Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

Teleskop Kepler Deteksi Dua Planet Mirip Bumi



WASHINGTON, (PRLM).- Dua planet menjadi kandidat terkuat untuk menjadi kembaran bumi.

Para ilmuan mengatakan kedua planet bernama Kepler-62e dan Kepler-62f ini memiliki ukuran dan jarak yang tepat dari bintang orbit mereka, sehingga ada kemungkinan besar permukaan planet mengandung air.

Namun kepastiannya sulit untuk diketahui karena mereka terletak di Konstelasi Lyra yang berjarak 1.200 tahun cahaya dari bumi.

Jarak sejauh itu tidak memungkinkan teknologi teleskop bumi untuk mendeteksi secara detil.

Tetapi para ilmuan mengatakan pada Science Magazine bahwa temuan ini sangat menakjubkan.

"Kedua planet itu adalah kandidat terkuat dari daftar planet yang bisa didiami," kata Bill Borucki yang memimpin tim operasional teleskop Kepler di Badan Antariksa AS, NASA.
Para peneliti menyebut Kepler-62e dan Kepler-62f sebagai "super Earths" karena dimensi mereka satu setengah kali lebih besar dari bumi.

Berdasarkan ukuran, para ilmuan menduga planet ini memiliki tekstur berbatu, seperti bumi, atau memiliki bagian yang terbuat dari es.

Kepler hingga saat ini berhasil memastikan keberadaan lebih dari 100 planet di luar sistem galaksi Bima Sakti sejak 2009. (bbc/A-108)***

Kamis, 11 November 2010

Panel Surya di Luar Angkasa, Mungkinkah?

Kamis, 11 November 2010 | 11:34 WIB

NASA
Ilustrasi panel surya di luar angkasa

KOMPAS.com - Mencari solusi dari krisis energi yang kini dihadapi, sebuah rencana baru penggunaan tenaga surya dicetuskan. Dengan rencana baru itu, sinar matahari akan dikumpulkan langsung di luar angkasa menggunakan satelit dan akhirnya ditembakkan langsung ke bumi agar bisa dipergunakan.

Inisiatif rencana tersebut datang dari mantan presiden India APJ Kalam dan National Space Society (NSS). Rencana itu diungkapkan pada hari Kamis tanggal 4 November yang lalu.

"Pengumpulan tenaga surya berbasis luar angkasa ini akan mengubah bumi menjadi planet yang bersih, menjanjikan dan membahagiakan," kata kalam saat menghadiri press conference rencana itu.

Rencananya sendiri secara detail adalah meluncurkan satelit yang memiliki panel surya berukuran besar. Satelit itu akan mengumpulkan energi matahari dalam jumlah besar dan kemudian mengubahnya menjadi gelombang mikro yang akan dipancarkan ke bumi. gelombang mikro itu lalu akan diubah menjadi energi listrik oleh antena penerima yang disebut rectenna.

Panel surya berbasis luar angkasa itu bisa diarahkan ke berbagai wilayah di bumi dan tidak akan terpengaruh oleh perubahan cuaca maupun pergantian siang dan malam. Hal tersebut dikatakan oleh Mark Hopkins, ketua komite eksekutif National Space Society.

Hopkins juga mengatakan, teknologi itu mampu mengirimkan energi dalam jumlah besar tanpa membahayakan lingkungan. " Teknologi ini tidak menghasilkan karbon dioksida. Jadi, sangat bersih dan merupakan sumber energi yang bisa diperbaharui," katanya.

Meski sangat menjanjikan, pengembangan teknologi ini masih menghadapi kendala teknis. Namun, kalam tetap percaya bahwa ide ini tetap bisa diwujudkan dalam 15 tahun ke depan. Ia akan berusaha untuk mengajak negara-negara G8 dan G13 untuk bergabung dan melaksanakan ide tersebut.

Pencetusan rencana ini menandai kerjasama Amerika Serikat yang diwakili NSS dengan India. Para pencetus gagasan percaya, eksekusi dari rencana ini tidak hanya menguntungkan dari sisi energi. "Kerjasama ini juga akan menciptakan lapangan kerja di kedua negara," jelas Hopkins.

Dalam kerjasama ini, Amerika Serikat akan memberi sumbangsih dalam biang teknologi sementara India akan berperan dalam mengupayakan ongkos produksi yang murah.

news.yahoo.com
Sumber :
Penulis: Yunanto Wiji Utomo | Editor: A. Wisnubrata

Rabu, 01 September 2010

Plastik Oxium Terurai dalam Dua Tahun

Produk Ramah Lingkungan
Selasa, 31 Agustus 2010 | 22:49 WIB

Sabrina Asril
Plastik Oxium mendapatkan Green Label dari InSWA (Indonesia Solid Waste Association) karena mampu terurai secara alami dalam waktu singkat yakni 2 tahun


JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak orang beranggapan plastik adalah bahan non-organik yang berasal dari petroleum. Padahal, petroleum itu sendiri berasal dari plankton-plaknton yang kemudian menjadi minyak bumi dan akhirnya dijadikan bahan dasar plastik.

"Banyak orang menyalahkan plastik karena non-organik. Itu salah. Justru plastik itu organik. Hanya memang sulit terurai dia bisa diurai 500-1000 tahun lamanya. Ini yang jadi masalah kenapa plastik itu tidak ramah lingkungan bukan karena dia non organik," ujar Presiden Direktur PT Tirta Marta, Sugianto Tandio, Selasa (31/8/2010), saat jumpa pers di Grand Indonesia, Jakarta.

Lanjutnya, bahan plastik sering kali menjadi kambing hitam, karena dianggap merusak lingkungan. Akan tetapi, manusia sebenarnya tidak dapat memungkiri bahwa plastik masih menjadi bahan kemasan favorit. Hal ini karena plastik memiliki karakter berbiaya murah, berbobot ringan, praktis, dan tidak mudah pecah.

"Dengan demikian yang harus dilakukan saat ini adalah bukan memusuhi plastik, tapi mempercepat proses penguraian plastik, yang awalnya ribuan tahun jadi bisa lebih singkat," ujarnya kepada pers.

Oleh karena itu, melalui perusahannya, PT Mitra Tirta, Sugianto kemudian mengembangkan produk plastik yang ditambahkan Oxium. Oxium merupakan aditif yang dapat mempercepat terjadinya proses degradasi plastik dalam waktu 2 tahun melalui oksidasi, thermal, dan fotodegradasi.

"Dari mana Oxium ini terbentuk? Kalau itu saya tidak bisa beritahu yang jelas bahan baku Oxium ini berasal dari manusia, jadi bisa dipastikan aman," ungkap Sugianto.

Retailer di beberapa kota besar telah menggunakan Oxium sebagai shopping bag, seperti Carrefour, Indomaret, Alfamart, Superindo, Hero, Giant, Gramedia, Zara, Time Zone, Kemchicks, Guardian, dan Premium Factory Outlet.

"Ke depannya kita masih berusaha mendekati untuk penggunaan plastik produk kemasan," ujarnya.

Menurut Sugianto, upayanya ini memang merupakan langkah kecil dalam menyelamatkan lingkungan karena masih banyak penggunaan plastik lainnya yang masih belum dijangkau Oxium.

"Untuk sampah plastik retail modern mencapai 35.000 ton/hari. Coba bandingkan dengan total konsumsi plastik di Indonesia yang mencapai 3 juta ton/hari, jelas PR kita masih banyak," tandasnya.

Dengan inovasi yang dilakukan PT Tirta Marta ini, asosiasi pengelolaan sampah Indonesia atau InSWA pun memberikan sertifikasi Green Label pada produk plastik Oxium. "Dengan menggunakan plastik terurai, sampah plastik diharapkan tidak lagi menumpuk, menghambat saluran air, dan tanah dapat berfungsi kembali sebagai penyerap air hujan," Sugianto menjelaskan.

Penulis: Sabrina Asril | Editor: Tri Wahono

Sabtu, 14 Agustus 2010

Laba-laba Raksasa Memangsa Burung

Sabtu, 14 Agustus 2010 | 10:16 WIB
telegraph
Foto laba-laba memangsa burung mengejutkan ahli marga satwa , foto itu diambil di daerah Atheron, dekat hutan tropis Queensland, Australia.


KOMPAS.com — Joel Shakespeare, seorang petugas yang bekerja di Australian Reptile Park, menyatakan, laba-laba tersebut merupakan jenis Golden Orb Weaver. “Biasanya mereka menangkap serangga besar… sangat jarang mereka menangkap seekor burung,” ungkapnya kepada ninemsn.com.

Selain itu, dia menambahkan, laba-laba Golden Orb Weaver ini ukurannya sebesar telapak tangan manusia, tetapi spesies yang sama di bagian utara daerah itu diketahui ukurannya lebih besar lagi.

Menurut pihak Museum Queensland, burung tersebut adalah jenis Chestnut-breasted Mannikin. Joel Shakespeare menambahkan, “Burung itu pasti terbang ke arah sarang laba-laba tersebut dan terjerat di sana, laba-laba itu akan menyantapnya habis.”

“Laba-laba itu akan menggunakan racunnya untuk melunakkan dagingnya dan apa yang tersisa hanyalah 'bungkusnya',” ujarnya.

Pihak Museum Queensland, Greg Czechura, mengatakan, ”Memang diketahui secara umum, laba-laba jenis ini menangkap burung berukuran kecil, tetapi hal ini jarang terjadi. Laba-laba ini membangun sarang yang sangat kuat, tetapi dia tidak akan menggigit dan menyerang burung itu hingga burung itu lemah kehabisan tenaga,” ujarnya.

Laba-laba Golden Orb Weaver ini membangun pusaran jeratnya yang kuat dengan kandungan protein yang tinggi karena dia sangat bergantung padanya untuk menangkap serangga besar sebagai mangsanya. (telegraph.co.uk)

Senin, 01 Februari 2010

Sadis, Bunga Raflesia Ini Dipotong Satu Kelopaknya

Senin, 25 Januari 2010 | 18:53 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com - Bunga Raflesia (Raflesia arnoldi) yang sedang mekar sempurna di Km 40 jalan lintas Kota Bengkulu-Kepahiang dirusak oknum tak bertanggungjawab dengan memotong salah satu kelopak bunganya.

Anggota tim Peduli Puspa Langka Tebat Monok Kabupaten Kepahiang, Holidin mengatakan bunga tersebut mekar hanya berjarak 2 meter dari badan jalan sehingga sangat mudah dijangkau pengunjung.

"Kami tidak tahu siapa yang memotong kelopak ini karena tidak ada penjagaan saat malam hari,"katanya, Senin.

Bunga langka yang mekar sempurna itu masih ramai didatangi pengunjung yang ingin melihat keindahan bunganya.

Salah seorang pengunjung, Musiardanis mengatakan merasa kecewa dengan tindakan tidak terpuji itu.

"Bangsa lain ada yang mengklaim bunga ini saking unik dan langkanya, tetapi masyarakat kita sendiri sama sekali tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara, malah merusak,"katanya.

Bunga Raflesia yang normalnya memiliki lima kelopak, dengan dipotongnya satu kelopak tersebut hanya tinggal empat sehingga membuat bunga itu kurang menarik untuk dipandang.

Menurut Kabag Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu, Supartono mengatakan Hutan Lindung (HL) Bukit Daun merupakan habitat Bunga Raflesia dan memang sering ditemui bunga yang sedang mekar.

Kamis, 05 Februari 2009

Jepang Kloning Sapi Legendaris Sebelum Mammoth

Dua sapi hasil kloning dipamerkan di pusat peternakan Prefektur Gifu di Kota Takayama, bagian tengah Jepang, Kamis (8/1).


TOKYO, JUMAT — Memasuki Tahun Sapi (Year of Ox) di awal tahun 2009 ini, para ilmuwan Jepang mengumumkan kesuksesannya mengkloning sapi legendaris khas Jepang. Keberhasilan tersebut tidak sekadar prestasi baru penelitian bioteknologi di Jepang, tetapi membuka kesempatan untuk menyediakan stok pangan berkualitas yang terjamin di masa depan.

Jenis sapi yang berhasil dikloning adalah Hida-gyu yang merupakan sapi khas Prefektur Gifu, bagian tengah Jepang. Para peneliti dari Universitas Kinki dan lembaga riset peternakan Gifu berhasil menghasilkan empat ekor sapi kloning antara November 2007 dan Juli 2008. Namun, hanya dua ekor yang bertahan hidup sampai sekarang.

Keempat sapi kloning tersebut dikembangbiakkan dari sel testikel seekor sapi legendaris yang diberi nama Yasufuku yang merupakan cikal bakal sapi Hida-gyu. Testikel tersebut telah dibekukan selama 13 tahun sejak kematiannya.

Keberhasilan kloning sapi Hidqa-gyu ini menjanjikan dunia peternakan Jepang karena jenis sapi tersebut dikenal berkualitas tinggi dan berharga mahal. Pemerintah Jepang telah membentuk panel untuk menilai kelayakan daging kloning untuk konsumsi dan kelihatannya segera mengizinkannya seperti yang dilakukan Pemerintah AS dan negara-negara Eropa.

Namun, para peneliti mengatakan, tujuan utama riset saat ini adalah mempelajari jenis gen dan struktur protein yang membuat daging sapi Hida-gyu lebih lezat. Perlakukan terhadap sapi Hida-gyu memang terkenal unik karena sering kali peternak memberikan makanan sampanye dan secara rutin memijatnya.

Selain meneliti kualitas daging sapi, para ilmuwan Jepang juga menjadikannya batu loncatan sebelum menggapai ambisinya mengkloning hewan-hewan yang telah punah. Antara lain mammoth, sejenis gajah yang hidup di zaman es.

"Mimpi kami menciptakan mammoth, itulah mimpi besarnya," ujar Kazuhiro Saeki, profesor di Universitas Kinki seperti dilansir AFP. Saat ini para peneliti telah menemukan sumber sel mammoth dari Siberia. Namun, mereka belum berhasil menemukan cara mengekstrak dan menanam inti sel mammoth ke dalam sel telur gajah yang merupakan hewan paling dekat kekerabatannya sebelum menaruhnya ke dalam rahim gajah betina.


WAH

Akhirnya Indonesia Punya Atlas Nasional Resmi


Tpgimages

JAKARTA, KAMIS - Setelah enam dasawarsa semenjak Indonesia merdeka akhirnya Indonesia memiliki Atlas Nasional yang mengandung informasi resmi tentang Indonesia untuk pertama kalinya.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), R.W. Batinas, sebelumnya Indonesia hanya memiliki Atlas Hindia Belanda yang merupakan hasil peninggalan dari masa pemerintah kolonial Belanda yang dibuat pada tahun 1938. Hal tersebut disampaikannya ketika membuka acara peluncuran atlas nasional Indonesia di Hotel Sahid, Jakarta (5/2).

Lebih lanjut ia menjelaskan, atlas nasional ini diharapkan dapat digunakan sebagai media promosi tentang Indonesia dan media pembelajaran. "Nantinya kita akan meluncurkan dua jenis atlas nasional ini.Selain kita akan meluncurkan dalam bentuk buku tercetak, kita juga akan meluncurkannya dalam bentuk web Atlas Nasional Indonesia yang dapat diakses melalui internet untuk mempermudah akses sehingga manfaat atlas ini sebagai media promosi dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik" jelas Batinas.

Atlas nasional ini nantinya akan terdiri dari tiga volume. "Kita bersama-sama dengan pihak-pihak yang terkait lainnya akan merampungkan dua volume lagi yang belum selesai.Mudah-mudahan kita akan menyelesaikannya pada tahun 2010 nanti," ujar Batinas.

Atlas nasional ini dapat diperoleh publik melalui Pusat Jasa dan Informasi Bakosurtanal.


C3-09

Senin, 11 Agustus 2008

Susun Kata Menjadi Gambar


PCPLUS

PCPLUS
Gambar asli sebelum diolah menjadi ASCII art.

ASCII art — karya gambar yang tercipta dari susunan karakter huruf atau angka — memang unik. Teknik ini memungkinkan Anda membuat bentuk muka dari baris-baris teks. Pokoknya keren deh kalau dijadikan avatar atau foto di Friendster atau Facebook.

Untuk membuatnya, banyak program khusus tersedia, yang biasanya disebut ASCII Converter atau ASCII Generator. Namun, dengan sedikit teknik, Anda bisa membuatnya dengan lebih fleksibel dan apik lewat Adobe Photoshop CS3. 
Begini caranya.


1. Buka foto di area kerja Photoshop. Gandakan layer foto tersebut dengan menekan [Ctrl] + [J] di keyboard. Ubahlah layer hasil gandaan tersebut menjadi monokrom dengan mengklik [Image] > [Adjusments] > [Hue/Saturation...]. 

2. Pada boks dialog yang tampil, atur slider "Saturation:" ke pojok kiri sampai maksimal. Atur slider "Lightness:" untuk mengatur pencahayaan foto. Jika sudah, klik [OK]. Tegaskan warna monokrom dengan mengatur kontras. Klik [Image] > [Adjustments] > [Brightness/Contrast...]. Atur slider "Brightness:" & "Contrast:" pada boks sampai foto tampil lebih tajam. Klik [OK].

3. Buat layer kosong dengan mengklik tombol [Create a new layer] bergambar lembar kertas di bagian bawah palette Layers. Bubuhi warna hitam dengan menekan [Shift] + [F5] di keyboard. Pilih [Black] pada menu "Use:" di boks Fill, dan klik [OK]. Klik tombol [Horizontal Type Tool] di boks. Klik-tarik pointer pada layar sampai membentuk kotak teks. Atur ukuran kotak sampai seukuran area kerja. 

4. Ketikkan teks sesuka hati. Pilih warna putih untuk teksnya. Pilih karakter huruf yang tidak berkait seperti Arial atau Franklin Gothic. Ukuran font jangan terlalu besar atau terlalu mini. Atur kerapatan antarbaris dan antarhuruf dengan mengklik tombol [Toggle the Character and Paragraph pallettes] di toolbar. Ukuran antarkarakter bisa diatur di menu di bawahnya. Jika sudah, tekan [Enter].

5. Tekan [Shift] di keyboard, lantas klik layer berisi teks dan layer kosong berwarna hitam. Gabungkan keduanya dengan mengklik segitiga di sudut kanan atas palette Layers, lalu pilih [Merge Layers]. Klik icon mata di depan layer berisi teks (hasil penggabungan) hingga menghilang. Berikutnya, klik layer berisi foto monokrom, lalu klik tab [Channel] di palette layers. 

6. Sambil menekan [Ctrl] di keyboard, klik salah satu layer di jendela tab Channel sehingga muncul garis seleksi di foto. Klik tab [Layers], lalu klik kotak di depan layer yang berisi teks sampai icon mata aktif kembali. Pastikan layer berisi teks terpilih. Untuk menerapkan efek agar foto terlihat seperti tersusun dari aksara, klik [Filter] > [Other] > [Maximum...]. 

7. Pada boks Maximum yang muncul, atur nilai "Radius:" ke angka 1 pixels. Akhiri dengan mengklik [OK]. Efek filter ini akan memperlihatkan susunan huruf tetapi kurang memperlihatkan detil wajah. 

8. Ubah seleksi dengan mengklik [Select] > [Inverse]. Terapkan efek filter baru dengan mengklik [Filter] > [Other] > [Minimum...]. Pada boks Minimum, atur slider "Radius:" hingga foto tampil lebih detail dan menonjolkan lekuk wajah. Nilai antara 20-30 pixels sudah mencukupi. Tuntaskan dengan mengklik [OK], lalu tekan [Ctrl] + [D] untuk menghilangkan seleksi.

 Sumber: PCplus 

 

TIP: Software ASCII Art

Banyak aplikasi untuk membuat ASCII art. Beberapa malah bisa di-download gratis. Hasilnya memang sedikit berbeda jika dibandingkan olahan Photoshop CS3 karena tidak memasukkan unsur bayangan dalam hasilnya. Namun jika Anda berminat, beberapa program berikut boleh dijajal.
ASCII Art Studio 2.2 (www.torchsoft.com)
ASCII Art Generator 3.2.4.2 (www.ascii-art-generator.com)
ASCII Art Maker 1.4 (www.altarsoft.com)
Image 2 ASCII Art 2.3 (www.phobosoft.ch)
Cool ASCII 1 (www.download.com)
VerMan's Art Converter 1.5 (www.download.com)

Kamis, 05 Juni 2008

Super-Repellant Surfaces

Millions of nanosize nails form a highly repellent surface

By Day Greenberg
Posted 06.03.2008 at 2:13 pm


Watertight: Photo by Tom Krupenkin


A trio of prismatic drops (left to right: water, ethylene glycol and ethanol) balances on a new ultra-repellent surface invented by scientists at the University of Wisconsin–Madison. The surface, made up of silicon spikes just 400 nanometers wide, physically repels a wide variety of liquids, including water, oil, solvents and detergents.

Previously, scientists relied on chemical modification to make surfaces repel liquids, a time-consuming process. In the end, each coating worked to repel only certain liquids, and oil-repellent surfaces simply weren’t possible to manufacture.

None Shall Pass: The heads of the nanonails support the liquid droplets Photo by University of Wisconsin-Madison


The new surface blocks almost all liquids. Researchers can also turn off the physical barrier: An electric voltage instantly draws liquids down between each spike, where they spread out along the base upon which the spikes sit. This switchable quality makes the surface perfect for controlling liquids in “lab on a chip” chemical reactors, and its super-repellent properties could help keep helicopter blades free of heavy, altitude-robbing water and ice.

Kamis, 29 Mei 2008

Asing dan Lokal Keok, Virus Indo 'Menggila'

Dewi Widya Ningrum - detikinet


Top Malware Januari - April 2008 (Vaksin)

Jakarta - Dominasi virus mancanegara Viking dan virus lokal Rontokbro sebagai virus paling banyak beredar di Indonesia pada 2007, kini tergeser oleh kehadiran virus Indo/blasteran.

Pada kuartal pertama 2008, virus yang paling banyak beredar adalah virus Delf, yakni virus Indo yang merupakan campuran virus mancanegara dan lokal. Varian awal virus ini adalah asli buatan mancanegara yang merupakan backdoor dan trojan yang sudah muncul sejak tahun 2003, tetapi setelah itu banyak bermunculan varian Delf produksi lokal.

Varian virus Delf secara dominan menginfeksi komputer di Indonesia sehingga berhasil menggusur Viking sebagai virus nomor satu paling banyak ditemukan menginfeksi di Indonesia.

Berdasarkan hitung-hitungan statistik Vaksincom yang dikutip detikINET, Kamis (29//5/2008), virus Delf menempati peringkat teratas sebagai virus yang paling banyak beredar di Indonesia dengan 58.696 insiden (31,25%). Delf menggusur Viking di peringkat kedua yang mencatat 40.085 insiden (21,34%).

Di peringkat 3 nangkring virus Indonesia, Autorun, dengan total insiden 13.076 (6,96%). Sementara di peringkat 4 dihuni oleh Dloader yang sebenarnya merupakan Spyware dengan total insiden 7.163 (3,81%), diikuti oleh the notorious Kespo di peringkat 5 yang memakan korban sebanyak 6.968 insiden (3,71%).

Masih menurut Vaksincom, ada satu virus lokal yang cukup "berprestasi" yakni virus Alman atau Almanahe. Virus ini tercatat sudah terdeteksi lebih dari 5 varian menyebar di seluruh Indonesia. Alman duduk di peringkat 9 dengan total insiden 4.459 (2,37%), diikuti oleh VBWorm di peringkat 10 dengan total insiden 3.542 (1,89%).

Jangan anggap enteng VBWorm, karena ada satu varian VBWorm yang bisa menginjeksikan dirinya ke semua file MS Word pada komputer korbannya. Bahkan seluruh file MS Word di komputer yang terinfeksi akan dienkripsi sehingga file itu tidak dapat dibuka.

Berikut daftar 20 virus yang paling banyak menyebar di Indonesia periode Januari - April 2008:

1. Delf ,58.696 insiden (31,25%)
2. Viking, 40.085 insiden (21,34%)
3. Autorun, 13.076 insiden (6,96%)
4. Dloader, 7.163 insiden (3,81%)
5. Kespo, 6.968 insiden (3,71%)
6. Detnat, 6.170 insiden (3,28%)
7. Solow, 6.104 insiden (3,25%)
8. Exploit, 6.082 insiden (3,24%)
9. Alman, 4.459 insiden (2,37%)
10. VBWorm, 3.542 insiden (1,89%)
11. Agent, 3.425 insiden (1,82%)
12. VBTroj, 3.372 insiden (1,80%)
13. Suspicious, 2.890 insiden (1,54%)
14. Rontokbro, 2.493 insiden (1,33%)
15. Lightmoon, 2.144 insiden (1,14%)
16. Sality, 2.059 insiden (1,10%)
17. Malware, 2.037 insiden (1,08%)
18. Qhost, 1.974 insiden (1,05%)
19. Fujack, 1.680 insiden (0,89%)
20. Sohanad, 1.196 insiden (0,64%)
21. Lainnya, 12.225 insiden (6,51%)


Bingung pilih antivirus? Atau ingin diskusi tentang virus? Yuk gabung di detikINET Forum. ( dwn / dwn )

Rabu, 28 Mei 2008

Deepest-Dwelling Life Forms Found

Scientists have found the most extreme single-celled Archaea yet, subsisting on methane nearly three miles below the surface

By Matt Ransford
Posted 05.27.2008 at 12:42 pm


Hot Springs: Archaea were first discovered in extremely hostile environments, such as this hot spring in Yellowstone National Park Photo by the U.S. National Park Service

The Archaea group of organisms has just gotten a little bigger—and quite a bit deeper. Known to scientists as extremophiles—organisms which live in places inhospitable to other forms of life—the Archaea group is home to many single-celled creatures capable of thriving in environments of exceptional temperature, pressure, and acidity. The latest member has been discovered off the coast of Newfoundland, Canada, under 2.8 miles of water and a mile of rock. Previously, the deepest these organisms had been found underground was half as far.

These new Archaea were discovered in a sediment core extracted by a research ship. The scientists analyzing the sample have surmised that the organisms are able to survive off of methane released from hydrocarbons in the stone. The tremendous heat and pressure at that depth cooks the fossil fuel, breaking it down into compounds potentially useful to the Archaea. How they arrived in the bedrock is also something of a mystery; the two leading theories are that they were brought down by water currents or that they have been living in the rock since the days it was formed millions of years ago.

[Via the Guardian]

Robot Flame Mengayunkan Langkah Bak Manusia


TU Delft
Robot Flame seberat 15 kg dan tinggi 1,3 meters melangkah luwes dengan kecepatan 0,45 meter perdetik



Selasa, 27 Mei 2008 | 22:27 WIB

AMSTERDAM, SELASA - Sebuah robot yang dikembangkan di Universitas Teknologi Delft (TU Delft) Belanda dapat berjalan mirip manusia. Ayunan langkahnya tak lagi kaku karena menggunakan teknik mengayun yang terkontrol dengan menjatuhkan beban ke depan.

"Dengan mengadopsi metode ini, robot yang biasanya berjalan dengan kaku dan pelan akan lebih luwes dan bergerak efisien seperti manusia," ujar Daan Hobbelen, ketua tim yang mengembangkannya.

Robot yang diberi nama Flame tersebut memiliki berat 15 kilogram dan tinggi 1,3 meter. Ia memiliki sejumlah persendian di kakinya yang dikendalikan pegas. Sementara itu, sebuah sensor inersia yang disebut organ keseimbangan membantu tubuhnya agar tetap stabil. Semua proses didukung tujuh motor penggerak.

Saat berjalan, kakinya berayun secara bergantian sementara organ penyeimbang akan mengukur jarak langkah agar tak terjatuh. Dengan teknik berjalan seperti manusia, Flame dapat berjalan dengan kecepatan 0,45 meter perdetik.

Hobbelen yakin Flame merupakan robot berkaki dua yang paling canggih saat ini. Cara menir langkah manusia sudah terorganisasi dengan sangat baik. Teknologi tersebut kelak dapat digunakan untuk menggantikan kaki palsu para penyandang tuna daksa sehingga dapat berjalan secara lebih alamiah seperti kaki asli.

WAH
Sumber : LIVESCIENCE

Senin, 26 Mei 2008

Wahana NASA Berhasil Mendarat di Planet Merah




NASA/JPL-Calech/University of Arizona
Ilustrasi saat Phoenix Mars Lander mendarat di permukaan Mars.




Senin, 26 Mei 2008 | 08:43 WIB

PASADENA, SENIN - Wahana ruang angkasa Phoenix milik NASA telah berhasil menembus atmosfer Mars dan mendarat dengan selamat di wilayah kutub utara planet merah itu. Pendaratan Senin pagi (26/5) merupakan awal ekspedisi selama 90 hari di mana wahana akan menggali lapisan es Mars guna mencari unsur-unsur pendukung kehidupan.

Teriakan dan tepuk tangan membahana di pusat pengendali misi Laboratorium Propulsi Jet NASA saat sinyal pendaratan di Phoenix Mars Lander menyala setelah wahana memasuki atmosfer. Detik-detik ini adalah masa kritis misi sehingga saat pendaratan berhasil, para peneliti langsung berpelukan dan bersalaman.
"Dalam bayangan saya, pendaratan tidak akan semulus ini," ujar manajer proyek Barry Goldstein. "Ia langsung menuju sasaran," ujarnya penuh senyum.


NASA/JPL
Kaki-kaki pendarat Phoenix yang difoto dari wahana.



Phoenix memasuki atmosfer Mars dengan kecepatan lebih dari 12.000 mil per jam setelah melakukan perjalanan 10 bulan sejauh 675 juta kilometer di ruang angkasa.

Wahana melakukan tarian elok di langit Mars, antara lain menukik, lalu mengembangkan parasutnya, membuka perisai penahan panas, dan menyalakan pendorong (thruster) untuk memperlambat laju sehingga ia mendarat dengan kecepatan turun hanya 8 kilometer per jam.

Pendaratan ini adalah soft landing pertama yang sukses setelah wahana kembar Viking menyentuh planet merah tahun 1976. Sementara dua rover kembar NASA yang mendarat di Mars empat tahun lalu melakukan pendaratan dengan parasut dan bantalan udara agar bisa memantul di permukaan planet, bukan menggunakan thruster atau pendorong.

Sasaran pendaratan Phoenix adalah sebuah lembah dangkal selebar 48 kilometer di lintang utara planet, serupa dengan lokasi Greenland atau Alaska di Bumi. Titik itu dipilih karena foto-foto ruang angkasa memperlihatkan adanya air beku tersimpan dekat dengan permukaannya.

Seperti wisatawan yang datang ke negara lain, awalnya wahana akan melihat-lihat situasi pada minggu pertama di Mars. Ia akan terhubung dengan Bumi melalui tiga wahana lain yang mengorbit Mars.

Phoenix adalah wahana yang dilengkapi lengan robotik sepanjang 2,5 meter yang bisa dipakai menggali parit untuk mencari lapisan es yang diduga terkubur beberapa inci dari permukaan planet. Ia kemudian akan menganalisa es dan tanah untuk mencari senyawa-senyawa organik yang merupakan unsur-unsur pembentuk kehidupan.


NASA/JPL
Permukaan Mars di lokasi pendaratan Phoenix.



Wahana juga akan mempelajari apakah es itu pernah mencair dalam suatu masa ketika planet Mars memiliki suhu yang lebih hangat dibanding suhu membekukan saat ini.

Namun para peneliti tidak terlalu berharap menemukan air dalam keadaan cair di lokasi pendaratan Phoenix karena suhu di sana terlalu dingin. Tapi mereka yakin bila memang ada unsur-unsur pembentuk kehidupan di sana, unsur-unsur itu pasti bisa ditemukan di es.


NASA/JPL
Wahana Phoenix mengembangkan panel suryanya di permukaan Mars.



Meski begitu, Phoenix tidak bisa mendeteksi sinyal-sinyal kehidupan yang mungkin ada atau pernah ada. Sebelumnya NASA pernah mencari sinyal-sinyal kimia pembentuk kehidupan dalam misi Viking. Namun robot-robot pendarat itu tidak menemukan bukti yang kuat.

Phoenix sendiri dinamai berdasar burung mistis yang lahir kembali dari debunya. Ia "dibangun" dari pengalaman NASA mendaratkan wahana di Mars, yakni Mars Polar Lander yang menghunjam permukaan planet tahun 1999 karena terlalu dini mematikan mesin.

WSN
Sumber : NASA

Sabtu, 24 Mei 2008

One in Eight U.S. Biology Teachers Teaches Creationism

Survey reveals that creationism and ID are hardly extinct in high schools
By Laura Allen
Posted 05.23.2008 at 12:12 pm




Too bad he can’t sub: Are those worry lines, Mr. Darwin? Photo by J. Cameron, 1869

The results of the first national survey of teachers about evolution in their classrooms are in. Darwin would quiver in his boots to learn that in this day and age, one in eight American biology teachers teach creationism and intelligent design as a sound alternative to his theory. In fact, 13 percent of the country’s teachers think they can run an excellent biology class without even mentioning Darwin or evolution. A few findings of note:
The surveyed teachers spent an average of 13.7 classroom hours per year on general evolutionary processes in their biology classes.

The majority spent no more than five hours a year on human evolution, and 17 percent did not cover it all.
Only two percent of teachers did not teach about evolution, human or otherwise, at all.
Thirteen percent of teachers thought an excellent biology course could exist without mentioning Darwin or evolutionary theory.

Twenty-five percent of teachers said that they devoted at least one or two classroom hours to creationism or intelligent design. About half of this subset—one in eight biology teachers—taught it not in critique but as a “valid, scientific alternative to Darwinian explanations for the origin of species” and one that “many reputable scientists” endorse.
Sixteen percent of all teachers surveyed believe personally in the “young earth” story of origins: that human beings were created by God in their present form at one time within the last 10,000 years. About 48 percent of the general public believes this.

The survey, which was conducted by a team of Penn State political scientists last spring, assessed 939 randomly sampled U.S. biology teachers. It appears in PLoS Biology.

http://www.popsci.com/future-human/article/2008-05/one-eight-us-biology-teachers-teaches-creationism

Tungku Alternatif, Hemat Hingga 20 Kali Lipat


AHMAD Radea (40), merapikan kompor rakitannya yang berbahan bakar kayu pada Pameran Gelar Produk PKBL BUMN Expo V 2008 di Graha Manggala Siliwangi Kota Bandung, Rabu (21/5).* ADE BAYU INDRA

KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) bagi pelaku usaha kecil menengah seperti Ahmad Radea (40), tidak harus dihadapi dengan kepanikan. Wirausahawan asal Sumedang ini justru memperkenalkan terobosan baru untuk menghemat pemakaian bahan bakar. Ia menyebutnya "tungku alternatif".

Awalnya, ia hanya mencoba untuk mencari jalan keluar dari pemakaian minyak tanah di pabrik kerupuk yang ia miliki. "Sebelumnya saya selalu menghabiskan 100 liter minyak tanah tiap harinya. Itu kan sudah Rp 350.000,00," kata Radea yang ditemui saat memamerkan produknya dalam Gelar Produk PKBL BUMN Expo V 2008 di Gedung Graha Manggala Siliwangi, Bandung, Jumat (23/5).

Langkah pemerintah untuk kembali menaikkan harga BBM, mau tidak mau pada akhirnya akan menaikkan biaya produksi. Belum lagi, beberapa bulan belakangan minyak tanah menjadi komoditas langka. "Makanya, saya buat tungku ini untuk menggantikan tungku lama yang berbahan bakar minyak tanah supaya lebih hemat," ucap usahawan yang tinggal di Kampung Sirnagalih RT 02 RW 10 Desa Mekargalih, Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang.

Tungku alternatif ciptaannya tidak lagi membutuhkan minyak tanah. Cukup dengan batok kelapa dan kayu sisa, tungku ini sudah mampu menghasilkan bara api. "Tidak hanya batok kelapa, limbah tekstil juga bisa digunakan. Sampah apa pun juga bisa, selama bisa dibakar," tutur Radea.

Tungku alternatif karya Radea ini terbuat dari seng. Untuk sementara ini, dia membeli seng dari Cileunyi. "Orang Cileunyi mengambil dari Krakatau Steel Cilegon. Nanti kalau buat kompornya sudah banyak, ya bisa ngambil ke Cilegon langsung," tuturnya.

Seng tersebut dibentuk melingkar. Di bagian dasar, diberi lapisan yang berasal dari batu tahan panas dicampur seng. Bagian atas digunakan sebagai tatakan, bentuknya seperti kompor minyak pada umumnya, hanya bahannya dari seng. Di bagian yang melingkar terdapat bagian yang menjorok keluar, sehingga lingkarannya tidak berbentuk sempurna. Bagian itu yang digunakan untuk memasukkan bahan bakarnya.

Sebagai wirausaha, Radea menjalankan beberapa usaha. Selain pabrik kerupuk, ia juga seorang perajin patung dari kayu mahoni. Sisa kayu untuk pembuatan patung itu dia gunakan sebagai bahan bakar tungku alternatif di pabrik kerupuknya.

Saat ini, dia sudah membuat sebuah tungku dengan ukuran yang besar di pabrik kerupuknya. Dengan menggunakan tungku baru ciptaannya, Radea bisa menghemat dua puluh kali lipat lebih. Kini tiap hari dia hanya mengeluarkan dana Rp 15.000,00 untuk menyediakan bahan bakarnya. "Biaya produksi jadi bisa ditekan," katanya.

Satu tas plastik tempurung kelapa cukup digunakan untuk memasak nasi hingga matang. "Satu keresek harganya hanya Rp 500,00. Sedikit saja (tempurung kelapanya, red) apinya sudah menyebar sehingga cepat panas," ungkap Radea.

Untuk membuat sebuah tungku berdiameter 40 cm, Radea menghabiskan biaya sekitar Rp 40.000,00. "Harga jualnya Rp 50.000,00. Kalau di pameran ini sekitar Rp 70.000,00 karena kalau di pameran kan harganya untuk satuan. Kalau pesan banyak harganya lain," tuturnya. Pembeli bisa memesan ukuran tungku sesuai dengan kebutuhannya.

Keuntungan menggunakan tungku ini karena tidak ada sisa pembakaran yang ditinggalkan. "Kalau saya pakai kayu bakar biasa, sisa pembakarannya banyak. Itu kan juga sia-sia. Mau digunakan untuk apa arangnya. Kalau pakai tempurung kelapa atau sisa kayu, tidak ada sisanya," tuturnya.

Selain itu, menggunakan tungku ini tidak perlu khawatir jika lupa mematikan kompor. Sebab, begitu bahan bakarnya habis, otomatis mati sendiri. "Yang penting sekarang tidak perlu lagi antre minyak tanah berjam-jam," katanya sambil tertawa.

Saat ini, Radea memang belum banyak memasarkan tungkunya. Ia berharap, karyanya ini bisa menjadi jawaban atas kesulitan masyarakat yang semakin tercekik oleh harga BBM yang semakin melangit. "Sebagai alternatif untuk masyarakat, semoga bisa membantu. Bisa untuk sehari-hari di rumah, maupun untuk usaha," katanya. (Catur Ratna Wulandari)***

Dexterous New Prosthetic Hands

Researchers are developing mechanical mitts with better grip
By Gregory Mone
Posted 04.23.2008 at 11:28 am





FluidHand: Photo by Orthopedic University Hospital in Heidelberg

No, we're still not up to the level of Luke's mechanical hand in Star Wars, but progress does seem to be accelerating. The i-LIMB, from Touch Bionics, debuted last year, and German researchers recently tested it against a new prototype, the Fluidhand. The researchers say both are more dexterous than the industry standard, given that the individual fingers of the mechanical hands can be controlled independently.

A patient at the Orthopedic University Hospital in Heidelberg tried out the i-LIMB and the Fluidhand, and found both to be an improvement over the other models. The battery-powered i-LIMB picks up muscle signals from the patient's stump, and translates them into movement. The Fluidhand is powered by hydraulics, and reportedly makes it easier to grip and hold on to certain objects.

Apparently the patient gave the Fluidhand the edge, but it's not marked for commercial production just yet.

Via PhysOrg

http://www.popsci.com/scitech/article/2008-04/dexterous-new-prosthetic-hands

Kamis, 22 Mei 2008

Supernova Birth Seen For First Time

On January 9, 2008, NASA's Swift observatory caught a bright X-ray burst from an exploding star. Carnegie-Princeton fellows Alicia Soderberg and Edo Berger were on hand to witness this first-of-its-kind event. A few days later, SN 2008D appeared in visible light. (Credit: Image courtesy NASA/Swift Science Team/Stefan Immler)


ScienceDaily (May 21, 2008) — Astronomers have seen the aftermath of spectacular stellar explosions known as supernovae before, but until now no one has witnessed a star dying in real time. While looking at another object in the spiral galaxy NGC 2770, using NASA's orbiting Swift telescope, Carnegie-Princeton fellows* Alicia Soderberg and Edo Berger detected an extremely luminous blast of X-rays released by a supernova explosion. They alerted 8 other orbiting and on-ground telescopes to turn their eyes on this first-of-its-kind event.


"We were in the right place, at the right time, with the right telescope on January 9th and witnessed history," remarked Soderberg. "We were looking at another, older supernova in the galaxy, when the one now known as SN 2008D went off. We would have missed it if it weren't for Swift's real-time capabilities, wide field of view, and numerous instruments." The research appears in the May 22, 2008, in the journal Nature.
Supernovae are the explosions of massive stars--stars more than 8 times the mass of the Sun--whose cores run out of nuclear fuel and collapse in on themselves to form a neutron star or a black hole. In the process they launch a powerful shock wave that blows up the star. Until now, observations of these objects have been of the aftermath, typically several days after the initial explosion, not the first instance of death. Astrophysicists have predicted nearly 4 decades ago that the first sign of a supernova would be an X-ray blast, but none had been witnessed before Soderberg's and Berger's Swift observations.
"Using the most powerful radio, optical, and X-ray telescopes on the ground and in space we were able to observe the evolution of the explosion right from the start," said Berger. "This eventually confirmed that the big X-ray blast marked the birth of a supernova."
This massive across-the-spectrum collaboration looked at SN 2008D for more than 30 days to rule out that the event was anything other than a supernova. They also determined that the object is a typical Type Ibc supernova and measured the size of the star prior to the explosion.
"This first instance of catching the X-ray signature of stellar death is going to help us fill in a lot of gaps about the properties of massive stars, the birth of neutron stars and black holes, and the impact of supernovae on their environments," said Neil Gehrels, principal investigator of the Swift satellite. "We also now know what X-ray pattern to look for. Hopefully we will be able to find many more supernovae at this critical moment."
The potential of finding a large number of supernovae at the time of explosion will also open up avenues of research that previously seemed nearly impossible. In particular, the determination of the exact explosion time will allow searches for neutrino and gravitational wave bursts that are predicted to accompany the collapse of the stellar core and the birth of the neutron star.
"The next generation of X-ray satellites will find hundreds of supernovae every year exactly when they explode," said Soderberg. "I am thrilled that our discovery is leading this new wave of astronomy."
Carnegie-Princeton fellows, Alicia Soderberg and Edo Berger, are postdoctoral fellows jointly with the Carnegie Observatories and Princeton University.

Adapted from materials provided by Carnegie Institution, via EurekAlert!, a service of AAAS.

Friends quit smoking? You probably will too

AFP/File Photo: Turkish students light up in Istanbul in January 2008. A law banning smoking in public...



By ALICIA CHANG, AP Science Writer Wed May 21, 8:16 PM ET
LOS ANGELES - The urge to smoke is contagious, but quitting apparently is, too. A team of researchers who showed that obesity can spread person-to-person has found a similar pattern with smoking cessation: A smoker is more likely to kick the habit if a spouse, friend, co-worker or sibling did.


What's more, smokers tend to quit in groups and those who don't stop puffing increasingly find themselves pushed to the edge of their social circles, the researchers found.
"Your smoking behavior depends upon not just the smoking behavior of the people you know, but also the people who they know" and so on, said Dr. Nicholas Christakis, a medical sociologist at Harvard Medical School and lead author of the new report.
The findings back up previous studies showing that peer influence plays a key role in people's decision to stop lighting up and provide evidence that the "buddy system" used by smoking cessation, weight loss and alcoholism programs to change addictive behavior works.
"Anecdotally, we hear people say they quit smoking because their spouse or friend quit," said Jennifer Unger, a smoking prevention expert at the University of Southern California who had no role in the study. "If you influence a few people, those people might go on to help others to quit."


Last year, Christakis and his colleague James Fowler of the University of California, San Diego, published a study suggesting that obesity can spread among friends, much like an infectious disease. The duo mined data from a large social network of people who had been followed for three decades and found that when one person gained weight, close friends tended to pack on the pounds, too.
Their latest study, which appears in Thursday's New England Journal of Medicine and is funded by the National Institute on Aging, focused on people's smoking habits in the same social network.


The researchers examined the social lives of 12,067 people in the Framingham Heart Study, which has been tracking the health of residents of that Boston suburb from 1971 to 2003. They were able to reconstruct people's ties to one another since participants had to list contact information for their family, friends, co-workers and neighbors so researchers would not lose track of them over the years. The prevalence of smokers in the Framingham study over the years mirrored national trends.
Not surprisingly, the greatest influence was seen in close relationships. When a spouse stops smoking, the other partner is 67 percent less likely to smoke. Similarly, when a friend quits, the odds of the other continuing drops by 36 percent. The odds are similar among co-workers and siblings.


People who were connected to others by up to three degrees of separation were also influenced. If one person quits, the odds of a person two degrees apart stopping is 29 percent. In a three-degree separation, the chances are 11 percent.
"One person in the group gets the motivation to quit and it starts to cascade and ripple through the group," said Fowler.
Jill Palmer, 28, was a one-pack-a-day smoker until she checked into a cessation program last year at the University of Wisconsin, Madison where she works. She took nicotine gum and worked with a counselor to set a "quit date."


Several days after Palmer went smoke-free, her husband threw away his last pack.
"It was spurred by my timing. He didn't want to be a smoker anymore," said Palmer, who credits her nonsmoking co-workers with persuading her to enroll in the cessation program.
The researchers also found, by analyzing random samples of smoking clusters, that whole groups became nonsmokers over time. People who remained smokers found themselves moving to the fringe of their social circles.


Cigarette smoking kills about 400,000 people in the United States every year, according to the Centers for Disease Control and Prevention. About 45 million U.S. adults are smokers, though the prevalence has fallen dramatically since the 1960s.
Stanley Wasserman, an Indiana University statistician who studies social networks, noted that while the study was cleverly done, it does have its limitations.


Wasserman said it's hard to tease out whether social influence is mainly responsible for a whole group kicking the habit. Other factors such as public bans on smoking or studies highlighting the harmful effects of smoking may also play a role.
"You can't prove it with this data," he said. "You have to go to people and ask, 'Why did you stop smoking?'"

Rabu, 21 Mei 2008

Akhirnya, Manusia Bisa Terbang dengan Sayap



Hublot
Yves Rossy, mantan pilot militer Swiss, terbang menggunakan sayap bermesin jet buatannya di atas Pegunungan Alpen.




Hublot
Yvess Rossy yang dikenal dengan sebutan 'Fusion Man' terbang dengan sayap beremsin jet buatannya di atas Pegunungan Alpen.



Hublot
Yves Rossy (48) terbang dengan sayap segitiga yang dilengkapi empat mesin jet di punggungnya.



Minggu, 18 Mei 2008 | 17:45 WIB

JAKARTA, MINGGU - Mimpi manusia untuk terbang bebas seperti burung dengan mengepakkan dua sayapnya mungkin belum terwujud. Namun, terbang dengan sayap menempel di punggung, setidaknya, sudah dapat dilakukan.

Untuk pertama kalinya, Yves Rossy, seorang mantan pilot pesawat terbang dari Swiss, mendemonstrasikan terbang dengan sayap segitiga bermesin jet buatannya. Pria berusia 48 tahun yang mendapat sebuta "Fusion Man" itu melompat dari pesawat dengan sayap segitiga selebar 2,5 meter di punggungnya dan terbang melayang di atas Pegunungan Alpen.

Begitu jatuh bebas dari pesawat yang membawanya, ia langsung mengaktifkan empat mesin jet yang ada di bagian belakang sayapnya. Dalam sejak sejak diaktifkan, dorongan jet membuatnya dapat terbang hingga kecepatan 300 kilometer perjam.

Rossy sempat melakukan manuver, meliuk-liuk, terbang menukik, hingga melakukan putaran 360 derajat pada ketinggian 2300 meter. Setelah lima menit menjajal sayap buatanya di udara, ia mematikan mesinnya dan turun dengan parasit.

"Saya belum mencoba semuanya," ujarnya usai turun di sebuah landasan pesawat dekat Danau Jenewa, Rabu (14/5) lalu. Sayapnya baru akan dieksplorasi semua kemampuannya oleh seorang stunt man dan disiarkan langsung dalam sebuah acara televisi.

Namun, Rossy juga telah merencanakan untuk mencoba kembali alat buatannya untuk melintasi Selat Inggris tahun ini. Bahkan ia berharap suatu saat dapat terbang di atas Grand Canyon dengan sayap lebih lebar dan mesin jet lebih besar.

Untuk membuat alat tersebut, Rossy menghabiskan dana 285.000 dollar AS yang disponsori perusahaan jam tangan Swiss Hublot. Sementara untuk baju yang dipakainya tidak perlu didesain khsusu karena seperti baju tahan api yang biasa dipakai petugas pemadam kebakaran.

Sampai saat ini, Rossy belum berencana menjual alat buatannya ke pasaran, namun ia yakin alat serupa akan banyak dikembangkan untuk memberikan pengalaman terbang lebih menyenangkan terutama bari pecinta olahraga parasit.

WAH
Sumber : AP

Burung Bisa Melihat Medan Magnet Bumi


China Photos
Retina mata burung migran mengandung protein yang peka terhadap cahaya dan medan magnet.



Kamis, 1 Mei 2008 | 22:26 WIB

JAKARTA, KAMIS - Perdebatan panjang selama empat dekade mengenai kemampuan burung mendeteksi medan magnet Bumi mulai terkuak sedikit demi sedikit. Para ilmuwan telah membuktikan rahasianya pada kedua mata burung yang selama ini dicari-cari.

Penjelasan tentang kemampuan burung mendeteksi medan magnet memicu perdebatan saat Klaus Schulten dari Universitas Illinois, AS mengungkapkan pendapatnya bahwa burung-burung migran pasti memiliki molekul-molekul di mata atau otak yang peka terhadap medan magnetik Bumi. Teori ini sudah dipelajari sekitar empat puluh tahunan, namun tak satu pun ilmuwan yang berhasil membuktikan adanya molekul tersebut.

Seperti dilansir jurnal ilmiah Nature, baru-baru ini para peneliti berhasil menemukan bahwa molekul tersebut mungkin cryptochrome. Henrik Mouritsen dari Universitas Oldenburg, Jerman menemukan bahwa protein tersebut terkandung dalam retina burung migran. Sel-sel protein juga diketahui aktif setiap petang menjelang saat burung tersebut tidak dapat mengandalkan cahaya untuk melihat benda-benda di sekitarnya.

Selama ini, cryptochrome banyak diketahui sebagai jenis protein yang sensitif terhadap cahaya. Protein ini diketahui berperan dalam mengatur jam biologi, seperti pengaturan tahap pertumbuhan pada tanaman dan waktu kawin.

Membuat tiruan bahkan menemukan protein cryptochrome tergolong sulit. Jadi, untuk mempelajarinya, digunakan senyawa yang memiliki sifat mirip yakni CPF (carrotenoid-porphyrin-fullerene). Jika diberi medan magnet, meskipun sangat kecil, senyawa ini bereaksi dengan melepaskan dua jenis radikal bebas.

Kolega Mouritsen, Peter Hore dari Universitas Oxford dapat mengatur konsentrasi radikal bebas sesuai medan magnet yang dipaparkan. Ia berpendapat, cryptochrome pada burung mungkin diaktifkan cahaya biru yang muncul saat senja dan mulai bekerja dengan mekanisme pelepasan radikal bebas tersebut untuk melihat medan magnet Bumi.

Namun, bagaimana burung mendeteksi medan magnet Bumi masih menjadi bahan perdebatan baru. Mouritsen yakin mata burung memiliki lapisan penglihatan ganda. Saat protein diaktifkan, layar visual akan berubah menjadi semacam panel radar yang akan melihat garis-garis medan magnet Bumi seperti pada pesawat.


WAH
Sumber : NewScientist