Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 April 2014

Jepang Bantu Peningkatan Kemampuan Iptek Pemuda Indonesia

Program Jenesys 2.0



JAKARTA, (PRLM).- Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Japan International Cooperation Center (JICE) dan Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia menyelenggarakan Program Jenesys 2.0.

Program yang meningkatkan kemampuan kapasitas iptek para pemuda ini merupakan kerjasama regional di ASEAN Committee and Science and Technology (ASEAN Cost) yang memfasilitasi pertukaran pemuda Jepang dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.
“Program ini sangat bermanfaat bagi Indonesia untuk meningkatkan kemampuan iptek para pemuda dalam rangka meningkatkan daya saing,” ucap Sekretaris Menteri Riset dan Teknologi Hari Purwanto pada acara konferensi pers Jenesys 2.0 di Jakarta, Kamis (17/4/2014).

Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang banyak, untuk pembangunan kedepan para pemuda harus meningkatkan kemampuannya dalam bidang iptek, karena kalau tidak ditingkatkan bisa ketinggalan. “Oleh karena itu, kita melakukan kerjasama dengan Jepang menyelenggarakan program ini, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan iptek para pemuda,” ungkapnya.

Sementara itu, Asdep Jaringan Iptek Internasional Kemristek Nada Marsudi dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pada tahun 2014 ini, Jenesys 2.0 Science & Technology, 8th batch telah membuka kesempatan kepada para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan dengan berkunjung ke Jepang pada tanggal 22-29 April 2014.

Beberapa persyaratan untuk mengikuti program tersebut antara lain adalah pemuda merupakan mahasiswa aktif berusia 18-30 tahun, baik program S1 maupun S2, diutamakan yang terkait dengan urban planning (teknik sipil,arsitek, planologi, aekeologi, dan lain-lain jurusan/program studi pendukung lainnya), serta mengirm sejumlah dokumen lainnya.
Sejak aplikasi pendaftaran Jenesys 2.0 Sciene & Technology 8th batch ditutup pada tanggal 12 Maret 2014, Kemristek telah menerima sejumlah 886 aplikasi. Jumlah aplikasi kandidat terbanyak ITB sebanyak 149, UGM sebanyak 132, UI sebanyak 121. Selain itu, Kemristek juga menerima aplikasi lainnya dari perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia. Dari sejumlah aplikasi tersebut sebanyak 96 orang sudah dinyatakan lolos seleksi program Jenesys 2.0.

Pada Kamis (17/4), Menristek Gusti Muhammad Hatta secara resmi melepas peserta program tersebut yang akan berangkat ke Jepang. Pemerintah Jepang dalam hal ini menanggung biaya yang dikeluarkan untuk keberangkatan peserta beserta empat mentor/supervisor selama di Jepang (biaya akomodasi selama di Jepang, transportasi lokal, meals, termasuk tiket perjalanan Jakarta-Tokyo pulang pergi. (A-88/kominfo)***

Sabtu, 20 April 2013

Usut Selisih Anggaran UN Rp 25.000 per Siswa

Alokasi Rp 55.000 per Siswa, Digunakan Rp 30.000


JAKARTA, (PRLM).- Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pertanyakan anggaran pengadaan soal ujian nasional yang dinilai tidak sesuai dengan jumlah anggaran yang telah disetujui. Anggaran APBN yang dialokasikan untuk soal ujian nasional, seharusnya Rp 55 ribu bagi setiap siswa, namun ternyata hanya Rp 30 ribu, sehingga terdapat selisih anggaran sebesar Rp 25 ribu.

Pernyataan tersebut, dikemukakan anggota DPD Istibsyaroh, saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk 'Kisruh Ujian Nasional', di gedung DPD, Jakarta, Jumat (19/4).

Menurut dia, persoalan itu sudah dipertanyakan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sayangnya, hingga saat ini pihaknya belum mendapat jawaban pasti. "Jadi yang Rp 25 ribu di kemanakan? Kalau dikalikan dengan sekian juta siswa yang mengikuti ujian nasional, kan banyak sekali jumlahnya. Dalam berbagai kesempatan, kami sudah mempertanyakan persoalan ini ke Kemendikbud, tapi sampai sekarang kami belum memperoleh jawaban konkret," tegas Istibsyaroh.

Ia mengatakan, dengan adanya selisih tersebut, maka terindikasi terjadinya korupsi.
Namun untuk memastikan itu, ia meminta aparat penegak hukum melakukan penelusuran lebih mendalam. “Selain hanya diberikan Rp 30 ribu/siswa, tidak sedikit pula siswa di beberapa sekolah yang dipungut dengan alasan untuk keperluan konsumsi dan keamanan. Padahal seharusnya, semua biaya untuk itu, sudah diatur dan disepakati untuk diambil dari APBN,” ujar Istibsyaroh menambahkan.

Karenanya, ia mendorong Komite III DPD yang membidangi hukum, untuk melakukan langkah-langkah dorongan agar institusi penegak hukum melakukan penelusuran dugaan terjadinya korupsi pengadaan soal ujian nasional tersebut.

"Sebetulnya, saya tidak berwenang untuk mendorong-dorong agar penegak hukum menelusuri hal itu. Yang seharusnya mendorong, adalah teman-teman yang ada di Komite III. Saya kan sekarang di Komite I,” ujarnya lebih lanjut. (A-109/A_88)***

Tumpukan Sampah Menggunung di Bantaran Sungai Cisangkuy





SOREANG,(PRLM).-Perilaku warga masyarakat yang masih membuang sampah seenaknya membuat bantaran Sungai Cisangkuy Kp. Rancaengang, Desa Rancamulya, Kec. Pameungpeuk, dipenuhi tumpukan sampah. Kondisi itu menyebabkan bau tak sedap dan sebagian sampah masuk ke aliran sungai sehingga mencemarinya.

Menurut seorang warga, Solihin, tumpukan sampah sepajang 10 meter itu dibiarkan sehingga makin tinggi. "Tidak ada kepedulian dari warga sekitar dan aparat setempat agar tumpukan sampah segera dibersihkan," katanya, Sabtu (20/4).

Tumpukan sampah sebagian besar plastik seperti bekas kantong kresek. "Tak jauh dari tumpukan sampah terdapat tempat pemulung. Mungkin sampah-sampah plastik yang tak berharga dibuang dan ditambah sampah dari warga," katanya.

Solihin mengimbau kepada aparat desa, kecamatan, maupun Pemkab Bandung untuk membersihkan tumpukan sampah tersebut. "Warga siap dikerahkan asalkan ada truk sampah sehingga bantaran sungai menjadi bersih," katanya.(A-71/A-107)***

Jumat, 19 April 2013

Ujian Matematika, Peserta Bebas Pakai Ponsel

Penulis : Kontributor Polewali, Junaedi | Jumat, 19 April 2013 | 15:17 WIB


 
Kompas.com/ Junaedi
Meski peserta dilarang membawa catatan dan ponsel untuk menghindari kecurangan, namun sejumlah siswa di Polewlai Mandar tetap menggunkan ponsel layaknya kalkulator dalam Ujian Nasional hari kedua, Jumat (19/2).



POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Ujian nasional tingkat SMA, SMK, MA, dan sederajat hari kedua, Jumat (19/4/2013), di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, diwarnai kecurangan dari peserta ujian. Sejumlah peserta ujian di SMK Negeri I Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tertangkap kamera tengah menggunakan telepon seluler sambil mengerjakan soal-soal ujian.

Dalam pantauan Kompas.com, mereka tampak bebas memakai ponsel untuk mengerjakan soal-soal Matematika yang diujikan hari ini. Meski panitia pelaksana ujian dan pengawas ruangan telah mengimbau para peserta ujian agar mengerjakan soal tanpa kecurangan, tetap saja ada peserta yang tak mengindahkan larangan tersebut.

Diduga sejumlah peserta yang curang ini mengelabui pengawas ruangan dengan cara menyembunyikan ponsel di balik rok atau celana sebelum memasuki ruang ujian. Saat mengerjakan soal Matematika ini, mereka tampak leluasa menggunakan ponsel sebagai mesin hitung layaknya kalkulator saat pengawas ruangan lengah.

Selain itu, beberapa siswa juga terlihat membuka catatan yang disimpan di dalam laci meja. Kelakuan para siswa ini jelas-jelas melanggar aturan panitia UN yang melarang peserta membawa ponsel dan buku pelajaran ke dalam ruang ujian. Aturan itu juga berlaku bagi pengawas ujian.

Editor :Farid Assifa

SMKN3 Baleendah Mengadakan Rekrutmen Tenaga Kerja






SOREANG, (PRLM).- Sebagai upaya menyalurkan siswa kelas XII dan alumni yang belum bekerja, SMKN 3 Baleendah mengadakan rekrutmen tenaga kerja. Gelar rekrutmen bekerja sama dengan perusahaan jaringan swalayan, produsen sepeda motor, perusahaan farmasi, dan produsen makanan ternak.

"SMKN 3 Baleendah sudah memiliki kerja sama dengan puluhan industri yang setiap tahun mengadakan rekrutmen tenaga kerja dari siswa kelas XII dan alumni," kata Kepala SMKN 3 Baleendah. Hj. Adah Rodiyah, didampingi Wakasek Hubungan Industri, Deni Rustendi, Jumat (19/4/2013), di ruang kerjanya.

Jumlah siswa kelas XII sebanyak 297 anak yang terbagi dalam program Keahlian Agrobisnis Pembibitan, Akuntansi, dan Pemasaran. "Sudah di atas 250 siswa kelas XII yang sudah terekrut dunia industri sehingga kalau sudah lulus langsung bekerja.Bahkan, belum menerima ijazah juga sudah bekerja sehingga berdoa agar Ujian Nasional (UN) berhasil," ujarnya.

Untuk persyaratan di sebuah jaringan swalayan, kata Adah, minimal dengan tinggi badan 153 cm. Dalam pengukuran tinggi badan itu seorang siswi protes karena tinggi badannya kurang dari 153 cm. "Memang tinggi badan saya kurang dari 153 cm, namun kemampuan saya banyak," tuturnya.(A-71/A-147)***

Sabtu, 13 April 2013

Balon Walikota Ridwan Serahkan Gerobak Perpustakaan

Untuk Cerdaskan Warga



ADE BAYU INDRA/"PRLM"
ANGGOTA DPR RI Rachel Maryam mendampingi Ridwan Kamil membaca buku bersama anak-anak, pada acara Pencanangan Gerakan Gerobak Perpustakaan, di Gang Lumbung IV, Jln. Caringin, Babakan Ciparay, Kota Bandung, Kamis (11/4). Gerobak perpustakaan yang rencananya akan disebar ke beberapa tempat itu, merupakan salah satu cara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.*
 
 
BANDUNG, (PRLM).- Bakal Calon Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyerahkan sebuah gerobak buku kepada untuk warga Gang Lumbung 04, RT 03, RW 05 Kelurahan dan Kecamatan Babakan Ciparay, Kamis (11/4/13). Diharapkan adanya gerobak buku tersebut bisa mendorong anak-anak dan warga untuk gemar membaca buku.

Dengan mengenakan kemeja batik, Ridwan Kamil beserta anggota DPR RI dari Partai Gerindra, Rachel Maryam mendorong gerobak buku menuju lapang kecil di Gang sempit tersebut. Keduanya disambut warga beserta anak-anak kecil yang telah menungu. Penyerahan gerobak buku dilakukan oleh Ridwan kepada Wakil Ketua RW 05 Edi Kusnaedi.

Dalam sambutannya, Ridwan menyatakan pemberian gerobak buku tersebut menjadi salah satu mimpi dia untuk memberikan perpustakaan keliling bagi warga Kota Bandung. "Tiap kelurahan dan RW di Kota Bandung punya permasalahan berbeda. Ada yang banjir, ada juga yang tak memiliki tempat bermain untuk anak karena berada di pemukiman padat,"katanya.

Oleh sebab itu, karakter pemukiman Kota Bandung yang berupa gang sempit dengan akses kendaraan yang sulit masuk memerlukan solusi kreatif. "Ini merupakan solusi kecil bagi warga Kota Bandung. Gerobak buku pun hasil karya komunitas kreatif Kota Bandung,"ujar Ridwan.

Menurutnya, jika upaya menumbuhkan minat baca dan membagi pengetahuan melalui gerobak buku berhasil, pembagian gerobak buku lain akan dilakukan di sejumlah tempat di Kota Bandung. "Kita akan lakukan yang sama kepada tempat lain. Saya akan berikan gerobak buku di Ujung berung dan bak sampah di Pajajaran,"ujarnya.

Dikatakan Ridwan, pada prinsipnya, perpustakaan dan teknologi yang mesti mendatangi warga di pemukiman padat. "Kalau ada rezekinya, gerobak buku ini bisa dilengkapi internet,"katanya. (A-201/A-26)**
 

Rabu, 10 April 2013

Rumah Een Sukaesih Akan Jadi Sanggar Belajar Al Barokah

Abdikan Diri Mendidik Siswa Meski Berbaring







SUMEDANG, (PRLM).- Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Sumedang akan menjadikan rumah Een Sukaesih (50) di Dusun Batukarut RT 01/06, Desa Cibeureum Wetan, Kec.
Cimalaka menjadi Sanggar Belajar “Al Barokah”. Di rumah itu lah, Een mengabdikan dirinya membimbing belajar sekaligus memotivasi minat belajar para siswa SD dan SMP.
Walau sambil berbaring di tempat tidur karena keterbatasan fisik badannya, Een tetap berjuang keras tanpa pamrih memberikan tambahan ilmu dan pengetahuan bagi para siswa di luar jam belajar di sekolahnya.

“Bu Een itu pejuang pendidikan sekaligus aktivis sosial. Beliau mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan Sumedang, melalui spiritnya yang luar biasa. Saya menyaksikan langsung, di kamar tidurnya Bu Een memberikan bimbingan belajar dan motivasi terhadap para siswa SD dan SMP di luar jam sekolah. Oleh karena itu, cocok jika rumah Bu Een ini dijadikan sanggar belajar. Sesuai keinginan Bu Een sendiri, sanggar belajar itu diberi nama Sanggar Belajar Al Barokah,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Sumedang, Herman Suryatman di kantornya, Selasa (9/4/13).

Menurut dia, melalui sanggar belajar tersebut, diharapkan aktivitas bimbingan belajar Een itu bisa terangkat ke permukaan hingga menjadi acuan dan contoh bagi sanggar belajar lainnya di Sumedang. Bahkan semangat dan motivasi Een yang luar bisa, harus menjadi teladan sekaligus diterapkan para guru di sekolahnya. Aktivitas bimbingan belajar dengan pendekatan psikologi terhadap para siswa, sekaligus bisa memacu kinerja, program dan kegiatan di lingkungan Disdik sendiri.

“Semangat yang luar biasa pada diri Bu Een ini, harus ditularkan kepada guru lainnya. Dalam kondisi sakit dan keterbatasan fisiknya, beliau mampu berbuat maksimal dan optimal bagi kemajuan pendidikan di Sumedang. Apalagi kita yang normal, seharusnya bisa lebih dari itu. Kita akan mencetak ribuan bahkan jutaan guru yang memiliki spirit seperti Bu Een ini. Keberadaan Bu Een ini, bisa mentransformasi semangat dan motivasi bagi guru lainnya. Semangatnya melampui semangat kita yang normal. Sebagai bentuk apresiasi, kita akan memberikan penghargaan kepada Bu Een pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumedang dan Hardiknas nanti,” ujar Herman. (A-67/A_88)***

Sabtu, 21 Agustus 2010

Peminat Bahasa Jepang Semakin Tinggi

PEMAKAIAN BAHASA JEPANG
Sabtu, 21 Agustus 2010 | 16:58 WIB

shutterstock
Ilustrasi: Pada 2006 lalu di Indonesia ada sekitar 207.000 orang mempelajari bahasa Jepang. Pada 2009 jumlah itu meningkat drastis menjadi 720.000 orang.



JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia merupakan negara ketiga terbanyak yang mempelajari bahasa Jepang setelah China dan Korea Selatan. Beberapa tahun belakangan, jumlah orang Indonesia yang belajar bahasa Jepang terus meningkat.

"Saya melihat perkembangan antara Indonesia Jepang dalam pendidikan semakin baik," ujar Humas Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Tani, pada "Pameran dan Seminar Pendidikan Jepang di Hotel NIKKO, Jakarta Pusat, Sabtu (21/08/2010).

Masaki menjelaskan, pada 2006 lalu di Indonesia ada sekitar 207.000 orang mempelajari bahasa Jepang. Pada 2009 jumlah tersebut meningkat drastis menjadi 720.000 orang.

Menurutnya, bahasa Jepang adalah salah satu modal dasar yang kuat untuk melanjutkan studi ke negeri Nintendo itu. Salah satu contoh layak dipertimbangkannya kesempatan belajar ke Jepang adalah kondisi perekonomian negara tersebut.

"Walaupun belum tumbuh sempurna, tapi masih bersaing di dunia. Jepang akan tetap melaksanakan inovasi," tuturnya.

Dia juga menjelaskan, pendidikan sangat dihargai di Jepang. Hal itu dapat terlihat pada sebagian besar karyawan di Jepang yang terus dijejali dengan berbagai macam pendidikan.

Editor: Latief | Sumber :Tribunnews

Senin, 01 Februari 2010

Basuki, Koran, dan Pendidikan

Selasa, 26 Januari 2010 | 10:25 WIB
KO M PA S / Y U R N A L D I
BASUKI AGUS SUPARNO
TERKAIT:

Oleh: Yurnaldi

Hasil belajar saya jelek dan menjadi bahan tertawaan. Anak pindahan dari Jakarta hanya dapat nilai 3 untuk ulangan Fisika.
-- Basuki Agus Suparno

KOMPAS.com — Ada catatan menarik setelah Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia meluluskan doktor ke-42, Basuki Agus Suparno, Kamis (14/1/2010) lalu. Promotor Prof M Alwi Dahlan, PhD mengatakan, yang membedakan Doktor Basuki dengan 41 doktor lain dari Ilmu Komunikasi UI adalah dia merupakan satu-satunya sosok yang memulai karier komunikasi dari bawah, sebagai loper koran.

"Untuk mewujudkan mimpinya meraih jenjang pendidikan tertinggi, Basuki, anak kedelapan dari sembilan bersaudara keluarga buruh ini, pernah menjadi pengasong di gerbong kereta api dan distributor gula pasir dari rumah ke rumah," kata Alwi Dahlan bangga, saat membacakan catatannya tentang Basuki.

Kebanggaan lain juga dikemukakan kopromotor Prof Sasa Djuarsa Sendjaja, PhD. Seusai Sidang Terbuka Senat Akademik UI, katanya, "Kajian disertasi Basuki itu menarik dalam studi komunikasi politik karena memfokuskan pada bahasa politik terkait dengan berbagai pemaknaan dan clash of argument tentang reformasi di Indonesia".

Basuki, lanjut Sasa, meneliti bagaimana kontestasi makna reformasi dalam drama politik pada 1997-1998 di Indonesia dan bagaimana para aktor politik berkomunikasi (political talks) tentang reformasi dalam drama politik itu. Hasil penelitian Basuki menunjukkan, selama 1997-1998 terdapat lima keadaan obyektif yang memperlihatkan panggung drama (scene) di mana reformasi dipikirkan dan saling bersaing. Alwi Dahlan menyarankan agar disertasi Basuki diolah menjadi buku.

Basuki melakukan penelitian dengan memanfaatkan surat kabar Kompas selama tahun 1997-1998. Ia mencermati pernyataan-pernyataan para aktor politik yang didukung data dari wawancara menjadi sesuatu yang menarik.

Menurut dia, ada lima keadaan obyektif yang memperlihatkan panggung drama, di mana reformasi dipikirkan dan saling bersaing. Pertama, situasi pencalonan presiden masa bakti 1998-2003 yang memperlihatkan kompetisi, saling bersaing antara mereka yang menginginkan Presiden Soeharto tak dicalonkan dan yang tetap menginginkannya.

Kedua, aksi dan demonstrasi mahasiswa. Di sini ada persaingan antara mereka yang menghentikan gerakan serta yang berkeinginan memperluas gerakan dan tingkat partisipasi guna menjatuhkan Soeharto.

Ketiga, kerusuhan massa yang memperlihatkan persaingan pemikiran antara yang melihat itu sebagai akibat kesenjangan sosial dan pembangkangan sipil. Keempat, krisis ekonomi, persaingan antara prinsip-prinsip ekonomi bebas dan ekonomi yang proteksionisme dan monopoli. Kelima, posisi ABRI dilematis, memberikan ruang kepada tuntutan reformasi atau mempertahankan kekuasaan dan pemerintahan.

"Hasilnya, Soeharto menyatakan berhenti, rezim Orde Baru diganti, dwifungsi ABRI dicabut, amandemen UUD 1945, berbagai kebijakan ekonomi dicabut, keterbukaan dan kebebasan pers, serta kekuasaan dikompetisikan secara terbuka," ujarnya.

Penelitian Basuki berimplikasi teoretis dalam kajian komunikasi, juga berimplikasi terhadap kajian politik dan sejarah. Kata dia, telaah yang perlu dikembangkan lebih jauh sebagai implikasi teoretis bagi kajian sejarah adalah menguji otentisitas pernyataan-pernyataan yang terekam di Kompas hingga segi-segi ini dapat mencerminkan sejarah perubahan kekuasaan yang sebenarnya penuh ironi.

"Jejak komunikasi itu dapat dikembangkan lebih jauh untuk menguji presentasi sosial para aktor politik, nilai-nilai yang diperjuangkan, segi perubahan itu sendiri, dan konstelasi kekuatan dan kekuasaan yang terbentuk dan berguna bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Semangat loper

Basuki menyadari, ia bisa meraih gelar doktor dengan kelulusan cum laude karena tempaan kehidupan yang penuh liku-liku. Ketika ayahnya, Suwoyo Wirusumitro, diberhentikan jadi buruh pabrik gula di Sragen, ayahnya mengadu nasib ke Jakarta menjadi tukang batu.

Beban hidup dan pekerjaan yang berat membuat sang ayah meninggal pada 1983. Maka ibundanya, Sugiyanti, dan adiknya pulang ke Sragen. Basuki, yang saat itu kelas II SMP 50 Jakarta, juga pulang kampung.

"Di kampung ada modal hidup berupa 20 batang pohon kelapa. Untuk makan sehari-hari, saya mengupas kelapa, Ibu yang menjual. Hasil belajar saya jelek dan menjadi bahan tertawaan. Anak pindahan dari Jakarta hanya dapat nilai 3 untuk ulangan Fisika. Tertawaan teman membuat saya termotivasi belajar otodidak. Saya berhasil lulus dan diterima di SMA Negeri I Sragen," katanya.

Basuki ingin masuk fakultas kedokteran atau jurusan kimia, tetapi ia tak lulus tes. Menyadari sang ibu tak mampu, ia memilih berjualan koran untuk hidup dan kuliah.

"Hari pertama saya jual koran, hanya laku tiga eksemplar dan dapat uang Rp 300. Esoknya saya beranikan diri masuk-keluar kantor dan dapat Rp 1.000. Hari-hari berikutnya saya bisa menabung Rp 6.000 dan dalam setahun tabungan saya jadi Rp 300.000," ujarnya.

Seusai berjualan koran sekitar pukul 14.00, Basuki mengasong di gerbong kereta api jurusan Klaten-Bandung dan Klaten-Surabaya. Semua hasil jualan itu dia simpan. Basuki lalu memilih kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS).

Ia tak lagi menjadi pengecer koran, tetapi loper koran. Kesibukan itu membuat dia sering terlambat kuliah. Sekitar enam tahun menjadi loper koran, ia mengantongi penghasilan sekitar Rp 60.000 per bulan.

Lulus S-1 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,2, selain berjualan koran ia juga berjualan gula pasir dari rumah ke rumah. Modal awalnya satu karung gula pasir seharga Rp 100.000.

Dari hari ke hari pelanggan Basuki bertambah, ia memerlukan 3 ton gula pasir per bulan untuk melayani sekitar 300 pelanggan. Ketika ada peluang menjadi dosen pada 1997, temannya, Sigit Tripambudi, memotivasi, bahkan membuatkan lamaran untuk Basuki.

Ketika dinyatakan lulus, ia berhenti menjadi loper koran dan distributor gula. Ia menjadi dosen tetap UPN Veteran Yogyakarta. Studi S-2 di UNS dia selesaikan dengan IPK 3,8 dan predikat cum laude.

Ia juga mendapat beasiswa S-3 di Universitas Indonesia, yang diselesaikannya selama 4,5 tahun. "Kalau ada kemauan, Tuhan memberikan jalan. Sesuatu yang tak mungkin, bisa mungkin asal ada cita-cita dan keberanian untuk mewujudkannya. Suka-duka hidup itu menjadi energi positif mencapai keberhasilan," katanya.

Asyik... Tersedia 25 Beasiswa S-1 ke Rusia

Senin, 1 Februari 2010 | 11:09 WIB


shutterstock
University of Moscow. Khusus beasiswa jenjang S-1 ini, skema beasiswa dari pemerintah Federasi Rusia ini senilai 1100 rubel atau 30,5 USD per bulan.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Federasi Rusia menawarkan para pelajar dan peniliti Indonesia sebanyak 35 beasiswa untuk jenjang pendidikan S-1 (Bachelor), dan S-2 (Magister), dan jenjang S-3 (Aspirantura), pos-doktoral (Doktorantura), serta penelitian/pelatihan (Stazhirovka). Dari jumlah tersebut, 25 beasiswa disediakan khusus untuk jenjang S-1.

Beasiswa disediakan untuk semua ilmu alam, ilmu teknik, ilmu sosial, serta ilmu humaniora. Beasiswa tidak diberikan untuk mereka yang ingin menimba ilmu hubungan internasional, seni, dan olahraga. Untuk bidang studi hukum dan ilmu politik pun masing-masing hanya tersedia satu beasiswa, sedangkan kedokteran hanya tersedia dua beasiswa.

Beasiswa juga tersedia untuk ilmu-ilmu khusus seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, ekonomi dan manajemen, spesialisasi interdisipliner ilmu alam, geologi dan sumber daya mineral, eksplorasi mineral, ilmu energi dan teknik mesin pembangkit, metalurgi, konstruksi mesin dan pemrosesan material, penerbangan, roket dan teknologi angkasa, teknologi maritim, peralatan transportasi darat, teknologi pertambangan dan perlengkapan, teknik elektro, pengendalian alat-alat gedung; radioteknik dan komunikasi, automasi dan kontrol, komputer dan informatika, eksploitasi transportasi, teknologi kimia, reproduksi dan proses sumber daya kehutanan, teknologi makanan, teknologi komoditas konsumen, arsitektur dan ilmu konstruksi, geodesi dan kartografi; agrikultur dan perikanan, ekologi dan pemanfaatan alam, serta kesehatan dan keselamatan.

Syarat utamanya, usia pelamar tidak lebih dari 25 tahun dan saat mendaftarkan beasiswa ini tidak lebih dari 3 tahun setelah tamat SMU. Pelamar juga harus memiliki ijazah SMU setara ijazah SMU di Rusia dengan nilai rata-rata 8,0 atau 80 % untuk mata pelajaran sesuai program studi/jurusan pilihan dan tidak ada angka merah untuk mata pelajaran lain.

Sebelum menimba ilmu, pelamar akan terlebih dulu mengikuti fakultas persiapan selama 1 tahun untuk mempelajari Bahasa Rusia dan mata pelajaran sesuai program studi/jurusan pilihannya.

Khusus beasiswa jenjang S-1 ini, skema beasiswa dari pemerintah Federasi Rusia ini senilai 1100 rubel atau 30,5 USD per bulan, tiket pesawat pergi-pulang Rusia-Indonesia sekitar 900 USD, serta biaya penjemputan atau transportasi dari airport ke tempat tujuan dan registrasi paspor minimal 250 USD (kecuali untuk kota-kota di luar Moskow).

Selain itu, pemerintah Rusia juga akan memberikan asrama mahasiswa sebagai hunian di sana. Hanya, ongkos sewanya dibebankan kepada penerima beasiswa yang nilainya sekitar 30 USD per 6 bulan.

Tertarik? Keterangan lengkap mengenai beasiswa ini bisa menghubungi Defri Mustika (defri_mustika@yahoo.com) di Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia (PIPKR) pada hari kerja Senin-Jumat, 11.00-17.00 WIB. Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia, Jl. Diponegoro 12, Menteng, Jakarta 10310/Tel : 021-31935290.

Kamis, 05 Juni 2008

AusAid dan Jepang Bantu Pelatihan dan Dokumen

Kupang, Kompas - Australian Agency for International Development (AusAid) bersama Pemerintah Jepang memberi dana hibah Rp 23 miliar untuk pelatihan dan pemrosesan dokumen bagi tenaga kerja Indonesia serta membentuk lembaga pemantau TKI.

Kepala Badan Nasional Penetapan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2 TKI) Moh Jumhur Hidayat kepada pers, Rabu (4/6) di Kupang, mengatakan, ada empat provinsi basis TKI, yakni Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Pengiriman TKI, demikian Hidayat, memiliki keuntungan, yakni mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Dalam hal ini, BPN2 TKI bekerja sama dengan AusAID dan Jepang membantu para TKI agar bisa mengakses bantuan hukum dan pembiayaan. Kedua masalah ini menjadi persoalan para TKI selama ini.

”Saat ini jumlah TKI legal di luar negeri 4 juta lebih. Jika ditambah tenaga ilegal, menjadi 6 juta. Mereka rata-rata berpenghasilan Rp 800.000-Rp 2 juta per bulan atau Rp 9,6 juta-Rp 24 juta per tahun,” kata Hidayat.

Tahun 2008, NTT mengirim 12.000-15.000 TKI legal, belum termasuk TKI ilegal. Jika pemerintah daerah setempat mendukung kegiatan ini, pengiriman TKI legal itu bisa mencapai 30.000 orang per tahun.

”Pengangguran berkurang, sebaliknya uang masuk dalam jumlah besar bagi provinsi tersebut. Dengan pendapatan Rp 9,6 juta-Rp 24 juta per tahun, satu TKI mampu menghidupi 10-20 orang. Ini jauh lebih menguntungkan daripada mereka tinggal di Indonesia dan tidak memiliki pekerjaan tetap,” katanya.

Hal ini bukan berarti pemerintah tidak bertanggung jawab membuka lapangan kerja. Namun, dalam kondisi perekonomian Indonesia seperti sekarang, keberangkatan TKI masih sangat diandalkan, bahkan jadi tumpuan bagi masyarakat di daerah-daerah tertentu.

Hidayat mengimbau pemerintah daerah agar juga mengucurkan dana bagi proses pelatihan dan penyediaan dokumen keberangkatan para TKI. Beberapa kabupaten di NTT telah mengucurkan dana hibah bagi proses keberangkatan TKI ke Malaysia, seperti Belu, Rote Ndao, dan Timor Tengah Selatan.

Provinsi NTT tahun 2004 mengucurkan dana Rp 350 juta untuk proses keberangkatan para TKI ke Malasysia dengan sistem dana bergulir sampai tahun 2006. Namun, sampai tahun 2008, dana yang dikembalikan baru Rp 28 juta. (KOR)

Kamis, 29 Mei 2008

Pemilik Kartun Porno Komputer Terancam Bui

Fino Yurio Kristo - detikinet



Ilustrasi (ist.)

London - Melalui komputer, hampir segala macam gambar bisa direkayasa, tak luput pula gambar kartun tentang pornografi anak.

Namun tentu saja, gambar pornografi anak semacam itu tidak dapat ditoleransi. Demikian dikatakan pemerintah Inggris seperti dikutip detikINET dari AFP, Kamis (29/5/2008).

Karenanya, sebuah proposal peraturan sedang digodog sehingga mereka yang memiliki gambar semacam itu di Inggris, bakal dikenai hukuman penjara sampai 3 tahun lamanya.

Menteri Kehakiman Inggris, Maria Eagle memaparkan, peraturan ini sama sekali tidak ditujukan untuk mengekang kreativitas ataupun kebebasan berekspresi di negeri Ratu Elizabeth itu.

"Peraturan ini demi menangkal peredaran gambar porno anak yang tidak punya tempat sama sekali dalam masyarakat kita," tandas Maria Eagle.

Proposal pemerintah mengenai larangan kartun komputer itu memerlukan persetujuan parlemen Inggris terlebih dahulu sebelum bisa diberlakukan sebagai aturan hukum.

Bagaimana pendapat Anda soal penerapan hukum cyber? ( fyk / fyk )

Rabu, 28 Mei 2008

Siapkan Diri Sebelum ke Negeri Orang

Friday, 23 May 2008



DISKUSI : Beberapa mahasiswi program double degree Universitas Indonesia (UI) sedang berdiskusi untuk menyelesaikan salah satu tugas.

DIAN,18,sempat terkejut saat masuk ke program double degreeFakultas Psikologi UI yang menjalin kerjasama dengan University of Queensland Australia (UQ). Jadwal kuliah ternyata sangat padat, berbeda sekali dengan saat SMA dulu.Indraswari Sinta Ramadhiani, begitu nama panjang gadis cantik ini, sejak awal memang ingin sekali kuliah ke luar negeri.

Australia adalah incarannya. Bagi dia, kualitas pendidikan di luar negeri lebih baik daripada kuliah di dalam negeri. Karena itu, dia berkeras menyampaikan keinginan itu kepada sang ibu sesaat sebelum dia lulus dari SMA Al- Izhar,Pondok Labu.“Tetapi, mama agak tidak setuju. Dia khawatir ada apa-apa dengan saya. Sendirian lagi di negeri orang,” katanya saat ditemui di Kampus Fakultas Psikologi UI Depok, Rabu (22/5) kemarin.

Setelah berembuk, akhirnya tercapai win-win solution dengan sang mama. Gadis yang hobi jalan-jalan ini akhirnya masuk ke program double degree Fakultas Psikologi UI atau yang lebih dikenal dengan sebutan twinning programitu. Karena itulah, Dian memutuskan tidak ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB).Ternyata,masuk di kelas internasional tidak seperti bayangannya semula.

“Jadwal kuliah sangat padat. Lebih padat dari mahasiswa reguler,”lanjutnya. Padatnya jadwal kuliah ini karena mata kuliah mahasiswa double degree umumnya memang dimampatkan. Pemampatan ini untuk mendapatkan kesetaraan kurikulum dengan universitas luar negeri yang jadi tujuan. Pada twinning program, setiap mahasiswa berkuliah selama 4 semester di UI.

Mereka tidak bisa memilih sendiri mata kuliah yang ingin diambil.Semuanya sudah dipaket oleh fakultas.Untuk semester pertama dan kedua,setiap mahasiswa mendapatkan beban 20 SKS.Di semester tiga,mereka mendapat jatah 19 SKS dan terakhir di semester empat mendapatkan jatah 13 SKS. “Tugasnya banyak, hampir tiap hari ada tugas.Akhir pekan pun banyak diisi dengan mengerjakan tugas,”tukasnya.

Meski jadwal kuliahnya padat, Dian mengaku tidak menyesal memilih twinning program.Bagi dia,jadwal yang padat jadi persiapan untuk menyesuaikan diri dengan iklim kuliah saat di Australia nanti. Dari pembicaraan dengan para seniornya, Dian mengungkapkan, di Australia nanti, jadwal kuliahnya hanya sedikit lebih padat dari di Indonesia.“Kalau begini, kami kan tidak kaget kalau sudah di sana,” tuturnya.

Sahabat Dian, Akisa Gestantya, 18,sepakat jadwal kuliah mereka memang padat. Tetapi,terang gadis berwajah tirus ini, padatnya jadwal kuliah bukan satu-satunya kendala yang harus dihadapi mahasiswa twinning program. “Kami juga harus bersiap untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Jika tidak memenuhi syarat kemampuan bahasa Inggris, kami tidak bisa berangkat ke Australia,”paparnya.

Tentu saja kemampuan bahasa Inggris jadi sangat penting jika ingin kuliah di luar negeri. Setiap lulusan SMA yang ingin masuk ke twinning program, harus punya Test of English as a Foreign Language (TOEFL) minimal 500 atau tes lain yang setara. Saat hendak berangkat ke University of Quensland, nilai itu harus naik menjadi minimal 570 plus nilai writing (menulis) 5.Tanpa syarat itu, hanya ucapan selamat tinggal yang ada.

Meski punya jadwal kuliah yang padat dan kerja keras untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, sepasang sahabat itu mengaku tidak mengalami persoalan dalam pergaulan di kampus. “Kami tidak merasa eksklusif. Sebab,pihak kampus juga tidak memberikan perbedaan perlakuan pada kami,” jelas Akisa.

Keduanya mengungkapkan, semua anak twinning programbisa bergaul dengan anak-anak reguler dengan baik. Mereka sering dilibatkan dalam hampir semua kegiatan mahasiswa.“Malah, beberapa dari mereka sering berdiskusi dengan kami sebab ada beberapa mata kuliah yang sudah diberikan ke kami, tetapi belum diberikan ke anak reguler,”papar Akisa.

Sementara Lini Handayani, 19, mengaku, meski kelas double degree-nya di jurusan S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Trisakti baru di mulai September nanti, dirinya telah bersiap-siap untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.“Itu yang paling utama. Kalau soal jadwal kuliah yang padat,tinggal bagaimana cara kita membagi waktu,” paparnya.

Lini bercerita,setelah kelas di Indonesia selesai, dia akan berangkat ke Edith Cowan University, Perth, Australia.Di sana, dia akan mengerjakan tesis selama 3 bulan. Setelah kelar, tesis itu akan diuji di Indonesia.Selain kemampuan berbahasa Inggris, Lini kini terus mengasah kemandiriannya.

Dia yakin, tanpa kemandirian, semua yang dilakukan diIndonesiaakansia-siaketika sampai di Australia nanti.“Jadi, waktu di Indonesia,semuanya harus siap,”paparnya. Double degree tampaknya jadi cara efektif bagi mahasiswa untuk menyesuaikan diri sebelum pergi sekolah ke seberang.(helmi firdaus)

Tiga Siswa Indonesia Raih Medali Emas IYIPO

Wednesday, 28 May 2008



BERPRESTASI: Tiga siswa Indonesia saat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, kemarin.

TANGERANG (SINDO) – Tiga siswa asal Indonesia sukses meraih medali emas dalam ajang International Young Inventor Project Olympiad (IYIPO) yang diadakan di Tbilisi, Georgia, 15–17 Mei 2008.

Ketiganya kemarin tiba di Bandara Internasional Soekarno- Hatta, Tangerang, Banten, pukul 16.30 WIB. Ketiga siswa tersebut yakni Yoseph dari SMA Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Kabupaten Tangerang, serta Muhammad Farhan Barona dan Erfan Ramadhani dari SMA Fatih, Banda Aceh. Mereka terbagi dalam dua tim. Tim pertama, Yoseph menang dalam bidang matematics-computer application.

Tim kedua, Muhammad Farhan Barona dan Erfan Ramadhani unggul dalam bidang biologi. Ketiganya berhak atas medali emas setelah menyisihkan peserta dari 36 negara. Dari seluruh peserta, terdapat 108 proyek ilmiah dan selanjutnya disaring hingga terpilih 30 proyek dari 22 negara peserta, seperti Jerman, Rumania, dan India. Yoseph mengusung proyeknya berjudul ”Numerical Solution of Heat Equation” berhasil meraih posisi pertama menyingkirkan finalis lainnya.

Dia meneliti penggabungan antara teori matematis dan aplikasi komputer. Yoseph berusaha menganalisa penyebaran panas pada bidang dua dimensi lewat metode dasar yang dia pakai, yakni explicit finite difference dan implicit crank-nicolson numerical solution. Dia mencoba melihat bagaimana dapat memprediksi dan menghitung penyebaran pada bidang satu dimensi yang nantinya dikembangkan untuk bidang dua dimensi.

Lewat proyeknya tersebut, dia berhasil memberikan gambaran bahwa teori matematis tidak hanya teori di atas kertas, tetapi juga memiliki sisi aplikatifnya. Pengetahuan akan penghitungan penyebaran panas tersebut sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Dia mencontohkan untuk isolasi bangunanbangunan dari panas agar tidak terganggu perubahan cuaca atau bahan-bahan listrik yang menghantarkan energi panas.

”Proyek ini untuk memudahkan para insinyur,” kata anak kedua dari tiga bersaudara itu kepada SINDO. Sementara Muhammad Farhan Barona dan Erfan Ramadhani menang atas proyeknya berjudul ”Neutralizing Contaminated See Water by Mangroves”. Keduanya menunjukkan manfaat dan kegunaan tanaman bakau yang selama ini lebih sering dianggap sebagai tanaman liar. Mereka melihat bahwa sebagian besar lingkungan perairan di dunia telah dikotori limbah bahan kimia berbahaya dari sisa kegiatan pabrik dan industri berupa racun logam.

”Saya mengambil contoh ini di Jakarta pada tanggal 31 September lalu,” ujar Farhan. Atas prestasinya, ketiga siswa ini kemarin mendapat sambutan meriah saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah teman mereka datang beserta rombongan dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Direktur Pembinaan SMA Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Sungkowo mengatakan, keberhasilan Yoseph, Farhan, dan Erfan semakin melengkapi prestasi yang telah ditorehkan selama ini di kancah internasional.

”Saya bangga dengan mereka, karena itu kita sudah mengusulkan kepada presiden agar mereka mendapat perhargaan Satyalencana Wirakarya,” katanya. Selain itu, dirinya berjanji memfasilitasi apa yang dibutuhkan ketiga siswa tersebut untuk mendukung proyek-proyek mereka. (denny irawan)

Senin, 26 Mei 2008

Contoh Passing Grade untuk SNM-PTN

Ini hanya contoh, karena yang sebenarnya setiap perguruan tinggi tidak mengeluarkan Passing Grade.













source: GO

Kapasitas Otak pada Umumnya Dipakai 1 Persen

BANDUNG, (PR).-
Direktur Brainic Institute yang juga pengarang buku Be an Absolute Genius, Sutanto Windura mengatakan, potensi dan kemampuan otak manusia pada dasarnya sama. Bahkan, semua anak adalah genius absolut.

"Tidak ada anak yang bodoh, hanya sebagian besar otak kita tidak terlatih. Bayangkan, pada umumnya potensi dan kapasitas otak manusia hanya dipakai kurang dari 1 persen, sisanya tidak pernah dipakai dan dilatih dengan baik," kata Sutanto dalam diskusi dan bedah buku terbatas Be an Absolute Genius di Toko Buku Gramedia, Jln. Merdeka Bandung, Sabtu (24/5).

Menurut Sutanto, jika saja manusia menggunakan 8 persen kapasitas dan potensi otaknya, dia akan menjadi profesor dan ahli dalam berbagai bidang. Dia pun akan mampu menguasai sedikitnya 18 bahasa asing.

Sutanto yang kerap disebut sebagai pelatih otak ini menuturkan, kecerdasan seseorang sebenarnya tidak ditentukan oleh IQ yang tinggi. Salah besar jika hanya anak ber-IQ tinggi yang dikatakan genius.

"Apakah dengan IQ tinggi dia bisa berhasil dalam hidupnya? Berhasil dalam hal akademik mungkin sebab IQ hanya ditentukan oleh dua elemen kecerdasan di dalam otak, yakni bahasa dan logika. Sementara secara keseluruhan, otak memiliki 8 elemen kecerdasan, termasuk kecerdasan bergaul, bergerak, dan lain-lain," tuturnya.

Menurut Sutanto, semua orang bisa menjadi genius asalkan otaknya dikelola dengan baik. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri harus dijaga agar keduanya bisa bekerja secara seimbang. Otak pun harus dibiarkan bekerja secara alami sesuai dengan fungsi otak sebagaimana mestinya.

"Sistem pembelajaran di sekolah yang konvensional mayoritas hanya mengoptimalkan kerja otak kiri dengan menjejali materi pembelajaran tanpa diberi tahu bagaimana cara belajar," ungkapnya.

Padahal, kata Sutanto dengan menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri maka hasil pembelajaran yang diperoleh akan maksimal. Keseimbangan antara kemampuan otak kiri dalam mengenal tulisan, bahasa, angka, menganalisis, logika, dan hitungan, dengan kemampuan kerja otak kanan yang mengatur konseptual, seni/musik, gambar, warna, emosi, imajinasi, dimensi, sampai melamun akan menghasilkan manusia genius.

"Tidak perlu terus memberikan materi pelajaran yang berjubel dan hanya menyuruh siswa untuk mencatat. Sesekali biarkan daya imajinasi anak berkembang. Lakukan berbagai cara pengajaran dan diselingi dengan praktik," katanya.

Kendati demikian, Sutanto mengaku cukup sulit mengubah cara belajar konvensional di sekolah. Solusinya adalah orang tua harus tahu dan paham bagaimana mengoptimalkan kemampuan anak dalam belajar di rumah. Bagaimana agar anak menyukai belajar seperti halnya mereka menyukai Play Station dan nonton kartun.

"Libatkan selalu otak kanan dalam setiap pembelajaran anak. Analogkan dengan gambar, warna, dimensi, atau ruang sehingga lebih mudah diingat. Tekankan juga mengenai manfaat satu mata pelajaran jika anak sudah tidak suka dengan mata pelajaran tersebut. Ciptakan suasana positif dalam belajar, jadikan belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan," tuturnya. (A-157)***

Persiapan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri

Beberapa persiapan SNM-PTN





















Source: GO