagai seorang mubalig, Kang Ibing bisa membawakannya lewat seni bertutur khas Sunda yang komunikatif," ujar Eddy.

"Dia sosok orang Sunda yang lengkap. Tak hanya heureuy, tetapi dalam syiar Islam dan kesehariannya," tutur Dana Setia menimpali.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Jabar Uu Rukmana mengatakan, masyarakat Jabar kehilangan seniman besar serbabisa yang sangat peduli untuk mengangkat budaya Sunda. "Kang Ibing bukan hanya komedian Sunda yang menasional, tetapi juga mubalig yang tidak melepaskan unsur-unsur budaya sebagai pendekatan yang jenius untuk menyebarkan syiar Islam," katanya.

Kang Ibing, kata Uu, adalah sosok yang lengkap. Tidak hanya melawak tetapi juga pandai menyanyi, menyair, dan menguasai sejumlah kesenian daerah Sunda. Salah satu ciri masyarakat Sunda adalah bertani dan beternak. Kang Ibing pun melakukan itu. dia beternak domba garut dan menghasilkan bibit-bibit domba adu yang tangguh.

Seniman-seniman Sunda, menurut Uu, harus belajar banyak dan meneladani Kang Ibing baik di dunia seni maupun keagamaan. "Ketika dia tidak lagi aktif di panggung hiburan, dia mengalihkan aktivitasnya ke mimbar ceramah," kata Uu.

Akhirnya, malam itu, seperti janji mereka, Aom Kusman dan Kang Ibing bertemu. Akan tetapi, seperti dikatakannya pada Aom Kusman, Kang Ibing memang sudah pulang, "Engke peuting urang balik." (Lia Amalia/Ilham Pratama/Joko Pambudi/Tia Komalasari/"PR"/Ahda Imran)***


Sabtu, 14 Agustus 2010

Christine Hakim, Eat-Pray-Love, dan Budaya Bangsa

Sabtu, 14 Agustus 2010, 08:42 WIB
AP

Christine Hakim saat menghadiri pemutaran perdana \'Eat, Pray, Love\' di Ziegfeld Theater, New York


REPUBLIKA.CO.ID,Pemutaran perdana "Eat, Pray, Love" berlangsung di Siegfeld Theater, New York dan dimeriahkan para bintang internasional dan tak ketinggalan, aktris Indonesia, Christine Hakim. "Kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan budaya Indonesia," ujar Christine, pemeran Wayan, teman sang tokoh utama, Liz Gilbert, saat berada di Bali.

Suksesnya buku Eat, Pray, Love telah meningkatkan popularitas Bali di dunia internasional, termasuk di Amerika. Setelah pemutaran perdana film ini, penonton pun tampaknya sangat terkesan dengan penggambaran Bali yang sangat indah dalam film ini.

Banyak penonton juga terkesima dengan sisi spiritual Bali. Seperti disebut Rita Duffy. "Budayanya, orang-orangnya dan penyembuhan spiritualnya. Keindahan alamnya hanya sebagai pendukung," ujar Duffy.

Perwakilan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang juga menghadiri pemutaran perdana film ini, Sapta Nirwandar, berharap kemunculan film ini dapat lebih meningkatkan pariwisata Indonesia.

Pengamat industri pariwisata menilai salah satu tren di kalangan warga Amerika saat ini adalah mengikuti wisata spiritual. Dan, salah satu tujuan wisata spiritual yang paling mereka inginkan adalah Bali.

Eat, Pray, Love Bangkitkan Sisi Spiritual Para Aktor

Film Eat, Pray, Love mengangkat kisah perjalanan Elizabeth Gilbert, seorang perempuan Amerika yang berada di ambang depresi, mencari ketenangan spiritual dan keseimbangan dalam hidup di tiga negara: Italia, India dan Indonesia.

Film ini dibuat berdasarkan buku memoir best seller berjudul sama, yang telah laku enam juta kopi di seluruh dunia.Pembuatan film ini tampaknya juga membangkitkan sisi spiritual para actor yang terlibat dalam film ini.

"Kita semua pernah berdoa,” ujar Javier Bardem, pemeran sang pria Brazil, Felipe. “Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita menutup mata dan berharap ada seseorang yang lebih kuat dan lebih bijaksana untuk membantu kita.”

Sementara itu, sang pemeran utama, Julia Roberts, baru-baru ini mengumumkan telah memeluk agama Hindu. Ia mengaku film ini telah mengubah hidupnya. "Yang saya dapatkan dari (film ini) adalah kesadaran bahwa saya masih sangat mencintai akting dan bekerja sekeras ini dengan penuh komitmen. Setelah film ini, saya benar-benar yakin," ujar Roberts yang memegang peran utama sebagai Liz Gilbert.

Sang penulis, Elizabeth Gilbert yang sungguhan, menyebut Julia telah menjadi "Eat, Pray, Love," kisahnya sendiri. "Bukunya saya yang punya, tapi filmnya punya Julia. Anda lihat sendiri... Ia sangat memukau," ujar Gilbert.

Berhubungan dengan nuansa spiritualisme film ini, sebagian hasil penjualan tiket premiere “Eat, Pray, Love” disumbangkan untuk amal. Panitia melelang tiket-tiket hingga mencapai puluhan ribu dolar. Hasilnya kemudian dibagikan kepada sejumlah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan.

Red: Krisman Purwoko
Sumber: voa

Kamis, 28 Mei 2009

Zara Zettira, Kebaya dan Kisah Legenda

ISTIMEWA

KEBAYA WUNGU: Novel terbaru dari Zarra Zettira terinspirasi legenda Ratu Kencono Ungu dan kebaya sebagai warisan busana tradisional asli nusantara.




By Republika Newsroom
Rabu, 27 Mei 2009 pukul 17:06:00

JAKARTA-- Usai menelurkan novel berjudul Cerita Dalam Keheningan (Every Silent Has A Story), penulis Zara Zettira segera meluncurkan dua buah novel terbaru yang akan terbit dalam waktu dekat. Salah satunya diinspirasikan oleh busana tradisional asli Indonesia, kebaya.

"Alhamdulillah karena memang sudah jalannya, memang ada persiapan buku baru, yang pertama buku lanjutan Prahara Asmara dan buku yang kedua, proyek idealis saya yang berjudul "Kebaya Wungu"," ungkap Penulis novel kenamaan yang namanya berkibar pada era 1990-an kepada Republika Online ketika ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (27/5).

Tak jauh berbeda dengan buku sebelumnya, Zara tetap memasukan cerita cinta didalamnya. Akan tetapi yang membedakan dalam buku "Kebaya Wungu", Zara mempunyai misi untuk mempertahankan cerita-cerita legenda Indonesia yang dinilai terancam punah.

Diakui Zara, kecintaannya pada cerita Legenda "Ratu Kencono Ungu" lantas menginspirasi dirinya untuk membuat sebuah cerita cinta yang disisipi nuansa legenda namun ringan dan tidak sok nyastra.

"Ceritanya sih mau pelan-pelan mengembalikan legenda-legenda, minimal ada misi posistifnya tidak hanya cerita cinta belaka. Tapi didalamnya, orang-orang menjadi tahu tentang legenda seperti "Ratu Kencono Ungu" itu seperti apa?" tutur Pemilik nama lengkap Zarra Zettira Zainuddin Ramadai.

Nantinya, kata dia, seperti gaya penulisan sebelumnya, buku "kebaya Wungu" diusahakan dibuat sederhana dan tidak berat. Alasan ibu beranak dua itu, karena ketika buku dibuat sastra menjadi berat dan percuma karena tidak ada yang baca.

Menurut wanita pencinta olahraga yoga itu, buku "Kebaya Wungu" akan membahas ajaran reinkarnasi. Dia terinpirasi dari adat istiadat daerah Bali sebagai asal inspirasi reinkarnasi. Zara melihat, semua ajaran agama murni cenderung menakuti pemeluknya untuk mengajak berbuat baik dengan neraka sebagai simbolnya.

"Saya termasuk orang yang kurang setuju dengan cara seperti itu, menjadikan neraka untuk mengajak orang berbuat baik, padahal belum tentu neraka ada. Jadi, menurut saya cara seperti tidak efektif untuk mengajak orang berbuat baik," tegasnya.

Dikatakan Zara, jalinan cerita memang kental nuansa ajaran hindu yang nyaris mirip dengan ajaran jawa kuno yang menjadi latar belakang cerita tapi nuansa modern juga tidak ketinggalan. Selain, reinkarnasi, ajaran lain yang disisipkan dalam cerita adalah mengenai karma.

"Agama Hindu kan percaya tentang karma yang dikatakan kita hidup di dunia sudah menderita, kebayangkan kalau kita berbuat jahat akan seperti apa kita nanti," imbuh Ibu dari Alaya Eva Ramadi Zsemba (14) dan Zsolt George Zainuddin Zsemba (7).

Contoh lain, kata dia, ketika ada yang korupsi satu juta nantinya dikehidupan selanjutnya akan menjadi gembel. "Fenomena itu, saya percaya gitu. Saya sendiri takut banget untuk menolak menolong orang karena takut nanti ada yang menolak saya ketika diminta pertolongan, jadinya saya takut banget. Dan menurut saya itu lebih efektif ketimbang lebih takut masuk neraka atau surga yang katanya ada bidadari, maka saya memilih karma," ujar istri dari Zsolt Zsemba itu.

Misi Zara, tidak hanya sebatas mempertahankan cerita legenda yang sudah ada, tapi mencoba untuk mengemas sebuah penulisan dengan cara yang berbeda dengan tetap memberikan rangsangan untuk berpikir kepada para pembaca.

Diakui Zara, setiap karya tulisanya selalu meningkat secara perlahan dalam hal merangsang pembaca untuk berpikir. Dia merasa berkewajiban sebagai penulis untuk meciptakan rangsangan berpikir. Terlebih lagi dirinya juga menyadari, anak-anak muda sekarang jauh lebih kritis ketimbang zaman mudanya dulu.

"Sekarang mana ada anak muda yang nonton sinetron, zaman saya itu, kayak modelnya catatan si Boy yang oon gitu," ujarnya sembari tertawa.

Tak hanya mencoba merangsang pikiran pembaca, Zara juga menyisipkan paradigama pemikiran yang dinilainya salah. Terutama terkait masalah kebaya.

Selama ini, sejauh pengamatan Zara, kebaya kerap identik dengan orang tua, kolot, ketinggalan zaman dan sebagainya. Namun, berdasarkan pengalamannya tinggal di Kanada selama 10 tahun, dia bisa menggunakan kebaya dan yang dipadukan dengan celana jeans untuk sehari-hari.

Hasilnya, banyak masyarakat setempat yang begitu tertarik dan menanyakan apa yang dikenakan. Dengan buku "Kebaya Wungu" Zara mencoba memperbaiki paradigma mengenai kebaya.

Direncanakan, buku tersebut akan dirilis dalam waktu dekat, namun Zara tidak memberitahu kapan. Karena selama ini, dia berprinsip tidak pernah merencanakan sesuatu. Dia mencoba menjalankan segala sesuatu tanpa rencana dan mengalir. Siapa yang sudah mulai penasaran? (cr2/rin)

Senin, 11 Agustus 2008

Penumpang Senang, Sopir Percaya Diri


 MODEL angkot gaya baru jurusan Cijerah-Ciwastra yang diprakarsai Galeri Kolong Jembatan Layang Pasupati tengah melesat di Jln. Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu (9/8).* LINA NURSANTY/"PR"


WAJAH Reni (37) terlihat agak ragu ketika akan menghentikan angkutan kota (angkot) di Jln. Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu (9/8). Meski kedua matanya sudah dipicingkan, lengan kanannya urung dilambaikan. Angkot jurusan Cijerah-Ciwastra dengan nomor trayek 27 itu pun terus melesat meninggalkan Reni.

"Lho, itu angkot Cijerah ya? Kok gitu? kirain bukan," ujar Reni di Jln. Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu (9/8). 

Reni mengaku kalinglap (pangling) melihat angkot yang biasa ia naiki. Angkot berpelat nomor D 1937 BP itu memang jurusan Cijerah-Ciwastra. Namun, angkot yang kebetulan ditemui Reni adalah angkot percontohan projek angkot gaya baru yang digagas Galeri Kolong Jalan Layang Pasupati, yang masih asing di mata Reni.

Angkot milik Yayan (31) itu dipermak oleh tim Galeri Kolong Jalan Layang Pasupati sehingga membuat Reni dan penumpang lainnya merasa pangling. Muka mobil ditempeli angka 27 sebagai penanda nomor trayek dengan desain menarik. Gambar rumput hijau mengelilingi muka bagian bawah angkot. Di samping kiri, kanan, dan belakang, terdapat gambar animasi berwarna mencolok. 

Yayan mengaku, ia merasa lebih percaya diri ketika mengendarai angkotnya. Respons penumpang pun menggembirakan. "Penumpang pada seneng. Saya juga percaya diri pastinya," katanya.

Menurut Yayan, ia diminta kesediaannya untuk merelakan angkotnya menjadi percontohan angkot gaya baru oleh Galeri Kolong Jalan Layang Pasupati. Atas kesediaannya itu, selama dua minggu terakhir, Yayan rela bolak-balik ikut pameran yang memamerkan angkot gaya baru itu. 

Selama angkotnya dipamerkan, Yayan tetap mendapat kompensasi berupa uang untuk menutupi setoran plus ongkos sopirnya. Yayan berharap, kelak angkot-angkot di Kota Bandung bisa didandani seperti angkot miliknya. 

Salah satu tanda angkot gaya baru yaitu bodi angkot yang ditempeli aneka gambar dan warna atraktif. Meski begitu, warna dasar bodi angkot tetap sesuai aturan yang diterapkan Dinas Perhubungan setempat. Ide kreatif membentuk angkot gaya baru itu dipertunjukkan dalam ajang Helarfest 2008, ajang untuk memamerkan ide-ide kreatif di Kota Bandung yang berlangsung sejak akhir Juli hingga akhir Agustus mendatang. 

Menurut Irvan A. Noeman dari Galeri Kolong Jembatan Layang Pasupati, dalam projek angkot gaya baru, angkot-angkot akan diberikan gaya yang baru sehingga menjadi enak dilihat dan sesuai dengan peraturan yang ada. Pada setiap angkot juga akan ditempelkan peta tujuan atau orientasi yang memudahkan penumpang saat menggunakannya. 

Selain angkot gaya baru, galeri ini juga memprakarsai ide kreatif membuat narrow car (mobil sempit). Saat ini, narrow car masih dalam tahap pengerjaan desain. Salah seorang desainernya, Mizan Allan de Neve, menargetkan prototipe narrow car bisa diluncurkan akhir tahun ini. 

Sesuai namanya, narrow car hanya berkapasitas tiga penumpang dan seorang sopir. Lebarnya tidak lebih dari satu meter, sedangkan angkot yang seperti saat ini kita temui memiliki lebar 1,5 meter. Mesin yang digunakan yaitu mesin diesel tidak lebih dari 500 cc. "Kenapa mesin diesel, agar bisa memakai bahan bakar alternatif seperti yang berbahan minyak goreng sekalipun," ungkapnya. 

Syarat utama kelahiran narrow car di antaranya sistem transportasi massal seperti monorel sudah berjalan. Untuk menjangkau jalan-jalan kecil, solusinya tidak lagi dengan angkot, ojek, atau becak. 

"Angkot juga kan tingkat keterisiannya rendah. Paling dua atau tiga orang. Narrow car ini kami sebutkan sebagai bentuk kompromi dari angkot, ojek, dan becak," katanya. 

Salah satu merek mobil diesel Amerika, Scout International, kata Mizan, sudah bersedia jika lisensinya digunakan narrow car. Ia mengaku kesulitan memperoleh lisensi dari merek-merek mobil Jepang, sedangkan di Indonesia belum ada. Ia menargetkan, narrow car bisa dioperasikan pada 2010 bersamaan dengan peluncuran projek monorel di Kota Bandung. (Lina Nursanty/"PR") ***

Kamis, 05 Juni 2008

Guru Bisa Ikut Dalam "Citizen Journalism"


PEMIMPIN Umum "Pikiran Rakyat", H. Syafik Umar (kiri) menerima cendera mata dari Ketua STKIP Pasundan V, Drs. H. Eddy Komarudin, M.M. (kedua kiri) disaksikan Moderator Rony M. Rizal, S.T., M.M (kanan) dan Ketua Panitia Suhada (kedua kanan) seusai memberikan materi " Pelatihan Jurnalistik Pendidikan untuk Tenaga Pendidik" pada acara Diklat Guru tingkat Internasional 2008 di Gedung PP- PNFI Depdiknas RI Jayagiri Lembang, Rabu (4/6).*DIDIN SJ/SEKPER "PR"




BANDUNG, (PR).-
Saat ini terjadi kecenderungan turunnya minat baca di masyarakat, terutama di kalangan siswa. Hal ini berkaitan dengan semakin gencarnya media elektronik menyiarkan program hiburan. Guru sebagai tenaga pendidik memiliki kewajiban untuk menggelorakan minat baca sebagai modal dasar siswa berpikir kritis dan kreatif.

Demikian disampaikan Pemimpin Umum Pikiran Rakyat H. Syafik Umar dalam Diklat Manajamen Guru Internasional 2008 (Indonesia-Malaysia) yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan Cimahi. Syafik hadir sebagai pembicara dengan materi "Penelitian dan Pendidikan Jurnalistik Guru Dalam Membangun Karakter Image dan Profesionalisme Tenaga Pendidik" di Gedung PP-PNFI Depdiknas RI, Lembang, Kab. Bandung Barat, Rabu (4/6).

Syafik menjelaskan, saat ini masyarakat mulai mengenal istilah citizen journalism. Berkembangnya teknologi informasi menyebabkan setiap individu bisa berpartisipasi aktif untuk membuat dan menyebarkan informasi. "Guru sebagai tenaga pendidik memiliki andil untuk mengembangkan citizen journalism. Caranya dengan meningkatkan minat baca siswa didiknya, tak hanya membaca koran, majalah, dan buku, tetapi bisa juga dengan mencari informasi melalui internet," tutur Syafik.

Menurut dia, Pikiran Rakyat sebagai harian umum masyarakat Jabar akan selalu konsisten sebagai media yang mendukung terselenggaranya kegiatan pendidikan yang memajukan bangsa. "Pikiran Rakyat memiliki suplemen dan kolom artikel yang mendukung majunya pendidikan di Indonesia. Sebut saja suplemen Percil, Belia, Kampus, Cakrawala, dan kolom artikel Forum Guru," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Diklat Manajamen Guru Internasional 2008 (Indonesia-Malaysia) Suhada mengatakan, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi keinginan para guru yang ingin diberi pelatihan mengenai kemampuan manajerial. Hal ini berkaitan dengan program sertifikasi yang diwajibkan untuk guru.

Menurut Suhada, pemberian materi mengenai dunia jurnalistik adalah karena di dalam sertifikasi guru ada syarat guru memiliki kemampuan yang kerangkanya tak jauh dari dunia jurnalistik. "Mereka (guru) dituntut untuk bisa membuat makalah dan penelitian ilmiah beserta laporannya. Hal ini kan tidak jauh dari dunia jurnalistik, yaitu tulis-menulis dan membuat laporan," ujar Suhada. (CA-187)***

Sabtu, 24 Mei 2008

Ketersediaan Air di Jabar Hanya 10%

BANDUNG, (PR).-
Kerusakan infrastruktur alam yang tinggi di wilayah perbukitan Jawa Barat menyebabkan ketersediaan air hanya mencapai 8 miliar m3/tahun (10%) dari potensi sebanyak 80 miliar m3/tahun. Padahal, kebutuhan air untuk kehidupan sekitar 37 juta jiwa mencapai 17 miliar m3/tahun.

Pakar lingkungan dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Mubiar Purwasasmita mengatakan hal itu dalam diskusi "Kebijakan Publik Bagi Akses Air Bersih" yang digelar Kelompok Kerja Komunikasi Air (K3A)-ESP-USAID di Jln. Surapati No. 53 Bandung, Kamis (22/5). "Karena rusaknya infrastruktur alam, tidak heran di mana-mana dilanda kekeringan," katanya.

Jika infrastruktur alam yang rusak pada kawasan lindung dan hutan diperbaiki, kemungkinan dapat mengembalikan potensi ketersediaan air sampai 20 miliar m3/tahun. Perbaikan dengan meningkatkan potensi hutan dan belukar di puncak-puncak gunung sebagai pengikat awan.

Cenderung menurun
Berdasarkan riset Bandung Institute of Governance Studies (BIGS), dukungan APBD untuk penyediaan air bersih pun cenderung mengalami penurunan persentase. "Entah karena masalah perairan sudah dianggap selesai atau ada prioritas lain," kata Direktur BIGS, Siti Fatimah.

Untuk Kota Bandung, anggaran Dinas Pengairan pada tahun 2005 mencapai Rp 5,6 miliar, 2006 Rp 9,2 miliar, dan 2007 Rp 17,6 miliar. Sementara anggaran Dinas Perumahan di bidang air pada 2005 sebesar Rp 74,7 miliar, 2006 Rp 44,4 miliar, dan 2007 Rp 48,8 miliar. Meski besaran anggaran meningkat, persentase berdasarkan total APBD tetap dan cenderung menurun.

Kepala Bagian Tata Usaha Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distarkim) Jabar Aat Taryana menyatakan, keterbatasan kewenangan Pemprov Jabar untuk mengelola sumber daya air menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan akses dan ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Kabupaten/kota lebih memiliki kewenangan melakukan pengaturan. (A-158)***

Kartu BLT pun Diundi


kompas/m syaifullah
Antrean warga pemegang kartu kompensasi BBM (KKB) penerima dana bantuan langsung tunai (BLT) untuk pencairan tahap kedua di Kantor Pos dan Giro Banjarmasin, Kalsel, Senin (30/1), berlangsung sejak pagi. BLT diberikan sebagai kompensasi kenaikan harga BBM.



Sabtu, 24 Mei 2008 | 08:13 WIB
PEMBAGIAN bantuan langsung tunai atau BLT yang menggunakan hasil pendataan sosial ekonomi atau PSE tahun 2005 menyulitkan sejumlah ketua rukun warga dan rukun tetangga di berbagai daerah. Untuk menghindari munculnya sikap iri hati di antara masyarakat, seorang ketua rukun warga terpaksa mengundi dua kartu BLT atas nama dua warga yang pindah di hadapan 12 kepala rumah tangga sasaran baru yang mengajukan diri.

"Tindakan ini terpaksa kami lakukan agar tidak terjadi iri hati atau keributan di masyarakat. Mereka kami kumpulkan dan kartu BLT kami undi di hadapan mereka. Kami sepakat jika sudah ada dua keluarga yang mendapatkan undian, maka yang lain tidak boleh mengeluh," jelas Didi Sutardi Ketua Rukun Warga (RW) 08 Desa Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jumat (23/5).

Menurut Didi, sebagai ketua RW ia menyesalkan data rumah tangga sasaran (RTS) hasil pendataan Badan Pusat Statistik tahun 2005 yang disusun tanpa melibatkan ketua RW atau RT setempat. "Kami pernah dikomplain warga karena mereka mengira ketua RW dan RT yang menentukan siapa penerima BLT. Seharusnya BPS dulu menyertakan kami pada saat pendataan agar hasil pendataan lebih akurat," ujarnya.

Ketidakakuratan data BPS dan lama jeda pendataan dari tahun 2005 hingga 2008 menyebabkan beberapa ketua RW dan RT kewalahan memberikan keterangan kepada warga. "Kalau ada dua kartu saja yang gagal, warga yang mengajukan diri bisa sampai 30 rumah tangga bahkan lebih. Kebijakan dari atas, tetapi kami yang kena getahnya," tambah Didi.

Sugimin Ketua RT 02 / RW 12 Kelurahan Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung mengaku kerepotan menentukan pengganti RTS penerima BLT. Dari total 61 RTS yang terdaftar, terdapat tujuh kartu BLT yang batal karena empat kepala rumah tangga meninggal dan tiga pindah tempat. "Kami terpaksa mengadakan rapat warga untuk menentukan tujuh RTS baru yang layak menerima BLT," ungkapnya.

Baik Didi maupun Sugimin berharap, penggantian kartu BLT baru bagi RTS baru yang diajukan berlangsung secepat mungkin agar tidak terjadi tuntutan di antara warga. "Kami bahkan sudah melakukan pendataan RTS baru untuk mengantisipasi bila suatu saat dibutuhkan data pemutakhiran baru. Karena berdasarkan pengalaman kami di lapangan, yang namanya orang miskin tidak berkurang, tetapi justru bertambah," tambah Didi.

Kepala Desa Cicadas Iyus Rusmana mengatakan, sampai saat ini kartu BLT masih ditahan di kelurahan dan menunggu selesainya pendataan secara serempak di seluruh Kecamatan Cibeunying Kidul. "Kebijakan ini dilakukan agar tidak terjadi salah persepsi atau prasangka di antara warga. Kalau semua kelurahan sudah terdata, kami segera membagikan," jelasnya

A01
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network