Rabu, 10 April 2013

Virus H7N9 di Cina Sudah Renggut Sembilan Nyawa

Rabu, 10 April 2013, 12:17 WIB


Para dokter dan perawat menghadiri pelatihan perawatan terhadap infeksi virus H7N9 di sebuah rumah sakit di Hangzhou, Provinsi Zheijiang, 5 April 2013, di mana seorang pasien di rawat di sana.  


REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- Korban meninggal akibat flu burung jenis baru di Cina naik menjadi sembilan orang, kata media pemerintah yang juga mengutip pernyataan pihak berwenang Cina yang mengatakan vaksin untuk virus tersebut mesti tersedia dalam beberapa bulan ini.

Korban terakhir adalah seorang warga dari provinsi Anhui, lapor kantor berita Xinhua.

Virus H7N9, yang dipastikan menyerang manusia untuk pertama kali bulan lalu, sejauh ini sudah menulari 28 orang, seluruhnya di Cina timur, dan sembilan di antara mereka meninggal, demikian data dari Komisi Nasional Kesehatan dan Keluarga Berencana Cina yang disiarkan Xinhua.

Tambahan korban termasuk empat orang yang tertular, yaitu dua di Shanghai dan dua lagi di Provinsi Zhejiang dan salah satunya dalam keadaan kritis, tulis Xinhua.

Menurut Jurnal Keamanan Cina pada Rabu, vaksin untuk virus N7H9 sedang ditangani oleh Badan Pangan dan Obat-Obatan Cina, diharapkan pada paruh pertama tahun ini sudah bisa beredar di pasar.

Sumber utama penularan belum terungkap, meskipun hasil pemeriksaan contoh yang diambil dari sejumlah unggas di pasar positif menunjukkan keberadaan virus tersebut, dan hal itu tetap menjadi pusat perhatian untuk penyelidikan oleh pemerintah China dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Redaktur : Yudha Manggala P Putra
Sumber : Antara

Masalah Perubahan Iklim di Indonesia dan Solusi Antar-generas

Perubahan Iklim


Jumat, 5 April 2013 | 19:26 WIB


Oleh Agus Supangat
Beberapa kajian dan proyeksi iklim dari lembaga dalam maupun luar negeri menunjukkan bahwa iklim di Indonesia telah mengalami perubahan, meskipun analisis ilmiah maupun data-datanya masih terbatas. Dari beberapa kajian tersebut tampak bahwa perubahan iklim memberi dampak terhadap multisektor.

Proyeksi iklim selalu mengandung ketidakpastian. Mengapa? Karena tantangan terbesar adalah melakukan kuantifikasi terhadap ketidakpastian tersebut untuk meningkatkan daya gunanya dalam mengambil keputusan.

Dalam hal proyeksi iklim berdasarkan Global Climate Model (GCM), setidaknya terdapat tiga sumber ketidakpastian yang harus diperhitungkan, yaitu skenario emisi gas rumah kaca, sensitivitas iklim global terhadap emisi gas rumah kaca (pemilihan model GCM), dan respon sistem iklim regional terhadap pemanasan global (model downscalling).

Catatan geologi dan crhyospheric perubahan iklim serta hasil observasi baru-baru ini menunjukkan bahwa sistem iklim berubah pada semua skala waktu dari beberapa tahun ke usia Bumi. Semua proses fisika, kimiawi, dan biologis mempengaruhi sistem iklim pada skala waktu puluhan, ratusan, dan ribuan tahun.

Sebagai contoh, gletser di puncak Jaya Wijaya berfluktuasi pada skala waktu dari tahunan sampai ratusan bahkan ribuan tahun. Sejak revolusi industri, gas karbondioksida dipancarkan melalui pembakaran bahan bakar fosil dan akan diserap, didaur ulang, kemudian bergerak di antara atmosfer laut serta biosfer selama puluhan sampai ribuan tahun.

Hal paling penting dalam sains kebumian adalah data dari hasil pengamatan yang memadai. Tanpanya, prediksi tak akan terlalu banyak manfaat untuk mengambil keputusan. Penyempurnaan perlu terus dilakukan untuk mengatasi keterbatasan data maupun metodologi kajian perubahan iklim di Indonesia sehingga mampu memenuhi nasional akan kebutuhan informasi soal perubahan iklim yang lebih akurat.

Pengembangan dan perbaikan model sebagai alat, tidak banyak gunanya tanpa data. Jika kita tak mulai bergerak mulai hari ini, data pengamatan akan hilang selamanya. Kesulitan besar bagi para ilmuwan adalah mencoba memahami dan memprediksi sistem iklim dengan durasi terbatas ditambah data pengamatan yang sangat tidak memadai dibandingkan usia Bumi.

Sebagai gambaran, termometer baru ditemukan awal abad ke-17. Pengamatan atmosfer dengan cakupan global baru dilakukan akhir perang dunia kedua. Bahkan pengamatan laut skala global baru dimulai awal 1990-an. Terlebih lagi data bahang untuk gletser Greenland dan Antartika yang baru digarap awal abad 21. Data paleo memberikan catatan beberapa variabel (misalnya konsentrasi rata-rata karbondioksida global dari inti es) tetapi masih kasar dengan presisi terbatas untuk skala ruang dan waktu tertentu.

Gelombang permukaan laut memiliki periode dominan kurang dari satu detik. Gagasan untuk memahami fenomena seperti demikian merupakan gagasan tidak masuk akal. Para ilmuwan mencoba memahami sistem iklim namun harus berhadapan dengan masalah sulit untuk memahami fenomena fisik yang melebihi skala waktu dan rentang kehidupan manusia. Siapa yang mengklaim dapat memahami dampak gangguan besar terhadap sistem iklim berdasarkan data 10 tahun?

Memahami perubahan iklim akhirnya merupakan masalah bagi beberapa generasi. Sebuah generasi ilmuwan harus berkarya untuk kebutuhan generasi penerus, tidak berfokus hanya pada produktivitas ilmiah sesaat. Model iklim saat ini mungkin akan terbukti dalam 100 tahun mendatang. Dengan sampel cukup, kalibrasi secara hati-hati, pengendalian kualitas, dan data arsip untuk elemen kunci sistem iklim maka suatu model iklim akan sangat berguna. Masalah antar-generasi ini dihadapi pemerintah atau presiden dari partai apapun.

Prakiraan cuaca dan layanan cuaca nasional sering dianalogikan dengan masalah iklim. Tapi pengamatan dengan durasi lama memerlukan pendekatan yang sangat berbeda dibandingkan keperluan jangka pendek, seperti dalam prediksi cuaca.

Penggunaan data cuaca sebagai catatan iklim telah banyak dilakukan namun kalibrasi yang tidak memadai membuat dokumentasi menjadi amat lemah. Selain itu, terjadi kesenjangan temporal dan perubahan teknologi yang tidak terdokumentasi atau bahkan kurang dipahami. Pada akhirnya, penggunaan data tersebut terbukti meragukan dan tidak berguna.

Penggunaan sensor kelembaban pada radiosonde adalah contoh kasus perubahan teknologi dan kompromi perbedaan serius antar negara dalam menggunakan data cuaca untuk studi iklim (Thompson dkk.) sekaligus menunjukkan betapa sulitnya interpretasi data yang tampak sederhana untuk kemudian ditetapkan sebagai suhu permukaan laut.

Instansi pemerintah saat ini sudah dapat memberikan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan mendesak dari masyarakat, misalnya dalam meramalkan gelombang badai.
Namun pemerintah belum melakukannya dengan baik dalam pengamatan jangka panjang.

Merancang, memelihara, dan mengatasi evolusi teknis pengamatan iklim adalah persoalan sulit yang butuh wawasan mendalam terhadap sifat masalah, teknologi, serta potensi yang tersedia. Ini tidak dapat dilakukan melalui kebijaksanaan sistem anggaran tahun ke tahun.

Yang dibutuhkan adalah paradigma kebijakan yang masih asing bagi sistem anggaran pemerintahan konvensional dengan jangkauan sampai puluhan tahun dan seterusnya. Ketidaksinkronan anggaran tahunan membuat semua program berisiko. Contohnya yaitu pembangunan sistem pengamatan iklim yang dimulai dengan administrasi namun berakhir dengan persoalan politik sehingga fatal akibatnya.

Menggambarkan dan memahami variabilitas puluhan tahun di laut bukan perkara mudah. Perlu kajian ilmiah yang jujur mengakui perlunya catatan jauh lebih lama daripada observasi yang tersedia sekarang. Ilmuwan muda tertarik pada fenomena tersebut namun tidak dapat melakukannya dalam jangka panjang. Jika masyarakat tidak menemukan cara untuk mendukung karir ilmiah yang diarahkan pada masalah tersebut, kita tak akan pernah memahami masalah mendasar yang penting ini.

Apa yang harus dilakukan?
Beberapa contoh yang relatif berumur panjang yaitu lembaga yang terfokus seperti universitas. Meskipun kesinambungan intelektualnya dapat diperdebatkan, universitas-universitas menunjukkan kemungkinan penciptaan infrastruktur dan perangkat penelitian iklim yang berguna antar-generasi.

Pendekatan yang mungkin dilakukan membutuhkan dedikasi sektor swasta atau pribadi dengan mempertahankan para ilmuwan terbaik yang bersedia mencurahkan sebagian waktu mereka untuk mengawasi aliran data bagi para ilmuwan generasi masa depan.

Cara lainnya adalah mempertahankan organisasi yang memiliki kompetensi ilmiah dan teknis selama puluhan hingga ratusan tahun. Sektor publik, swasta, nasional, dan lembaga mitra internasional memerlukan langkah ini untuk mengatasi kebijakan anggaran tahunan yang konvensional sehingga lebih akurat, menyajikan manajemen perkembangan teknologi yang jauh lebih baik, dan memperdalam pemahaman sehingga terhindar dari ketertinggalan dan penurunan kualitas.

Tanpa menggarisbawahi perubahan iklim sebagai masalah antar-generasi, proyeksi iklim dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim akan tetap kurang sempurna dan jauh dari kata memadai dalam menghadapi tantangan yang membentang di depan mata.

Dr Agus Supangat bertugas di Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim sebagai Koordinator Divisi Peningkatan Kapasitas Penelitian dan Pengembangan

Editor : Nasru Alam Aziz
 

Dana Penanganan Banjir di Jawa Barat Mencapai Rp 5 Triliun

Selasa, 12 Maret 2013, 18:36 WIB

Banjir melanda Bandung


REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Untuk menangani banjir tahunan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta, Jawa barat  dan sekitarnya, Pemprov Jabar mengusulkan dana Rp 5 triliun ke pemerintah pusat. Menurut Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, usulan proposal anggaran tersebut akan digunakan untuk kebutuhan struktur dan non struktur. ''Anggaran Rp 5 triliun itu akan digunakan untuk perbaikan sungai dari mulai Situ Cisanti sampai Saguling. Kebutuhan strukturnya dan non struktur,'' ujar Heryawan, Senin (11/3).

Heryawan mengatakan, kebutuhan pembangunan infrastruktur sudah mulai dilakukan. Contohnya, di Bojong Soang sudah diperbaiki. Sekarang, tinggal kawasan hulu harus ditanggulangi dengan baik.

Untuk kawasan hulu, kata dia, konservasi tidak dibatasi berapa banyak pohon yang bisa ditanam di lokasi tersebut. Asal, pemeliharaan pohonnya diperhatikan.

Heryawan mengatakan, dalam setiap kesempatan Pemprov Jabar selalu memberikan saran agar penanganan banjir di Jakarta dan sekitarnya tidak hanya dilakukan dari struktur saja. Namun, masalah non struktur harus jadi perhatian juga. ''Selama ini, urusan banjir anggarannya di APBN yang nyata hanya untuk urusan struktur. Misalnya, normalisasi sungai, pengerukan sungai, dan perbaikan tanggul,'' katanya.

Padahal, kata dia, kalau struktur sungai dilakukan pengerukan maka 3 tahun lagi tanpa ada konservasi di bagian hulu, sungai bisa penuh lumpur lagi. Pemprov Jabar, tidak pernah bosan mengingatkan masalah perbaikan non struktur ini pada semua pihak. ''Saya tidak bosan mengusulkan soal non struktur. Yang penting, semua pihak mengomentari dan tercatat kalau non struktur jadi bagian yang penting,'' katanya.

Dalam pertemuan terakhir soal banjir, kata dia, semua memiliki komitmen untuk memperhatikan masalah non struktur ini. Nanti, akan ada pembicaraan lagi dengan DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat.


Reporter : Arie Lukihardianti
Redaktur : M Irwan Ariefyanto

Peneliti Kembangkan Kamera Laser 3D



KAMERA bisa mendeteksi manekin namun tidak bekerja pada kulit manusia.*
 
 
EDINBURGH, (PRLM).- Tim peneliti dari Edinburgh, Skotlandia dilaporkan berhasil mengembangkan kamera yang mampu menampilkan citra gambar tiga dimensi dari jarak satu kilometer. Fisikawan dari Universitas Heriot-Watt di kota itu mengembangkan teknik penggunaan laser untuk memindai objek apa pun yang dibidik oleh kamera karya mereka.
Dengan riset yang lebih dalam mereka mengatakan dapat mengembangkan kamera yang mampu menampilkan citra gambar tiga dimensi dari jarak hingga 10 km.

Mereka mengatakan kamera yang mereka kembangkan bisa digunakan untuk memindai objek seperti kendaraan bermotor namun kamera ini tidak bisa mendeteksi kulit manusia.
Menurut para peneliti ini artinya orang harus melepas seluruh pakaian mereka jika ingin menghindari pemindaian kamera tersebut. Teknologi yang digunakan pada kamera ini, menurut para peneliti, sangat bermanfaat untuk mengikuti pergerakan batu atau pertumbuhan daun.

Kamera ini menurut para pengembangnya memiliki presisi yang cukup tinggi karena bisa merekam gambar dengan tingkat akurasi hingga satu milimeter.

Fisikawan yang terlibat dalam proyek ini mengatakan kamera ini bekerja dengan memantulkan tembakan laser ke obyek yang jauh dan dari situ kamera akan mengukur waktu sinar pantulan dari objek tadi kembali ke detektor yang ada pada kamera.
"Pendekatan kami memberikan kemudahan dalam pencitraan detail dari sebuah obyek biasa dan juga obyek kecil pada jarak jauh." kata salah satu peneliti di Heriot-Watt, Aongus McCarthy.

Dia mengatakan untuk saat ini perangkat yang mereka buat masih berbentuk besar dan kasar namun dalam kurun waktu kurang dari lima tahun alat yang jauh lebih ringan dan kecil akan bisa segera diproduksi.(bbc/A-147)***
 

Jumat, 05 April 2013

Teh Hitam Bantu Turunkan Tensi Darah

 Penulis : Lusia Kus Anna | Jumat, 5 April 2013 | 15:45 WIB
 
 
shutterstock
 
Kompas.com - Banyak cara untuk mengelola tensi darah agar tetap normal, baik melalui obat-obatan atau perubahan pola makan dan gaya hidup. Salah satu cara alami yang bisa dilakukan antara lain dengan rutin mengonsumsi teh hitam.

Variasi tekanan darah bisa menjadi indikasi serius adalah kesalahan dalam sistem kardiovaskular. Misalnya saja peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menjadi gejala awal stroke atau tekanan darah.

Sebuah artikel yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition mengklaim bahwa minum teh hitam cukup efektif untuk menurunkan variasi tekanan darah. Para ilmuwan yakin kandungan dalam teh hitam, bukan kafein, berdampak positif pada penurunan tensi.

Perbedaan antara teh hitam dan teh jenis lainnya adalah teh hitam lebih teroksidasi karena fermentasi daunnya lebih lama. Sebelumnya teh hitam juga diketahui mampu meningkatkan kewaspadaan, mencegah penyakit Parkinson, dan mengatasi pengerasan arteri.

Untuk mengetahui efek teh hitam terhadap tekanan darah, tim peneliti dari Australia melakukan eksperimen yang melibatkan 111 pria dan wanita yang menunjukan gejala pra-hipertensi. Para partisipan ditanyai kebiasaan minum teh perhari dan sudahkah memonitor tensi darah sampai 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan.

Hasil penelitian menunjukkan, minum tiga cangkir teh hitam setiap hari mampu menurunkan variasi tekanan darah sampai 10 persen. Efek minum teh hitam terlihat setelah satu hari dan terus berlanjut dalam enam bulan kebiasaan itu dilakukan.

Selain rajin minum teh hitam, para ahli menyarankan agar orang yang tensi darahnya mulai tinggi untuk rutin memeriksakan dirinya ke dokter. Menjaga pola makan dengan lebih banyak mengasup buah dan sayur, mengurangi stres, serta membatasi konsumsi alkohol dan garam, juga membantu menurunkan tekanan darah.


Stres Akibat Macet Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental






RLM - Terjebak dalam antrean atau kemacetan tak hanya sekadar mengganggu mood. Kejadianitu bisa menjadi gangguan kesehatan mental pada beberapa tahun kemudian. Demikian satu hasil penelitian.

Kejadian sehari-hari yang mengesalkan seperti menunggu dalam antrean atau kemacetan berpengaruh buruk bagi kesehatan mental, tak ubahnya mengonsumsi diet yang jelak atau gagal berolah raga.

Maka, belajar berkepala dingin saat menghadapi stres dari kehidupan modern sehari-hari adalah sangat mendasar seperti diet yang menyehatkan dan rutin berolah raga.

Susan Charles, professor psikologi dan perilaku sosial, mengadakan penelitian untuk mengetahui kejadian menjengkelkan sehari-hari akankah menjadi melemahkan semangat atau justru menguatkan tekad seseorang.

Dengan memakai data dari dua survei nasional, peneliti menemukan respons negatif dari stres sehari-hari seperti bertengkar dengan mitra, perseteruan di tempat kerja, mengantre layanan cukup lama, atau terjebak dalam kemacetan akan menjadi penyebab stres psikologis dan gangguan mood pada sepuluh tahun kemudian.

Berdasarkan temuan tersebut, Professor Charles yang menulis di jurnal ilmiah psikologi menyatakan, ‘Bagaimana kita mengatur emosi sehari-hari akan berpengaruh pada kesehataan mental keseluruhan." (A-88/dailymail)***

Reli Makan di Jalur Puncak

Jumat, 5 April 2013 | 15:18 WIB

 
KOMPAS/ANTONY LEE
Sarapan sambil melihat Sungai Ciliwung di Cimory Resto Riverside, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/3/2013).  



KABUT menyelimuti Rumah Makan Bumi Aki di Pacet, Cianjur, menjelang waktu makan siang, Rabu (27/3/2013). Hujan yang membasahi tanah membuat udara kian dingin. Dari dapur, aroma sate kambing yang sedang dibumbui di atas panggangan arang membuat perut kian keroncongan.

Pesanan sate kambing, gurami cobek, dan sup buntut spesial belum tersaji di meja. Kami coba menahan rasa lapar dengan menikmati suasana di sekeliling restoran. Di balik kabut, Gunung Gede yang perkasa bersembunyi menyisakan bayangan lanskap indah.

Rabu siang itu, Bumi Aki, rumah makan di tepi Jalan Raya Puncak, ramai pengunjung. Mereka makan dan bercakap-cakap dengan penuh semangat. Saat itulah, seorang laki-laki, sekitar 60 tahun, datang lalu memainkan seruling bambu sepanjang setengah meter. Dari seruling itu melantun nada-nada ”Jembatan Merah”, ”My Way”, bahkan lagu Mandarin romantis ”Yue Liang Dai”.

Seusai pria itu memainkan lagu keempat, makanan yang kami pesan tiba di meja. Tidak ada bau prengus dari kepulan asap sate kambing. Dagingnya lembut, rasanya gurih lagi sedap. Sup buntutnya istimewa, bumbunya terasa kuat, dagingnya lembut.

Gurami cobek tak kalah. Lumuran bumbunya membuat olahan ikan itu makin menggoda. Santapan itu jadi teman menikmati kesejukan udara yang cenderung dingin di Puncak.

Bumi Aki menjadi ”puncak” reli makan kami di jalur Puncak, siang itu. Restoran ini ibarat menjadi etape ketiga. Dua etape atau pemberhentian sebelumnya juga adalah tempat memanjakan lidah sekaligus mata. Reli menyusuri jalur Jakarta-Cisarua-Cianjur-Jakarta.

Susu segar

Sebenarnya sekitar pukul 08.00 merupakan perhentian pertama kami di jalur reli makan Puncak di Cimory Resto Riverside di Megamendung, Bogor. Lokasi ini pas untuk sarapan, sekaligus menjajal yogurt, dan susu murni. Menu andalan yang disarankan pramusaji ialah Spiral Kanzler Sausage dan Ring Kanzlers Sausage. Masakan bersosis itu memang layak dicoba.

Seperti namanya, spiral sosis berbentuk spiral, berbahan baku daging ayam, disajikan bersama salad, kentang goreng yang dipotong tebal-tebal, nachos atau potongan keripik, dan saus tomat. Sajian Ring Kanzlers Sausage agak berbeda. Diameter sosisnya lebih besar, berbahan baku daging sapi. Dua menu itu tidak terlalu mengenyangkan sehingga masih ada ruang untuk mengatur ”napas” dan rongga perut, salah satu tantangan reli makan.

Sesudah perut terisi dan lidah dimanja kelezatan rasa dan kesegaran minuman, luangkan waktu berjalan-jalan di trek di sisi Sungai Ciliwung. Dari balkon restoran, pengunjung disuguhi pemandangan pinggir kali berair jernih berbatu-batu besar menyembul dari dasar sungai.

Buat yang suka memotret atau dipotret, manfaatkanlah latar pagar besi, lentera, lantai trek dari papan, atau lanskap Sungai Ciliwung berpohon lebat nan tinggi. Jauh berbeda dengan suasana Ciliwung di Jakarta yang butek dan bau tidak sedap.

Dua jam menjelang makan siang, kami singgah di Perkebunan Teh Gunung Mas, Cisarua. Lalu lintas jalur Puncak lancar pada hari kerja sehingga perjalanan dari lokasi yang satu ke lokasi berikut berkisar 20-30 menit. Di sini mata dimanjakan oleh hijau hamparan pohon teh. Anda bisa meluangkan waktu memetik daun teh dan melihat pengolahannya.

Di kedai peristirahatan, kami menikmati teh hijau panas dengan perasan lemon segar pas untuk menghilangkan penat. Ah, masih ada ruang di perut untuk tahu kuning goreng dengan irisan cabai rawit hijau dan kecap sebagai sambalnya. Hmm..., selera makan mulai dibangkitkan sebelum makan ”besar” di Bumi Aki, sekitar 8 kilometer dari Gunung Mas menuju Cianjur.

Godaan pisang

Selepas makan siang di Bumi Aki, kami memutar kendaraan balik arah ke Bogor. Di Desa Tugu, Cisarua, kami singgah ke The Grand Hill Bistro. Di sinilah etape terakhir, lokasi untuk menikmati makanan penutup. Sudah ada jeda waktu sekitar satu jam sejak makan siang. Konon, kata orang, di tempat ini Anda bisa mendapatkan pemandangan terbaik di Puncak.

Dari kursi sofa dekat jendela, kami menikmati pemandangan lekuk Jalan Raya Puncak dan kebun di sepanjang area ini. Chocolate Lava, Banana Split (es krim vanili, stroberi, cokelat, dan potongan pisang), serta Grilled Banana (pisang panggang dengan taburan keju dan meses) layak dicoba.

Bersantailah menikmati makanan. Sempurnakan dengan minuman panas atau dingin. Teh, kopi, jus, silakan. Jangan lupa menyempatkan mampir ke pohon cemara bercabang dua di samping restoran yang dinamai ”Pohon Jodoh”.

Hari menjelang petang, saatnya kembali ke Ibu Kota mempersiapkan diri bekerja esok hari. Untuk makan empat orang di empat lokasi itu, biaya yang dikeluarkan Rp 725.000. Belum termasuk Rp 100.000-Rp 125.000 untuk tarif jalan tol dan bahan bakar minyak. (Anthony Lee/Ambrosius Harto Manumoyoso/Andy Riza Hidayat/*)
 
Sumber :Kompas Cetak
Editor :I Made Asdhiana