Kamis, 05 Juni 2008

Malaysia Cabut Larangan Penjualan BBM ke Warga Asing


Antara


Penulis : Tjahyo Utomo

Malaysia mencabut larangan penjualan bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kepada warga negara asing yang bermukim di Malaysia.

Pencabutan larangan ini menyusul keputusan menaikkan harga BBM di dalam negeri Malaysia ini akibat ketidakmampuan menahan tekanan tingginya harga minyak dunia, demikian dikatakan juru bicara Menteri Perdagangan Dalam Negeri seperti dikutip Reuters, Kamis (5/6)

Sebelumnya, Malaysia melarang penjualan BBM di SPBU yang berbatasan dengan negara tetangga, Singapura dan Thailand, kepada mobil-mobil yang dimiliki warga negara tetangga. Langkah ini untuk menekan penyimpangan sasaran subsidi BBM kepada warga negara Malaysia.

Pemilik kendaraan warga Thailand dan Singapura seringkali menyebrang batas negara untuk membeli BBM dengan harga subsidi di SPBU Malaysia.

Pemerintah Malaysia sendiri akhirnya mengumumkan kenaikan harga premium sebesar 78 sen atau 40,6 persen menjadi 2,7 ringgit (Rp7.800) per liter dan harga solar satu ringgit (Rp2.900) atau naik 63,2 persen menjadi 2,58 ringgit (Rp7.500) per liter. (OL-2)

Charging Ahead

A smart power strip delivers just the right amount of juice

By Dan Fost
Posted 06.04.2008 at 6:21 pm


Greenplug: Photo by Greg Neumaier


A new type of charger called the Green Plug aims to replace the pile of power bricks under your desk with a hub that powers multiple devices at once, but only when they need it. The idea behind the system, due out early next year, is that software in gadgets would let them tell the hub exactly how much power they need. When its battery is full, the device tells the Green Plug to cut the juice. Current chargers keep drawing a small amount of power as long as they’re plugged into an outlet. (This overcharging also reduces battery life.) The company estimates that large homes could save up to $30 a year by replacing their standard chargers with smart hubs.

The Green Plug uses the USB ports common on small gadgets such as MP3 players. For bigger items, like laptops, it has proposed a modified USB connection with extra wires that delivers more power. The company says it has signed on manufacturers that, early next year, will sell gadgets such as monitors and digital picture frames with traditional chargers and the Green Plug software. A five-port charging hub will sell for about $100, with possible rebates from utilities.

Guru Bisa Ikut Dalam "Citizen Journalism"


PEMIMPIN Umum "Pikiran Rakyat", H. Syafik Umar (kiri) menerima cendera mata dari Ketua STKIP Pasundan V, Drs. H. Eddy Komarudin, M.M. (kedua kiri) disaksikan Moderator Rony M. Rizal, S.T., M.M (kanan) dan Ketua Panitia Suhada (kedua kanan) seusai memberikan materi " Pelatihan Jurnalistik Pendidikan untuk Tenaga Pendidik" pada acara Diklat Guru tingkat Internasional 2008 di Gedung PP- PNFI Depdiknas RI Jayagiri Lembang, Rabu (4/6).*DIDIN SJ/SEKPER "PR"




BANDUNG, (PR).-
Saat ini terjadi kecenderungan turunnya minat baca di masyarakat, terutama di kalangan siswa. Hal ini berkaitan dengan semakin gencarnya media elektronik menyiarkan program hiburan. Guru sebagai tenaga pendidik memiliki kewajiban untuk menggelorakan minat baca sebagai modal dasar siswa berpikir kritis dan kreatif.

Demikian disampaikan Pemimpin Umum Pikiran Rakyat H. Syafik Umar dalam Diklat Manajamen Guru Internasional 2008 (Indonesia-Malaysia) yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan Cimahi. Syafik hadir sebagai pembicara dengan materi "Penelitian dan Pendidikan Jurnalistik Guru Dalam Membangun Karakter Image dan Profesionalisme Tenaga Pendidik" di Gedung PP-PNFI Depdiknas RI, Lembang, Kab. Bandung Barat, Rabu (4/6).

Syafik menjelaskan, saat ini masyarakat mulai mengenal istilah citizen journalism. Berkembangnya teknologi informasi menyebabkan setiap individu bisa berpartisipasi aktif untuk membuat dan menyebarkan informasi. "Guru sebagai tenaga pendidik memiliki andil untuk mengembangkan citizen journalism. Caranya dengan meningkatkan minat baca siswa didiknya, tak hanya membaca koran, majalah, dan buku, tetapi bisa juga dengan mencari informasi melalui internet," tutur Syafik.

Menurut dia, Pikiran Rakyat sebagai harian umum masyarakat Jabar akan selalu konsisten sebagai media yang mendukung terselenggaranya kegiatan pendidikan yang memajukan bangsa. "Pikiran Rakyat memiliki suplemen dan kolom artikel yang mendukung majunya pendidikan di Indonesia. Sebut saja suplemen Percil, Belia, Kampus, Cakrawala, dan kolom artikel Forum Guru," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Diklat Manajamen Guru Internasional 2008 (Indonesia-Malaysia) Suhada mengatakan, tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi keinginan para guru yang ingin diberi pelatihan mengenai kemampuan manajerial. Hal ini berkaitan dengan program sertifikasi yang diwajibkan untuk guru.

Menurut Suhada, pemberian materi mengenai dunia jurnalistik adalah karena di dalam sertifikasi guru ada syarat guru memiliki kemampuan yang kerangkanya tak jauh dari dunia jurnalistik. "Mereka (guru) dituntut untuk bisa membuat makalah dan penelitian ilmiah beserta laporannya. Hal ini kan tidak jauh dari dunia jurnalistik, yaitu tulis-menulis dan membuat laporan," ujar Suhada. (CA-187)***

Georges Claude (1870-1960), Penemu Lampu Neon

Sejarah perkembangan lampu listrik sudah dimulai sejak berabad-abad lampau, ketika kebutuhan manusia akan penerangan pada malam hari muncul. Penemuan lampu pijar oleh penemu serba bisa Thomas Alva Edison, menjawab persoalan itu. Berkat temuannya ini manusia di dunia bisa menikmati cahaya pada malam hari. Penemuan brilian Edison ini kemudian diadaptasi oleh seorang insinyur dan ahli kimia, Georges Claude. Pada 1902, Pria kebangsaan Prancis ini menemukan sinar cahaya melalui lampu neon untuk keperluan periklanan. Berkat usahanya, seluruh dunia mulai mengenal neon (TL/ tube lamp) hingga saat ini.

Georges Claude, lahir 4 September 1870, di kota Paris. Ia tumbuh dan dewasa di kota kelahirannya. Dalam menjalani pendidikan di universitas, ia sangat memuja ahli fisika Perancis Jaques de Arsonval yang mengemukakan konsep konversi energi panas laut, atau KEPL (ocean thermal energy conversion/OTEC) sebagai salah satu penggunaan dari siklus Rankine. Setelah lulus kuliah, Claude melanjutkan karier intelektualnya dengan bekerja membuat tabung oksigen untuk keperluan rumah sakit.

Pada 1902, insinyur dan ahli kimia ini berusaha mengembangkan aliran listrik ke dalam tabung gas neon. Usahanya pun berbuah manis. Ia berhasil membuat lampu neon (neon berasal dari bahasa Yunani neos, yang berarti gas baru), berwarna merah. Merasa tertarik ia lalu menambah jumlah tabung dan mengisinya dengan neon. Segera setelah itu ia mendapatkan untuk pertama kalinya tabung neon yang sesungguhnya.

Sebagian besar literatur menyebutkan, lampu neon ciptaan Georges Claude, memiliki sebuah tabung kaca tertutup yang mengandung sangat sedikit udara, sedikit air raksa, bubuk putih fosfor, dan dua elektroda (katoda dan anoda) pada setiap ujung tabung. Selain itu terdapat transformer yang mengatur aliran listrik ke tabung. Begitu saklar dihidupkan transformer mengaliri listrik ke dalam tabung. Aliran listrik tersebut meloncat (arc) dari katoda ke anoda sehingga menguapkan air raksa menjadi ion. Gas air raksa mengeluarkan sinar ultraviolet yang tidak tampak yang membentur bubuk putih fosfor sehingga menghasilkan cahaya yang memancar.

Namun penemuan lampu neon belum sempurna. Sinar tabung-tabung merah itu tak seperti sumber cahaya lainnya yang berguna untuk keperluan umum sehari-hari, seperti menerangi rumah atau jalan tangga, akibatnya lampu neon menjadi lembap. Pada waktu itu, para ilmuwan dan saintis menyebutkan, kelemahan lampu neon pada waktu itu diakibatkan neon tak bisa di kompilasikan dengan elemen lain pada tabung lainnya, artinya gas baru tak membutuhkan katup gas.

Meski demikian, Claude tidak menyerah dan berusaha untuk menyempurnakan temuannya ini. Setelah melakukan penelitian, lampu neon yang memancarkan warna merah ini menarik perhatian dan kemampuannya bertahan di tengah siraman hujan dan kabut. Alhasil, temuan yang spektakuler ini cukup efektif digunakan untuk iklan dan reklame. Hasil temuannya ini, ia publikasikan di Paris pada 1910. Atas bantuan kawannya, ia memperkenalkan lampu buatannya itu ke Amerika. Agar temuannya tidak ditiru orang. Claude mematenkan lampu neon di Amerika Serikat. Semenjak itu ia mulai dikenal sebagai seorang jenius yang berhasil menemukan lampu neon yang merupakan pelopor lampu pijar untuk keperluan periklanan

Pada 1915, untuk pertama kalinya lampu neon dijual kepada khalayak umum. Seorang Pengusaha Earle C. Anthony, membeli lampu neon seharga U$ 24 ribu. Lampu itu, ia gunakan untuk menerangi papan reklame perusahaan penjualan mobil miliknya di Los Angeles. Pertama kali lampu neon Claude hanya berwarna biru dan merah. Bisa dikatakan sejak saat itu hingga kini lampu bikinan Claude kerap dipakai untuk menerangi papan reklame seperti kasino, hotel, swalayan, maupun lampu lalu lintas dan keperluan lainnya.

Claude lalu mengembangkan teknologi neon buatannya itu. Ia menemukan elektroda-elektroda nonreaktif yang cukup untuk menangani gempuran ion tanpa membuatnya panas. Temuan itu membuka cakrawala bagi perawatan tabung-tabung neon sehingga menjadi awet digunakan.

Di puncak kariernya, George Claude sempat membuat pusat listrik tenaga KEPL di Teluk Matanzas dekat Kuba, tahun 1930. Pusat tenaga listrik ini dengan daya 22 KW hanya dapat bekerja selama dua minggu karena dihancurkan oleh angin topan sehingga pipa untuk masukan airnya rusak total. Proyek itu kemudian dihentikan. Lima tahun kemudian, Claude membangun pembangkit lain. Kali ini di pantai Brazil, namun projek tersebut mengalami nasib yang sama hancur oleh cuaca dan ombak.

Hampir sepenuh masa hidupnya, George Claude dengan penemuannya mengabdi pada dunia. Ia meninggal pada 23 Mei 1960, saat berusia 90 tahun. Jasadnya boleh dikuburkan. Namun pemikiran dan penemuannya tidak habis dimakan zaman.***

Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.

Awas, Denda Laptop Rp 9,5 Juta



JAKARTA, SELASA - Peringatan bagi para penumpang pesawat yang akan bepergian dari dan ke Jakarta yang membawa komputer jinjing atau laptop atau notebook. Jangan sekali-kali membawa laptop dengan perangkat lunak (software) ilegal, karena pihak aparat siap melakukan razia dengan denda Rp 9,5 juta, yang mungkin lebih besar dari harga laptop.

Alexius, seorang manajer pada perusahaan swasta nasional yang sering bepergian ke luar kota kepada PersdaNetwork mengatakan, razia itu dia alami sepekan lalu, Kamis (29/5) di bandara Soekarno Hatta.

"Kepada mereka yang komputernya terinstalasi software-software tidak berlisensi, komputernya ditahan dan harus ditebus di polres khusus Bandara. Selanjutnya dilakukan sidang di tempat dan dikenakan denda sebesar Rp 9.500.000 per komputer," katanya di Jakarta, Kamis (4/6).

Info yang didapat, pemeriksaan komputer ini telah dilakukan selama seminggu oleh aparat kepolisian beserta Tim Perlindungan hak cipta atau Hak atas Kekayaan intelektual (HaKI) Departemen Hukum dan HAM beserta kepolisian di bandara, cafe-cafe dan tempat umum lainnya.

Kepala Administratur Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Herry Bhakti membenarkan adanya razia laptop di bandara. Razia tidak ada kaitannya dengan keluar masuknya laptop ilegal. Pemeriksaan laptop terkait dengan keamanan bandara, misalnya terkait dengan aksi terorisme di bandara dan pesawat.

"Kita hanya memeriksa apakah laptop itu mengandung bahan peledak atau bisa menjadi pemicu ledakan, bukan legal tidaknya produsen laptop tersebut," kata Herry kepada PersdaNetwork di Jakarta, Rabu (4/6).

Mengenai razia komputer dan software ilegal itu bukan dilakukan pihak otoritas bandara. Pihak berwenang melakukan razia laptop ilegal adalah pihak kantor HaKI Departemen Hukum dan HAM. Herry memperkirakan kemungkinan razia tersebut dilakukan oleh pihak HaKI dengan kepolisian setempat. Akan tetapi razia tidak dilakukan di dalam terminal bandara saat penumpang akan keluar masuk.

"Kalau razianya dilakukan di luar terminal, pada saat penumpang mau masuk ya itu mungkin saja. Tetapi itu sama sekali tidak diketahui oleh pihak bandara," tegas Herry. (PersdaNetwork/Hendra Gunawan)

Sumber : Persda Network

Japanese Brewery Introduces "Space Beer"

Sapporo plans to launch a beer brewed with barley grown at the ISS

By Jaya Jiwatram
Posted 05.30.2008 at 1:01 pm


An Okayama University student holds a bunch of ISS-grown "space barley" : Photo by Courtesy AFP


Taking beer-making to a whole new sphere, Japan's famous Sapporo Holdings Ltd. plans to launch a beer in November that's literally from out of this world. The brewery will collaborate with scientists at the Okayama University in Japan to concoct this unearthly beverage from a third generation of barley grains that spent five months on the International Space Station in 2006.

Does the barley taste any different? Apparently, no. In fact, scientists have not found a difference in the genetic make-up of the earth-grown and space-grown barley yet, according to Manabu Sugimoto, an Okayama University biologist who has been part of a Russian project to investigate growth methods for edible plants in space.

Bar crawlers will have to wait to get their hands on this enticing beverage, though. The company only has enough barley to make 100 bottles of beer this fall and they will not be sold commercially. It may be a while before the Sapporo brew hits taps, but when that day comes, one can only hope there are space nuts to go with it.

Komputer Pembaca Pikiran Manusia

Membaca pikiran orang konon dapat dilakukan oleh para paranormal, tetapi kini para peneliti di Carnegie Mellon University di Pittsburgh dapat melakukannya dengan bantuan komputer. Komputer dapat membaca pikiran seseorang dengan menganalisis aktivitas otaknya. Cukup dengan memikirkan satu kata sederhana, komputer tersebut akan membaca pola-pola yang terbentuk di pikiran dan menebak apa yang kita pikirkan. Para peneliti mengharapkan dalam waktu dekat mesin ini juga akan mampu memahami ratusan pikiran yang lebih rumit, yang ada dalam pikiran manusia. Para peneliti ini "mengajarkan" kepada komputer untuk memahami pola yang terbentuk di otak saat memikirkan 60 kata benda yang berhubungan dengan indra, seperti penglihatan, peraba, perasa, dan penciuman. Menurut teori, otak akan menampilkan gambaran kata benda yang dimaksud sesuai dengan apa yang dirasakan atau dipikirkan manusia tentang benda itu. Sementara ketika diuji coba, komputer tersebut dapat secara akurat menebak pikiran sembilan orang yang menjadi sukarelawan. Komputer ini berhasil menebak pola-pola yang terbentuk dalam otak saat seseorang memikirkan suatu kata benda. "Kami yakin telah berhasil mengidentifikasi sejumlah struktur otak yang digunakan untuk menampilkan suatu makna," ujar Tom Mitchell, ahli komputer yang terlibat dalam penelitian ini. Teknologi ini memberi gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana manusia berpikir. Diharapkan, teknologi ini akan dapat terus disempurnakan sehingga nantinya dapat digunakan untuk meneliti penderita autisme atau schizophrenia. (Telegraph/sri) ***