Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Tumpukan Sampah Menggunung di Bantaran Sungai Cisangkuy





SOREANG,(PRLM).-Perilaku warga masyarakat yang masih membuang sampah seenaknya membuat bantaran Sungai Cisangkuy Kp. Rancaengang, Desa Rancamulya, Kec. Pameungpeuk, dipenuhi tumpukan sampah. Kondisi itu menyebabkan bau tak sedap dan sebagian sampah masuk ke aliran sungai sehingga mencemarinya.

Menurut seorang warga, Solihin, tumpukan sampah sepajang 10 meter itu dibiarkan sehingga makin tinggi. "Tidak ada kepedulian dari warga sekitar dan aparat setempat agar tumpukan sampah segera dibersihkan," katanya, Sabtu (20/4).

Tumpukan sampah sebagian besar plastik seperti bekas kantong kresek. "Tak jauh dari tumpukan sampah terdapat tempat pemulung. Mungkin sampah-sampah plastik yang tak berharga dibuang dan ditambah sampah dari warga," katanya.

Solihin mengimbau kepada aparat desa, kecamatan, maupun Pemkab Bandung untuk membersihkan tumpukan sampah tersebut. "Warga siap dikerahkan asalkan ada truk sampah sehingga bantaran sungai menjadi bersih," katanya.(A-71/A-107)***

Rabu, 10 April 2013

Virus H7N9 di Cina Sudah Renggut Sembilan Nyawa

Rabu, 10 April 2013, 12:17 WIB


Para dokter dan perawat menghadiri pelatihan perawatan terhadap infeksi virus H7N9 di sebuah rumah sakit di Hangzhou, Provinsi Zheijiang, 5 April 2013, di mana seorang pasien di rawat di sana.  


REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- Korban meninggal akibat flu burung jenis baru di Cina naik menjadi sembilan orang, kata media pemerintah yang juga mengutip pernyataan pihak berwenang Cina yang mengatakan vaksin untuk virus tersebut mesti tersedia dalam beberapa bulan ini.

Korban terakhir adalah seorang warga dari provinsi Anhui, lapor kantor berita Xinhua.

Virus H7N9, yang dipastikan menyerang manusia untuk pertama kali bulan lalu, sejauh ini sudah menulari 28 orang, seluruhnya di Cina timur, dan sembilan di antara mereka meninggal, demikian data dari Komisi Nasional Kesehatan dan Keluarga Berencana Cina yang disiarkan Xinhua.

Tambahan korban termasuk empat orang yang tertular, yaitu dua di Shanghai dan dua lagi di Provinsi Zhejiang dan salah satunya dalam keadaan kritis, tulis Xinhua.

Menurut Jurnal Keamanan Cina pada Rabu, vaksin untuk virus N7H9 sedang ditangani oleh Badan Pangan dan Obat-Obatan Cina, diharapkan pada paruh pertama tahun ini sudah bisa beredar di pasar.

Sumber utama penularan belum terungkap, meskipun hasil pemeriksaan contoh yang diambil dari sejumlah unggas di pasar positif menunjukkan keberadaan virus tersebut, dan hal itu tetap menjadi pusat perhatian untuk penyelidikan oleh pemerintah China dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Redaktur : Yudha Manggala P Putra
Sumber : Antara

Masalah Perubahan Iklim di Indonesia dan Solusi Antar-generas

Perubahan Iklim


Jumat, 5 April 2013 | 19:26 WIB


Oleh Agus Supangat
Beberapa kajian dan proyeksi iklim dari lembaga dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa iklim di Indonesia telah mengalami perubahan, meskipun analisis ilmiah maupun data-datanya masih terbatas. Dari beberapa kajian tersebut tampak bahwa perubahan iklim memberi dampak terhadap multisektor.

Proyeksi iklim selalu mengandung ketidakpastian. Mengapa? Karena tantangan terbesar adalah melakukan kuantifikasi terhadap ketidakpastian tersebut untuk meningkatkan daya gunanya dalam mengambil keputusan.

Dalam hal proyeksi iklim berdasarkan Global Climate Model (GCM), setidaknya terdapat tiga sumber ketidakpastian yang harus diperhitungkan, yaitu skenario emisi gas rumah kaca, sensitivitas iklim global terhadap emisi gas rumah kaca (pemilihan model GCM), dan respon sistem iklim regional terhadap pemanasan global (model downscalling).

Catatan geologi dan crhyospheric perubahan iklim serta hasil observasi baru-baru ini menunjukkan bahwa sistem iklim berubah pada semua skala waktu dari beberapa tahun ke usia Bumi. Semua proses fisika, kimiawi, dan biologis mempengaruhi sistem iklim pada skala waktu puluhan, ratusan, dan ribuan tahun.

Sebagai contoh, gletser di puncak Jaya Wijaya berfluktuasi pada skala waktu dari tahunan sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Sejak revolusi industri, gas karbondioksida dipancarkan melalui pembakaran bahan bakar fosil dan akan diserap, didaur ulang, kemudian bergerak di antara atmosfer laut serta biosfer selama puluhan sampai ribuan tahun.

Hal paling penting dalam sains kebumian adalah data dari hasil pengamatan yang memadai. Tanpanya, prediksi tak akan terlalu banyak manfaat untuk mengambil keputusan. Penyempurnaan perlu terus dilakukan untuk mengatasi keterbatasan data maupun metodologi kajian perubahan iklim di Indonesia sehingga mampu memenuhi nasional akan kebutuhan informasi soal perubahan iklim yang lebih akurat.

Pengembangan dan perbaikan model sebagai alat, tidak banyak gunanya tanpa data. Jika kita tak mulai bergerak mulai hari ini, data pengamatan akan hilang selamanya. Kesulitan besar bagi para ilmuwan adalah mencoba memahami dan memprediksi sistem iklim dengan durasi terbatas ditambah data pengamatan yang sangat tidak memadai dibandingkan usia Bumi.

Sebagai gambaran, termometer baru ditemukan awal abad ke-17. Pengamatan atmosfer dengan cakupan global baru dilakukan akhir perang dunia kedua. Bahkan pengamatan laut skala global baru dimulai awal 1990-an. Terlebih lagi data bahang untuk gletser Greenland dan Antartika yang baru digarap awal abad 21. Data paleo memberikan catatan beberapa variabel (misalnya konsentrasi rata-rata karbondioksida global dari inti es) tetapi masih kasar dengan presisi terbatas untuk skala ruang dan waktu tertentu.

Gelombang permukaan laut memiliki periode dominan kurang dari satu detik. Gagasan untuk memahami fenomena seperti demikian merupakan gagasan tidak masuk akal. Para ilmuwan mencoba memahami sistem iklim namun harus berhadapan dengan masalah sulit untuk memahami fenomena fisik yang melebihi skala waktu dan rentang kehidupan manusia. Siapa yang mengklaim dapat memahami dampak gangguan besar terhadap sistem iklim berdasarkan data 10 tahun?

Memahami perubahan iklim akhirnya merupakan masalah bagi beberapa generasi. Sebuah generasi ilmuwan harus berkarya untuk kebutuhan generasi penerus, tidak berfokus hanya pada produktivitas ilmiah sesaat. Model iklim saat ini mungkin akan terbukti dalam 100 tahun mendatang. Dengan sampel cukup, kalibrasi secara hati-hati, pengendalian kualitas, dan data arsip untuk elemen kunci sistem iklim maka suatu model iklim akan sangat berguna. Masalah antar-generasi ini dihadapi pemerintah atau presiden dari partai apapun.

Prakiraan cuaca dan layanan cuaca nasional sering dianalogikan dengan masalah iklim. Tapi pengamatan dengan durasi lama memerlukan pendekatan yang sangat berbeda dibandingkan keperluan jangka pendek, seperti dalam prediksi cuaca.

Penggunaan data cuaca sebagai catatan iklim telah banyak dilakukan namun kalibrasi yang tidak memadai membuat dokumentasi menjadi amat lemah. Selain itu, terjadi kesenjangan temporal dan perubahan teknologi yang tidak terdokumentasi atau bahkan kurang dipahami. Pada akhirnya, penggunaan data tersebut terbukti meragukan dan tidak berguna.

Penggunaan sensor kelembaban pada radiosonde adalah contoh kasus perubahan teknologi dan kompromi perbedaan serius antar negara dalam menggunakan data cuaca untuk studi iklim (Thompson dkk.) sekaligus menunjukkan betapa sulitnya interpretasi data yang tampak sederhana untuk kemudian ditetapkan sebagai suhu permukaan laut.

Instansi pemerintah saat ini sudah dapat memberikan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan mendesak dari masyarakat, misalnya dalam meramalkan gelombang badai.
Namun pemerintah belum melakukannya dengan baik dalam pengamatan jangka panjang.

Merancang, memelihara, dan mengatasi evolusi teknis pengamatan iklim adalah persoalan sulit yang butuh wawasan mendalam terhadap sifat masalah, teknologi, serta potensi yang tersedia. Ini tidak dapat dilakukan melalui kebijaksanaan sistem anggaran tahun ke tahun.

Yang dibutuhkan adalah paradigma kebijakan yang masih asing bagi sistem anggaran pemerintahan konvensional dengan jangkauan sampai puluhan tahun dan seterusnya. Ketidaksinkronan anggaran tahunan membuat semua program berisiko. Contohnya yaitu pembangunan sistem pengamatan iklim yang dimulai dengan administrasi namun berakhir dengan persoalan politik sehingga fatal akibatnya.

Menggambarkan dan memahami variabilitas puluhan tahun di laut bukan perkara mudah. Perlu kajian ilmiah yang jujur mengakui perlunya catatan jauh lebih lama daripada observasi yang tersedia sekarang. Ilmuwan muda tertarik pada fenomena tersebut namun tidak dapat melakukannya dalam jangka panjang. Jika masyarakat tidak menemukan cara untuk mendukung karir ilmiah yang diarahkan pada masalah tersebut, kita tak akan pernah memahami masalah mendasar yang penting ini.

Apa yang harus dilakukan?
Beberapa contoh yang relatif berumur panjang yaitu lembaga yang terfokus seperti universitas. Meskipun kesinambungan intelektualnya dapat diperdebatkan, universitas-universitas menunjukkan kemungkinan penciptaan infrastruktur dan perangkat penelitian iklim yang berguna antar-generasi.

Pendekatan yang mungkin dilakukan membutuhkan dedikasi sektor swasta atau pribadi dengan mempertahankan para ilmuwan terbaik yang bersedia mencurahkan sebagian waktu mereka untuk mengawasi aliran data bagi para ilmuwan generasi masa depan.

Cara lainnya adalah mempertahankan organisasi yang memiliki kompetensi ilmiah dan teknis selama puluhan hingga ratusan tahun. Sektor publik, swasta, nasional, dan lembaga mitra internasional memerlukan langkah ini untuk mengatasi kebijakan anggaran tahunan yang konvensional sehingga lebih akurat, menyajikan manajemen perkembangan teknologi yang jauh lebih baik, dan memperdalam pemahaman sehingga terhindar dari ketertinggalan dan penurunan kualitas.

Tanpa menggarisbawahi perubahan iklim sebagai masalah antar-generasi, proyeksi iklim dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim akan tetap kurang sempurna dan jauh dari kata memadai dalam menghadapi tantangan yang membentang di depan mata.

Dr Agus Supangat bertugas di Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim sebagai Koordinator Divisi Peningkatan Kapasitas Penelitian dan Pengembangan

Editor : Nasru Alam Aziz
 

Dana Penanganan Banjir di Jawa Barat Mencapai Rp 5 Triliun

Selasa, 12 Maret 2013, 18:36 WIB

Banjir melanda Bandung


REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Untuk menangani banjir tahunan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta, Jawa barat  dan sekitarnya, Pemprov Jabar mengusulkan dana Rp 5 triliun ke pemerintah pusat. Menurut Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, usulan proposal anggaran tersebut akan digunakan untuk kebutuhan struktur dan non struktur. ''Anggaran Rp 5 triliun itu akan digunakan untuk perbaikan sungai dari mulai Situ Cisanti sampai Saguling. Kebutuhan strukturnya dan non struktur,'' ujar Heryawan, Senin (11/3).

Heryawan mengatakan, kebutuhan pembangunan infrastruktur sudah mulai dilakukan. Contohnya, di Bojong Soang sudah diperbaiki. Sekarang, tinggal kawasan hulu harus ditanggulangi dengan baik.

Untuk kawasan hulu, kata dia, konservasi tidak dibatasi berapa banyak pohon yang bisa ditanam di lokasi tersebut. Asal, pemeliharaan pohonnya diperhatikan.

Heryawan mengatakan, dalam setiap kesempatan Pemprov Jabar selalu memberikan saran agar penanganan banjir di Jakarta dan sekitarnya tidak hanya dilakukan dari struktur saja. Namun, masalah non struktur harus jadi perhatian juga. ''Selama ini, urusan banjir anggarannya di APBN yang nyata hanya untuk urusan struktur. Misalnya, normalisasi sungai, pengerukan sungai, dan perbaikan tanggul,'' katanya.

Padahal, kata dia, kalau struktur sungai dilakukan pengerukan maka 3 tahun lagi tanpa ada konservasi di bagian hulu, sungai bisa penuh lumpur lagi. Pemprov Jabar, tidak pernah bosan mengingatkan masalah perbaikan non struktur ini pada semua pihak. ''Saya tidak bosan mengusulkan soal non struktur. Yang penting, semua pihak mengomentari dan tercatat kalau non struktur jadi bagian yang penting,'' katanya.

Dalam pertemuan terakhir soal banjir, kata dia, semua memiliki komitmen untuk memperhatikan masalah non struktur ini. Nanti, akan ada pembicaraan lagi dengan DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat.


Reporter : Arie Lukihardianti
Redaktur : M Irwan Ariefyanto

Rabu, 10 November 2010

Ahli Jepang Ukur Volume Magma Merapi

Laporan wartawan KOMPAS.com Tjatur Wiharyo
Rabu, 10 November 2010 | 14:11 WIB


KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Lelehan lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Desa Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Senin (1/11/2010). Gunung Merapi mengeluarkan awan panas pada siang harinya dan mengakibatkan kepanikan pengungsi yang sedang berada di sejumlah barak pengungsian.


YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Mengukur volume magma Merapi dikatakan vulkanolog Jepang, Masato Iguchi, sebagai program utamanya. Hal tersebut dikatakannya ketika memantau aktivitas Merapi bersama dengan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, di Kantor BPPTK Yogyakarta, Rabu (10/11/2010).

"Berapa banyak magma yang tersisa menjadi program terpenting. Kami belum tahu berapa volume sekarang," ujar Iguchi. Ia berkunjung ke Indonesia untuk meneliti aktivitas Merapi saat ini, yang menurut sejumlah kalangan lain dari biasanya.

Ia akan bekerja dengan arahan dari Surono dan sejumlah ahli lain. Dikatakan Surono, kehadiran ahli asing bukan karena sumber daya manusia lokal tidak mampu, melainkan karena Merapi adalah laboratorium alam yang terbuka bagi semua peneliti.

"Ini bukan karena tidak mampu, tetapi karena Merapi adalah laboratorium alam, yang setiap ahli boleh menelitinya," ujar Surono.

Editor: Tri Wahono |

Kamis, 05 Juni 2008

Charging Ahead

A smart power strip delivers just the right amount of juice

By Dan Fost
Posted 06.04.2008 at 6:21 pm


Greenplug: Photo by Greg Neumaier


A new type of charger called the Green Plug aims to replace the pile of power bricks under your desk with a hub that powers multiple devices at once, but only when they need it. The idea behind the system, due out early next year, is that software in gadgets would let them tell the hub exactly how much power they need. When its battery is full, the device tells the Green Plug to cut the juice. Current chargers keep drawing a small amount of power as long as they’re plugged into an outlet. (This overcharging also reduces battery life.) The company estimates that large homes could save up to $30 a year by replacing their standard chargers with smart hubs.

The Green Plug uses the USB ports common on small gadgets such as MP3 players. For bigger items, like laptops, it has proposed a modified USB connection with extra wires that delivers more power. The company says it has signed on manufacturers that, early next year, will sell gadgets such as monitors and digital picture frames with traditional chargers and the Green Plug software. A five-port charging hub will sell for about $100, with possible rebates from utilities.